Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam menahan lapar, banyak orang merasa berhak “membalas dendam”. Satu gelas terasa kurang. Dua gelas belum cukup. Ramadan pun berubah menjadi pesta gula harian. Ironisnya, momen spiritual yang seharusnya menyehatkan justru berisiko memicu lonjakan gula darah yang ekstrem.
Indonesia bukan negara dengan beban ringan soal gula darah. Data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas memperkirakan bahwa pada tahun 2024 terdapat sekitar 20,4 juta orang dewasa Indonesia hidup dengan diabetes, dengan prevalensi diabetes mencapai 11,3 % di kelompok usia 20-79 tahun lebih tinggi dari rata-rata kawasan Asia Tenggara. Indonesia berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes terbanyak. Sebanyak lebih dari 15 juta di antaranya tidak menyadari kondisinya dan berisiko berkembang menjadi komplikasi serius.
Masalahnya bukan pada puasanya. Justru secara ilmiah, puasa memiliki banyak manfaat metabolik: meningkatkan sensitivitas insulin, memberi kesempatan tubuh melakukan perbaikan sel, dan menurunkan asupan kalori bila dilakukan dengan benar. Yang menjadi persoalan adalah pola berbuka yang tidak terkendali.
Secara fisiologis, setelah berjam-jam tanpa asupan, kadar gula darah memang cenderung menurun. Ketika seseorang langsung mengonsumsi minuman tinggi gula sederhana dalam jumlah besar, tubuh mengalami lonjakan glukosa yang cepat. Pankreas dipaksa bekerja keras menghasilkan insulin dalam jumlah tinggi. Lonjakan ini jika terjadi setiap hari selama sebulan dapat memperburuk resistensi insulin, terutama pada mereka yang sudah memiliki faktor risiko.
Dua Gelas Sirup Manis
Saya pernah menangani seorang pasien laki-laki usia 45 tahun dengan riwayat prediabetes. Selama Ramadan, ia merasa lebih sehat karena tidak makan siang. Namun, setiap berbuka, ia mengonsumsi dua gelas sirup manis, kolak, dan gorengan. Pada pekan ketiga Ramadan, ia mengeluh pusing dan lemas berlebihan. Pemeriksaan menunjukkan kadar gula darahnya melonjak jauh di atas normal. Ia terkejut. “Saya kan puasa, Dok,” katanya.
Inilah kesalahpahaman yang sering terjadi: puasa dianggap otomatis menyehatkan, tanpa memperhatikan kualitas asupan saat berbuka dan sahur. Lonjakan gula darah bukan sekadar angka di laboratorium. Dalam jangka pendek, ia bisa menimbulkan rasa lelah ekstrem, mengantuk, gangguan konsentrasi, bahkan palpitasi jantung. Dalam jangka panjang, pola fluktuasi tajam ini berkontribusi pada risiko diabetes tipe 2 yang sudah mencapai puluhan juta warga Indonesia.
Budaya takjil manis memang mengakar kuat. Secara tradisional, berbuka dengan yang manis dianjurkan karena cepat mengembalikan energi. Namun, yang sering terlupakan adalah prinsip moderasi. Nabi berbuka dengan kurma atau air dalam jumlah sederhana bukan pesta gula berlebihan. Di sinilah letak refleksi kesehatan Ramadan: apakah kita benar-benar memulihkan tubuh, atau justru mengujinya dengan beban metabolik yang berat?
Ada beberapa langkah sederhana namun penting untuk mencegah “balas dendam metabolik” saat berbuka.
Pertama, mulai dengan air putih dan satu atau dua butir kurma, bukan segelas besar minuman sirup tinggi gula. Kedua, beri jeda 10-15 menit sebelum makan besar agar tubuh menyesuaikan respons insulin secara bertahap. Ketiga, batasi minuman kemasan manis dan kolak dengan santan kental yang tinggi gula dan lemak jenuh. Keempat, prioritaskan makanan berserat dan protein agar pelepasan glukosa lebih stabil. Bagi penderita diabetes atau prediabetes, pemantauan gula darah selama Ramadan sangat penting. Konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum berpuasa bukan tanda kelemahan iman, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan.
Ramadan sejatinya adalah latihan pengendalian diri. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mengendalikan nafsu konsumsi. Jika sepanjang hari kita mampu menahan diri, mengapa justru kehilangan kendali saat magrib? Kesehatan publik tidak hanya dibentuk oleh kebijakan, tetapi juga oleh kebiasaan kolektif. Tren berburu takjil manis setiap sore, promosi minuman tinggi gula yang masif, serta anggapan bahwa “mumpung puasa” menjadi kombinasi yang berbahaya. Tanpa kesadaran bersama, Ramadan justru berpotensi meningkatkan risiko metabolik masyarakat. Puasa memberi kesempatan langka bagi tubuh untuk “reset”. Namun, manfaat itu hanya akan optimal bila kita memperlakukan berbuka sebagai proses pemulihan, bukan pelampiasan.
Pertanyaannya sederhana: saat azan Magrib berkumandang, apakah kita ingin memulihkan tubuh atau membebani pankreas? Ramadan merupakan momentum spiritual sekaligus biologis. Ia mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, antara energi dan kendali. Jika disiplin yang kita latih sepanjang hari runtuh dalam lima belas menit pertama berbuka, maka yang terjadi bukan transformasi kesehatan, melainkan ironi metabolik. Menahan lapar itu ibadah. Mengendalikan gula, itu kebijaksanaan. Kesehatan pada akhirnya adalah amanah yang tak kalah suci untuk dijaga.
Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...
Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi
Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...
Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...
Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit
Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...






