Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Komunikasi, antara Etos, Logos dan Pathos

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Selasa, 2 Januari 2024 15:35 WIB
Komunikasi, antara Etos, Logos dan Pathos
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hendro Susilo (Foto: Dok. MPI Solo).

Dalam momentum liburan sekolah yang baru saja berlalu, saya mengikuti IHT (Inhouse Training) yang diselenggarakan SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Solo, tempat saya bekerja. IHT tersebut fokusnya pada sharing pengalaman dan pengelolaan public speaking dan layanan prima dalam sebuah lembaga. Nah, public speaking ini merupakan salah satu keterampilan abad ke-21 yang harus dikuasai. Sedangkan layanan prima adalah langkah memberikan pelayanan terbaik sehingga pelanggan mendapatkan sesuatu melebihi harapan. Mewujudkan keduanya, tentu membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik.

Esai ini coba saya tulis karena ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Ketika kami berdiskusi di salah satu pemateri public speaking, Makmun Syaifudin (Max Nata), dosen dan praktisi public speaking, yang memfasilitasi kami mendalami public speaking membongkar tips-tips mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi di depan publik. Termasuk mitos bahwa seorang introvert tidak bisa public speaking, sedangkan orang ekstrovert jago adalah sebuah kekeliruan besar. Hal ini pula yang menarik saya untuk berdiskusi bersama fasilitator.

Bagaimanakah orang introvert bisa mengembangkan kemampuan public speaking? Banyak orang yang sering salah paham dengan para introvert. Mayoritas mereka sering diasosiasikan sebagai sosok pemalu, antisosial, bahkan dianggap “dingin” oleh orang sekitar. Padahal tidak demikian. Max Nata mematahkan anggapan tersebut dan justru memberikan contoh nyata dirinya sendiri yang memiliki kecenderungan introvert, mampu berkomunikasi dengan menjadi penyiar radio, pembawa acara televisi, bahkan ia memberikan pelatihan public speaking kepada lembaga-lembaga pendidikan.

Menurut Max Nata, kecenderungannya orang introvert itu punya kelebihan, antara lain memiliki fokus yang tinggi, berpikir mendalam, serta seorang yang good listener. Itu semua menjadi modal besar untuk mengembangkan diri. Begitu juga dengan seorang ekstrovert, yang memiliki kelebihan seperti memiliki banyak teman karena senang dengan percakapan dan cenderung terbuka. Namun, jika tidak hati-hati, maka orang ekstrovert yang memiliki kelemahan bicara yang tidak terstruktur dan cenderung “menambah-nambahkan” omongan sehingga cenderung tidak jujur, perlu diperhatikan.

Diskusi kami berlanjut. Saya menyampaikan sebuah fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita jumpai orang yang berbicara panjang lebar di depan publik dengan retorika yang mengagumkan, namun kita tidak merasa tertarik mengikuti ucapannya. Sebaliknya, ada seseorang yang berbicara singkat dan padat namun kita termotivasi melakukan apa yang diucakannya. Fenomena seperti apakah ini jika ditinjau dari persfektif ilmu komunikasi? tanya saya kepada fasilitator.

To Change

 Salah satu tujuan komunikasi adalah to change. Menurut dia, ini tujuan yang cukup berat. Diperlukan orang yang memiliki kredibilitas agar dipercaya oleh audiens. Seorang public speaker perlu memiliki nilai etika, logika ilmu (validitas informasi), dan disampaikan dengan penuh passion serta melibatkan emosi. Mendengar ini, saya teringat pada seorang filsuf terkenal, Aristoteles yang menyampaikan unsur-unsur komunikasi (retorika) yaitu ethos, logos, dan pathos.

Sebagai contoh, ada kisah dari teknik komunikasi gaya Aristoteles ini. Suatu saat, Ia kedatangan tamu orang tua yang membawa anaknya. Orang tua ini meminta bantuan pada Aristoteles untuk menasihati anaknya agar tidak memakan makanan yang mengandung garam karena sebab penyakit. Aristoteles meminta orang tua itu untuk kembali bertemu dua pekan lagi.

Setelah waktu yang dijanjikan, maka orang tua bersama anaknya bertemu Aristoteles. Sang filsuf pun menasihati, “Nak, kamu jangan makan makanan yang mengandung garam.” Hanya itu saja ucapannya. Lalu, anak tersebut mematuhinya dan akhirnya sembuh dari sakitnya. Orang tuanya tentu heran. Nasihat Aristoteles begitu mempan walau hanya sepatah kata.  Sementara orang tuanya yang sering menasihati si anak merasa kesulitan.

Orang tua ini menanyakan kepada Aristoteles, apa rahasia komunikasinya sehingga anaknya mau mematuhi nasihatnya? Aristoteles menjelaskan, pada pertemuan pertama dirinya tidak mau menasihati si anak karena Aristoteles sendiri masih makan garam. Makanya sang filsuf itu meminta orang tua dan anaknya kembali menemuinya dua pekan lagi.  Selama dua pekan Aristoteles memutuskan tidak makan garam. Dua pekan kemudian, saat si orang tua dan anaknya menemuinya kembali, Aristoteles berani menasihati agar si anak tidak makan garam. Si anak pun langsung menuruti nasihatnya.

Apa kuncinya? Etika dan integritas. Saat akan menasihati si anak, Aristoteles harus memulai dari dirinya dengan tidak makan garam, baru menasihati si anak. Gaya komunikasi Aristoteles yang penuh integritas itu begitu manjur, powerful.

Si anak langsung berubah. Berhenti makan garam!

Penulis adalah Sekretaris MPI Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment