Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Metode si Gemar, Menjadi Pembelajar Mandiri yang Terarah

Muhammad Khairul Safa’at, Editor: Sholahuddin
Selasa, 23 Januari 2024 21:11 WIB
Metode si Gemar, Menjadi Pembelajar Mandiri yang Terarah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Muhammad Khairul Safa’at

Memilih metode pembelajaran penting dilakukan oleh guru, agar pembelajaran siswa mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, setiap metode pembelajaran pasti memiliki kekurangan. Tugas seorang guru mengurangi atau bahkan menutupi kekurangan tersebut. Salah satu caranya dengan menggabungkan dua metode pembelajaran sekaligus dalam satu waktu. Penulis ingin menuliskan hasil refleksi penggunaan dua metode pembelajaran dalam satu waktu, yakni metode guided note taking dan information search, yang penulis singkat dengan nama si Gemar.

Pernahkah pembaca mendengar guided note taking? Atau bisa diartikan catatan terbimbing. Metode yang diterapkan dengan cara membagikan kertas handout yang sudah diisi materi ajar yang belum lengkap, kemudian siswa menyimak penjelasan guru sembari melengkapinya. Kekurangan metode ini guru memerlukan banyak waktu, untuk membacakan materi dari awal sampai akhir. Kadang-kadang ada siswa yang tidak mampu menangkap informasi dengan cepat, akhirnya guru perlu mengulang-ulang membaca materi tersebut.

Kekurangan metode tersebut bisa ditutupi dengan metode information search, yakni mencari informasi mandiri dari sumber belajar sekitar, bisa buku cetak/media online. Berikut gambaran langkah-langkah metode si Gemar yang penulis lakukan pada pembelajaran fikih tema zakat di kelas X.

Pertama, mengenal peta konsep materi

Pada saat awal pembelajaran, siswa menyimak penjelasan peta konsep materi melalui slide power point. Hal ini bertujuan agar siswa punya gambaran keseluruhan pokok pembahasan materi secera runtut. Pemahaman materi yang runtut penting dilakukan agar metode guided note taking efektif dan berhasil diterapkan, jika tidak maka berimbas molornya waktu pembelajaran saat menerapkan metode tersebut dikarenakan siswa tidak memahami tujuan secara menyeluruh.

Kedua, eksplorasi materi

Setelah siswa memahami peta konsep materi, guru membagikan kertas handout materi yang belum lengkap. Handout dibuat berbentuk bagan tabel agar memudahkan siswa dalam menghafal sampai mengidentifikasi materi tentang zakat. Metode information search mulai digunakan saat siswa melengkapi bagan-bagan yang kosong tersebut. Siswa melengkapi bagan-bagan kosong secara mandiri dengan bantuan buku pegangan siswa mata Pelajaran fikih. Siswa melengkapi bagan satu persatu sampai akhir secara runtut. Diperbolehkan berdiskusi dengan teman sebangku dalam melengkapi bagan, sembari menumbuhkan keakraban dengan teman sebangku.

Ketiga, klarifikasi jawaban

Setelah semua bagan lengkap, guru memberi klarifikasi jawaban ke siswa dengan menunjukkan kunci jawaban handout yang benar. Pemberian kunci jawaban dengan mengunggah jawaban pada platform pembelajaran online milik sekolah. Siswa mengunduh kunci jawaban dan mencocokkan jawaban secara mandiri. Siswa juga dipersilakan bertanya kepada guru jika ada materi yang belum jelas atau belum dapat dipahami. Handout materi yang sudah lengkap isinya, bisa disimpan siswa sekaligus menjadi rangkuman catatan. Guru juga mengambil nilai untuk siswa dari pengerjaan handout tersebut.

Demikian catatan metode pembelajaran yang saya singkat si Gemar. Metode ini mendorong siswa aktif mencari informasi dengan bimbingan dari guru. Catatan terbimbing membantu penguatan penanaman konsep bagi siswa sekaligus mendorong siswa aktif dalam literasi untuk memperoleh informasi baru. Catatan penulis dalam penerapan metode ini semoga bermanfaat untuk insan pendidik.

Penulis adalah guru di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Solo

Berita Terbaru

Lulus Sarjana, tapi Gagal jadi Warga Negara yang Baik

Setiap tahun, ribuan mahasiswa Indonesia diwisuda dengan toga yang megah. Aula kampus dipenuhi tepuk tangan, bunga ucapan selamat, dan senyum orang tua yang bangga melihat...

Fenomena Phubbing yang Merusak Kehangatan Keluarga

Perkembangan teknologi digital memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan gadget tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga digunakan untuk bekerja, mencari informasi, hiburan, hingga...

Krisis Empati di Era Media Sosial: Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Hati

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang...

SAGU SAMU, Gerakan Bersama Menjemput Masa Depan Sekolah

Sekolah swasta hidup dan berkembang karena kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk hadirnya peserta didik yang memilih sekolah kita sebagai tempat belajar dan bertumbuh....

Mendesain Pelepasan dan Mendesain Cari Murid

Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu....

Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...