Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

JIMM Soloraya Bahas Tafsir At-Tanwir, Kukuhkan UMS jadi Pusat Gerakan Intelektual Muda

Nurul/Adi, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 30 Oktober 2025 10:31 WIB
JIMM Soloraya Bahas Tafsir At-Tanwir, Kukuhkan UMS jadi Pusat Gerakan Intelektual Muda
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Upaya Muhammadiyah membumikan semangat tajdid melalui tafsir, kembali menjadi sorotan dalam forum Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Solo Raya, di ruang Siti Baroroh Perpustakaan UMS. (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Upaya Muhammadiyah membumikan semangat tajdid melalui tafsir, kembali menjadi sorotan dalam forum Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Solo Raya, di ruang Siti Baroroh Perpustakaan UMS.

Mengusung tema “Rancang Bangun Tafsir At-Tanwir: Pandangan Orang Dalam”, kegiatan ini menghadirkan Ali Muhtadin, penyusun Tafsir At-Tanwir Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang mengulas secara mendalam perspektif refleksi dan epistemologi terhadap proses lahirnya karya tafsir khas Muhammadiyah.

Dalam sambutannya, Yusuf Yanuri, selaku presidium JIMM Nasional, menyampaikan bahwa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merupakan pusat tempat JIMM tumbuh dan berkembang.

“JIMM dikenal sebagai gerakan kaum intelektual kampus. Banyak tokoh pendiri JIMM di masa awal merupakan lulusan S2 dan S3 luar negeri, di antaranya Adam Wibowo yang menempuh studi di Prancis dan Muhsin Abdurrahman yang merupakan lulusan Amerika Serikat, serta beberapa tokoh lainnya,” ujarnya. Selasa, (28/10/2025).

Manfaatkan Peluang

Yusuf menutup sambutannya dengan harapan agar semangat para pendiri JIMM dapat ditularkan kepada mahasiswa, sehingga mereka mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk berkembang.

Ali Muhtadin selaku narasumber mengawali pemaparannya dengan menjelaskan penyusunan Tafsir At-Tanwir bukan sekedar proyek tafsir tekstual, melainkan juga upaya ideologis dan epistemologis Muhammadiyah dalam menghadirkan tafsir yang sesuai dengan semangat Tajdid (pembaharuan islam).

Ia menegaskan At-Tanwir lahir dari kebutuhan mendesak akan tafsir yang tidak hanya bersumber dari turats (warisan klasik), tetapi juga responsif terhadap realitas sosial kontemporer. Menurutnya, At-Tanwir menampilkan metode tafsir yang bersifat kolektif-kolegial, menggabungkan pendekatan tematik, kontekstual, dan ideologis.

“Kita ingin tafsir tidak hanya menjelaskan ayat, tapi juga menuntun gerak sosial umat. Karena itu, At-Tanwir bukan semata produk akademik melainkan juga cerminan pemikiran gerakan,” ungkapnya. Dalam pembahasan epistemologis, Ali menyoroti tiga pilar penting penyusun Tafsir At-Tanwir.

Upaya Muhammadiyah membumikan semangat tajdid melalui tafsir, kembali menjadi sorotan dalam forum Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Solo Raya, di ruang Siti Baroroh Perpustakaan UMS.

Upaya Muhammadiyah membumikan semangat tajdid melalui tafsir, kembali menjadi sorotan dalam forum Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Solo Raya, di ruang Siti Baroroh Perpustakaan UMS. (Humas)

Pertama , Basis ideologis, yakni pemahaman islam berkemajuan yang menjadi landasan Muhammadiyah. Kedua, Basis metodologi, yaitu menggunakan pendekatan tematik (maudhu’i) dan integratif yang mengaitkan teks dengan konteks sosial modern. Ketiga, basis praksis, yaitu orientasi tafsir yang tidak berhenti pada makna, tetapi menuntun pada aksi sosial dan perubahan.

Selain mengulas proses rancang bangun tafsir, forum juga mengupas dinamika internal penyusunannya. Ali Muhtadin menyebut adanya dialektika namun tetap terbuka terhadap kritik ilmiah. “At-Tanwir ini bukan kitab tafsir yang selesai, tapi terus hidup seiring perkembangan zaman dan pemikiran umat,” ujarnya.

Forum tersebut berlangsung dengan penuh antusiasme, kondusif dan interaktif antara peserta JIMM Solo Raya dan Ali Muhtadin. Para peserta mengajukan beragam pertanyaan seputar epistemologi, dinamika penafsiran, hingga posisi At-Tanwir dalam tradisi tafsir modern Indonesia.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (27/10/2025) itu menjadi bagian dari upaya JIMM Solo Raya untuk menumbuhkan tradisi intelektual kritis di kalangan kader Muda Muhammadiyah, serta memperkuat pemahaman atas warisan keilmuan Muhammadiyah sebagai gerakan Tajdid yang berorientasi pada kemajuan peradaban.

Berita Terbaru

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...

Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H

Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...