Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Muhammadiyah dan Rokok…

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Kamis, 18 Desember 2025 09:54 WIB
Muhammadiyah dan Rokok…
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi).

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan ini mengoreksi fatwa sebelumnya bahwa merokok makruh hukumnya. Bagi warga Persyarikatan yang kadung jadi perokok, melalui fatwa No. 6/SM/MTT/III/2010 tentang Hukum Merokok, Majelis Tarjih dan Tajdid meminta agar mereka wajib berupaya dan berusaha dengan kemampuannya untuk berhenti dari kebiasaan merokok.

Fatwa mengharamkan rokok ini menjadi langkah maju Persyarikatan untuk menjauhkan dampak buruk merokok, baik bagi perokok maupun orang-orang di sekitarnya. Saya tak perlu menyampaikan dampak buruk merokok. Saya yakin, termasuk para perokok berat pun, mengetahui dampak buruknya. Alhamdulillah, pada forum, pertemuan, pengajian, atau acara apapun yang diselenggarakan Persyarikatan, hampir selalu bebas asap rokok. Ingat ya, ini baru hampir, belum benar-benar bebas dari asap rokok. Realitas ini menunjukkan fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid itu umumnya ditaati warga Persyarikatan, setidaknya, mereka tidak merokok pada forum-forum Muhammadiyah. Bahwa masih ada sebagian kecil yang nekat merokok, tentu ini anomali yang tidak bisa ditoleransi.

Apakah semua warga Persyarikatan berhenti merokok akibat fatwa itu? Jawabannya: tidak! Saya yakin masih ada sebagian yang masih menikmati sebagai “ahli hisab” tembakau atau zat sejenisnya. Yang menggembirakan, saya belum pernah menemukan ada ustaz Muhammadiyah yang udud sambil berceramah.  Kalau ada, ya perlu dijewer. Jujur, saya prihatin, banyak penceramah yang tanpa sungkan merokok di depan para anggota jemaahnya. Padahal di situ ada anak-anak yang pasti akan terpapar melihat ustaz idolanya merokok.

Secara guyon, kebanggaan ini sering saya sampaikan kepada teman baik saya, seorang aktivis organisasi masyarakat sipil (OMS) yang punya program memerangi asap rokok. Kebanggaan ini saya sampaikan beberapa kali. Namun, saya pernah kena skak teman saya itu. “Siapa bilang kampus Muhammadiyah bebas dari asap rokok?” sanggahnya, kepada saya. Saya kaget.

“Mana buktinya?” tanya saya.

Dia meyakinkan punya data sahih soal orang merokok di kampus Muhammadiyah.

“Siapa orang yang merokok di kampus Muhammadiyah itu?” kejar saya.

“Tenaga kebersihan,” jawabnya tegas.

Beberapa waktu kemudian, saat saya hadir saat Salat Tarawih di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), pada Ramadan lalu, saya melihat langsung seorang anggota jemaah Tarawih yang dengan santainya klepas-klepus merokok di area kampus. Dia merokok sambil berjalan di depan saya saat menuju masjid kampus dari tempat parkir.  Saya tidak bisa memastikan apakah dia warga kampus atau bukan. Tapi, lepas dari itu, dia merokok di lingkungan yang jelas-jelas area terlarang untuk merokok.

Bahkan, saat saya mengikuti Jalan Sehat Milad ke-113 Muhammadiyah di Solo, beberapa waktu lalu, saya melihat satu peserta jalan sehat, dengan enaknya merokok sambil berjalan menuju Balai Muhammadiyah. Hmmm…

Beberapa tahun lalu, saat saya dan teman-teman Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Solo studi banding pengelolaan ke pusat syiar digital di kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro, Jogja, saya iseng ke balkon kantor itu di lantai atas. Saya kaget, mak tratap.  Di situ ada asbak berisi beberapa puntung rokok di meja balkon. Hoooe…ini di jantung Muhammadiyah, ternyata masih ada orang merokok. Tidak mungkin beberapa puntung rokok itu turun dari langit begitu saja. Pasti ada orang yang merokok. Entah siapa. Sudah lama memang, tetapi itu tetap perlu kita kritisi. Ya, semoga saja balkon di lantai itu benar-benar bebas asap rokok sekarang ini. Kapan-kapan mau saya cek lagi ke sana lagi ah…

Bahwa “mengamankan” fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid itu menjadi tanggung jawab warga Persyarikatan. Di dalam persepsi umum, sudah dikenal bahwa Muhammadiyah itu mengharamkan rokok. Sehingga, kalau ada kader organisasi ini yang tetap merokok di luar area atau di luar aset Persyarikatan, tetap akan dianggap aneh oleh masyarakat luas. Siapa pun warga Persyarikatan, punya kewajiban menjaga muruah organisasi di ruang publik. Teman saya yang aktivis anti-rokok itu pun protes, mengapa ada kader Muhammadiyah yang menjadi pejabat publik, kok tetap saja udud? Apalagi dia udud di area terlarang merokok, atau kawasan tanpa rokok (KTR), sebagaimana diatur dalam UU Kesehatan dan aturan pendukung lainnya.

Lagi-lagi, saya hanya bisa bilang, “Hmmm….”

Saya menyampaikan fakta ini semata-mata sebagai kritik untuk introspeksi bahwa masih ada pekerjaan rumah  pimpinan Persyarikatan, di segala tingkatan, bersama organisasi otonom (ortom), para pimpinan amal usaha Muhammadiyah (AUM), untuk memastikan di semua acara Persyarikatan, di semua lokasi yang menjadi aset organisasi, benar-benar terbebas dari asap rokok, siapa pun pelakunya. Semua warga Persyarikatan juga menjamin rumah mereka juga bebas asap rokok. Karena, fatwa itu sesungguhnya tidak mengenalkan tempat dan waktu. Tanggung jawab memerangi asap rokok ini melekat bagi semua warga Persyarikatan. Langkah itu, tidak semata untuk menaati fatwa Persyarikatan, tapi juga bentuk kontribusi Muhammadiyah memerangi asap rokok yang merusak segalanya, di mana pun di dunia ini.

Kampus Anti-Rokok

Oleh karena itu, saya senang saat kampus UMS mendeklarasikan program Launching Kampus Bebas Asap Rokok, Sabtu (13/12/2025). Deklarasi itu sebagai bentuk pengakuan, ternyata, meski sudah terpampang papan larangan merokok, warga kampus masih ada yang nekat menghisap zat adiktif itu. Sehingga pimpinan kampus perlu berkomitmen ulang sekaligus menegaskan lagi agar ke depan, pihak kampus lebih tegas kepada warga kampus yang melanggar. Bahkan, kampus akan menerapkan sanksi bagi pelanggar komitmen ini. Bagus. Saat berita ini dimuat di Muhammadiyahsolo.com, tautan beritanya saya kirim ke kawan saya tadi. “Wooo..bestie tenan ini,” jawabnya via WA. Dia sangat mendukung program ini.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih mburuh di sebuah perusahaan, saya dan teman menemui pejabat di lembaga pemberi beasiswa yang disokong oleh perusahaan rokok besar di Tanah Air. Ternyata, dia curcol karena lembaganya tidak bisa masuk kampus Muhammadiyah untuk memberikan beasiswa. Semua kampus Muhammadiyah menutup pintu beasiswa dari pabrik rokok. Dia tidak tahu kalau saya orang Muhammadiyah he..he..he. Tapi, saat mendengarkan si bos itu curcol, saya jadi makin bangga sebagai warga Persyarikatan. Alhamdulillah, meski tanpa sokongan perusahaan rokok, kampus Muhammadiyah mampu memberikan banyak beasiswa untuk para mahasiswanya. Banyak program beasiswa yang bisa diterima mahasiswa selama mereka memenuhi syarat. Kampus Muhammadiyah kini makin mandiri terkait pemberian beasiswa. Persyarikatan  menggelontorkan dana puluhan miliar per tahun untuk beasiswa. Mungkin, ini hikmahnya kita “talak tiga” dengan perusahaan rokok. Bukan hanya “talak satu atau talak dua” karena masih bisa rujuk sama rokok.

Dua jempol untuk kampus Muhammadiyah, dan kampus ‘Aisyiyah tentunya.

Hai, warga Muhammadiyah, apakah Anda akan tetap udud? Hmmm…

Penulis adalah pria anti-rokok

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Kamu Harus Jadi Mubalig…

“Anak-anakku semua harus jadi mubalig/mubaligah.” Meski telah bertahun-tahun, saya masih terngiang-ngiang kata-kata almarhum ayah saya ini. Pernyataan itu berulangkali diungkapkan saat ngobrol santai bersama keluarga....

Leave a comment