Dalam momentum liburan sekolah yang baru saja berlalu, saya mengikuti IHT (Inhouse Training) yang diselenggarakan SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Solo, tempat saya bekerja. IHT tersebut fokusnya pada sharing pengalaman dan pengelolaan public speaking dan layanan prima dalam sebuah lembaga. Nah, public speaking ini merupakan salah satu keterampilan abad ke-21 yang harus dikuasai. Sedangkan layanan prima adalah langkah memberikan pelayanan terbaik sehingga pelanggan mendapatkan sesuatu melebihi harapan. Mewujudkan keduanya, tentu membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik.
Esai ini coba saya tulis karena ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Ketika kami berdiskusi di salah satu pemateri public speaking, Makmun Syaifudin (Max Nata), dosen dan praktisi public speaking, yang memfasilitasi kami mendalami public speaking membongkar tips-tips mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi di depan publik. Termasuk mitos bahwa seorang introvert tidak bisa public speaking, sedangkan orang ekstrovert jago adalah sebuah kekeliruan besar. Hal ini pula yang menarik saya untuk berdiskusi bersama fasilitator.
Bagaimanakah orang introvert bisa mengembangkan kemampuan public speaking? Banyak orang yang sering salah paham dengan para introvert. Mayoritas mereka sering diasosiasikan sebagai sosok pemalu, antisosial, bahkan dianggap “dingin” oleh orang sekitar. Padahal tidak demikian. Max Nata mematahkan anggapan tersebut dan justru memberikan contoh nyata dirinya sendiri yang memiliki kecenderungan introvert, mampu berkomunikasi dengan menjadi penyiar radio, pembawa acara televisi, bahkan ia memberikan pelatihan public speaking kepada lembaga-lembaga pendidikan.
Menurut Max Nata, kecenderungannya orang introvert itu punya kelebihan, antara lain memiliki fokus yang tinggi, berpikir mendalam, serta seorang yang good listener. Itu semua menjadi modal besar untuk mengembangkan diri. Begitu juga dengan seorang ekstrovert, yang memiliki kelebihan seperti memiliki banyak teman karena senang dengan percakapan dan cenderung terbuka. Namun, jika tidak hati-hati, maka orang ekstrovert yang memiliki kelemahan bicara yang tidak terstruktur dan cenderung “menambah-nambahkan” omongan sehingga cenderung tidak jujur, perlu diperhatikan.
Diskusi kami berlanjut. Saya menyampaikan sebuah fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita jumpai orang yang berbicara panjang lebar di depan publik dengan retorika yang mengagumkan, namun kita tidak merasa tertarik mengikuti ucapannya. Sebaliknya, ada seseorang yang berbicara singkat dan padat namun kita termotivasi melakukan apa yang diucakannya. Fenomena seperti apakah ini jika ditinjau dari persfektif ilmu komunikasi? tanya saya kepada fasilitator.
To Change
Salah satu tujuan komunikasi adalah to change. Menurut dia, ini tujuan yang cukup berat. Diperlukan orang yang memiliki kredibilitas agar dipercaya oleh audiens. Seorang public speaker perlu memiliki nilai etika, logika ilmu (validitas informasi), dan disampaikan dengan penuh passion serta melibatkan emosi. Mendengar ini, saya teringat pada seorang filsuf terkenal, Aristoteles yang menyampaikan unsur-unsur komunikasi (retorika) yaitu ethos, logos, dan pathos.
Sebagai contoh, ada kisah dari teknik komunikasi gaya Aristoteles ini. Suatu saat, Ia kedatangan tamu orang tua yang membawa anaknya. Orang tua ini meminta bantuan pada Aristoteles untuk menasihati anaknya agar tidak memakan makanan yang mengandung garam karena sebab penyakit. Aristoteles meminta orang tua itu untuk kembali bertemu dua pekan lagi.
Setelah waktu yang dijanjikan, maka orang tua bersama anaknya bertemu Aristoteles. Sang filsuf pun menasihati, “Nak, kamu jangan makan makanan yang mengandung garam.” Hanya itu saja ucapannya. Lalu, anak tersebut mematuhinya dan akhirnya sembuh dari sakitnya. Orang tuanya tentu heran. Nasihat Aristoteles begitu mempan walau hanya sepatah kata. Sementara orang tuanya yang sering menasihati si anak merasa kesulitan.
Orang tua ini menanyakan kepada Aristoteles, apa rahasia komunikasinya sehingga anaknya mau mematuhi nasihatnya? Aristoteles menjelaskan, pada pertemuan pertama dirinya tidak mau menasihati si anak karena Aristoteles sendiri masih makan garam. Makanya sang filsuf itu meminta orang tua dan anaknya kembali menemuinya dua pekan lagi. Selama dua pekan Aristoteles memutuskan tidak makan garam. Dua pekan kemudian, saat si orang tua dan anaknya menemuinya kembali, Aristoteles berani menasihati agar si anak tidak makan garam. Si anak pun langsung menuruti nasihatnya.
Apa kuncinya? Etika dan integritas. Saat akan menasihati si anak, Aristoteles harus memulai dari dirinya dengan tidak makan garam, baru menasihati si anak. Gaya komunikasi Aristoteles yang penuh integritas itu begitu manjur, powerful.
Si anak langsung berubah. Berhenti makan garam!
Penulis adalah Sekretaris MPI Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...






