Saya menyimak apa yang menjadi obrolan teman saya dalam podcastMu di channel Youtube, antara Zaki Setiawan bersama Ibrahim Fatwa Wijaya dari MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) Kota Solo. Obrolan yang diangkat mengenai ekonomi Islam ini menarik perhatian saya. Saya sengaja untuk menuliskannya karena ada hal dalam konsep ekonomi Islam yang jarang mendapatkan ulasan dan perhatian. Bila hal ini mendapatkan perhatian serius, maka ekonomi Islam akan bangkit dan memiliki keunggulan kompetitif.
Hal tersebut diungkap oleh Ibrahim saat berbincang tema ekonomi syariah. Setiap kelompok masyarakat pasti memiliki impian besar yaitu mencapai kesejahteraan atau kemakmuran. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut menerjemahkan arti kemakmuran berbeda-beda. Masyarakat Islam dalam menerjemahkan kemakmuran tidak terbatas pada harta duniawi semata, namun ada aspek-aspek seperti harmonisasi hidup, kepedulian pada sesama dan lingkungan, keadilan dan kebahagiaan lahir batin yang menjadi makna kemakmuran atau kesejahteraan.
Sebagai gambaran untuk mendalami kemakmuran dalam masyarakat Islam, Ibrahim menyampaikan, masyarakat Islam memiliki syariah yang mengatur segala aspek kehidupan dalam mencapai kemakmuran serta memiliki petunjuk bagaimana mencapainya. Semisal dalam sebuah wilayah, semua masyarakat tidak ada yang di bawah garis kemiskinan. Akan tetapi pekerjaan masyarakat tersebut sebagian besar ada yang bandar judi online, ataupun hal yang dilarang agama maka ini tidak masuk dalam konsep kesejahteraan dalam Masyarakat Islam.
Ilmu Ekonomi Islam muncul karena sumber daya yang dimiliki terbatas untuk mencapai kemakmuran. Maka, muncullah ilmu ekonomi Islam yang menuntun masyarakat mencapai hidup makmur (kesejahteraan) sesuai petunjuk nilai-nilai Islam di tengah keterbatasan sumber daya. Ibrahim menegaskan, karakteristik ekonomi Islam itu mencakup pelarangan riba, zakat, dan moral value. Riba dilarang karena uang itu bukan komoditas, ungkapnya. Ibrahim menggarisbawahi tentang moral value. Ini sangat penting dalam membangun ekonomi Islam.
Pondasi Vital
Etika dan profesionalisme menjadi pondasi vital membangun ekonomi Islam. Setiap Masyarakat yang akan membuat keputusan ekonomi, apakah itu berdagang, berinvestasi, atau berproduksi maka libatkanlah moral value. Injeksi moral pada setiap aktivitas ekonomi akan berdampak pada keunggulan kompetitif. Mengapa? Ketika para pelaku ekonomi memiliki moral value yang baik, maka teori biaya transaksi akan menurun sehingga menyebabkan keunggulan kompetitif yang akan mendorong pada keunggulan ekonomi.
Di ujung pembicaraan, Ibrahim menekankan, moral value harus mendapat perhatian dan penekanan yang serius bila ingin membangun ekonomi Islam. Pendidikan harus menanamkan moral value agar generasi muda ke depan bila menjadi pelaku ekonomi, maka akan menjadi pelaku ekonomi yang membangun kesejahteraan yang luas bagi masyarakat. Sebab, dengan moral value yang kuat maka praktik kecurangan dalam berniaga, praktik menipu dalam berbisnis atau dalam investasi akan hilang dalam aktivitas ekonomi.
Sebagai kesimpulan dan penutup, Zaki yang memandu perbincangan itu mengatakan bahwa komitmen pada nilai agama akan berdampak pada tumbuhnya ekonomi Islam. Nilai moral kuat, akan memandu pada penyaluran energi positif sehingga setiap energi yang dikeluarkan akan digunakan untuk hal yang strategis. Dampaknya, keunggulan komparatif bisa terwujud. Demikian intisari perbincangan ekonomi islam yang dapat saya tangkap.
Semoga bermanfaat…
Penulis adalah aktivis di Tajdid Pendidikan Institute
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






