Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

FAFO Parenting: Apakah Anak Harus Dibiarkan Merasakan Akibatnya Sendiri?

Dr. Elinda Rizkasari, Editor: Sholahuddin
Selasa, 26 Agustus 2025 08:05 WIB
FAFO Parenting: Apakah Anak Harus Dibiarkan Merasakan Akibatnya Sendiri?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Elinda Rizkasari (dok. pribadi).

Beberapa minggu terakhir, jagat media sosial diramaikan oleh istilah baru dalam dunia pengasuhan: FAFO parenting. Konsep ini meledak di TikTok dan Instagram, lalu diulas oleh berbagai media internasional. Intinya sederhana tapi kontroversial: biarkan anak belajar dari konsekuensi nyata atas perbuatannya sendiri. “Find out by fucking around” begitu singkatan yang tidak sopan itu dipopulerkan di luar negeri, meski tentu dalam konteks parenting maknanya dilunakkan menjadi: “biarkan anak tahu akibat dari tindakannya.”

Bagi sebagian orang tua, konsep ini terasa menyegarkan. Tidak perlu berpanjang-panjang menasihati, cukup biarkan anak merasakan konsekuensi dari pilihan mereka. Anak menolak pakai jaket saat hujan? Silakan, biarkan dia kedinginan sebentar, agar lain kali ia tahu pentingnya menjaga diri. Anak lupa mengerjakan PR? Jangan buru-buru membantu, biarkan ia mendapat teguran guru.

Namun, di sisi lain, banyak psikolog memperingatkan: konsekuensi yang terlalu keras bisa melukai kepercayaan diri anak dan bahkan meninggalkan trauma jangka panjang. Pertanyaannya, sampai sejauh mana orang tua boleh melepas kontrol, dan kapan mereka tetap harus hadir sebagai “rem pelindung”?

Trend parenting selalu berputar mengikuti zaman. Setelah lama digandrungi, gentle parenting yang menekankan kelembutan, komunikasi empatik, dan validasi emosi, kini dinilai sebagian orang tua terlalu permisif. Generasi Alpha anak-anak yang lahir di era digital serba cepat sering kali dianggap “kurang disiplin” karena terlalu sering ditenangkan, bukan ditegaskan.

Di sinilah FAFO parenting muncul sebagai reaksi. Alih-alih terus-menerus mengingatkan dengan nada lembut, orang tua lebih memilih membiarkan anak menanggung konsekuensi nyata. Pendekatan ini terasa cocok di tengah dunia yang keras dan kompetitif. Namun, benarkah dengan membiarkan anak “jatuh”, mereka otomatis akan bangkit lebih kuat? Atau justru kita sedang mempertaruhkan kesehatan mental generasi mendatang?

Kisah Nyata: Ketika Konsekuensi Jadi Guru

Mari kita ambil contoh sederhana. Seorang remaja SMP di Semarang menolak bangun pagi meski sudah diingatkan berkali-kali. Alih-alih dimarahi atau dibangunkan berulang kali, orang tuanya membiarkan ia terlambat masuk sekolah. Akibatnya, ia mendapat hukuman piket tambahan. Sejak hari itu, ia belajar mengatur alarm sendiri dan tak pernah lagi bangun kesiangan.

Kasus ini menunjukkan bahwa konsekuensi nyata bisa lebih ampuh daripada seribu kata nasihat. Anak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari pengalaman. Dalam psikologi perkembangan, ini sejalan dengan teori experiential learning: pengalaman langsung memperkuat pembelajaran lebih daripada instruksi verbal.

Tetapi, bayangkan jika yang terjadi adalah konsekuensi yang membahayakan. Anak menolak pakai helm saat naik motor lalu benar-benar jatuh dan cedera. Di sini, jelas orang tua tidak bisa hanya “membiarkan.” Ada garis batas tipis antara konsekuensi yang mendidik dan risiko yang merusak.

Menurut penelitian dari American Psychological Association (2024), anak-anak yang dididik dengan keseimbangan antara disiplin dan empati cenderung lebih resilien. Mereka mampu menghadapi tantangan tanpa kehilangan rasa percaya diri. Sebaliknya, anak yang terlalu sering “dibiarkan” tanpa pendampingan emosional berisiko mengalami kecemasan sosial dan merasa kurang dicintai.

Di Indonesia, Komisi Perlinduangan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa kasus anak yang mengalami tekanan akademis dan emosional meningkat setiap tahun. Tekanan dari sekolah saja sudah cukup berat; jika di rumah anak juga dibiarkan menanggung konsekuensi keras tanpa penyangga kasih sayang, risiko gangguan kesehatan mental makin besar.

Artinya, FAFO parenting tidak bisa diterapkan mentah-mentah. Ia butuh adaptasi sesuai konteks budaya, usia anak, dan kapasitas emosional orang tua. Salah kaprah terbesar dalam parenting adalah menganggap ada satu “metode sakti” yang cocok untuk semua. Padahal, setiap anak unik. Ada anak yang justru berkembang pesat ketika diberi konsekuensi tegas. Tapi ada juga anak yang semakin terpuruk jika dibiarkan jatuh tanpa dukungan.

Orang tua perlu peka membaca karakter anak. Konsekuensi boleh diberikan, tetapi tetap dalam bingkai kasih sayang. Alih-alih sekadar melepas, orang tua bisa hadir sebagai fasilitator refleksi: “Tadi kamu telat ya? Rasanya gimana? Apa yang bisa kamu lakukan supaya besok tidak terulang?” Dengan begitu, anak bukan hanya merasakan konsekuensi, tapi juga belajar mengambil hikmah.

Kuncinya adalah memastikan konsekuensi tetap edukatif, bukan destruktif. Itu berarti orang tua harus menempatkan keselamatan anak di atas segalanya. Tidak semua konsekuensi layak dibiarkan terjadi; risiko yang membahayakan nyawa jelas tidak bisa dijadikan bahan pembelajaran.

Selain itu, usia anak juga menentukan jenis konsekuensi yang pantas. Anak usia TK membutuhkan pendampingan lebih intens, sementara remaja bisa diberikan ruang untuk menanggung akibat dari keputusannya. Di titik ini, pendampingan orang tua tetap penting, bukan sekadar melepas. Setelah anak merasakan akibat, diskusi ringan untuk merefleksikan pengalaman akan jauh lebih bermakna daripada sekadar membiarkannya lewat begitu saja.

Konsistensi juga menjadi kunci. Anak belajar dari pola yang jelas, bukan dari hukuman atau konsekuensi yang diberikan secara tiba-tiba. Namun, ketegasan itu harus tetap dibungkus dalam kasih sayang. Tegas tidak sama dengan dingin. Anak perlu merasakan bahwa meski ada konsekuensi atas kesalahannya, cinta orang tua tidak berkurang sedikit pun.

FAFO parenting mungkin terdengar keren di TikTok, tapi dalam praktiknya ia bukanlah resep ajaib. Membiarkan anak belajar dari konsekuensi memang penting, tetapi orang tua tetap harus menjadi jangkar kasih sayang. Anak yang tumbuh dengan keseimbangan disiplin dan empati akan lebih siap menghadapi kerasnya dunia, tanpa kehilangan rasa aman di rumah. Pada akhirnya, parenting bukan soal mengikuti tren, melainkan soal menemukan cara terbaik agar anak tumbuh sehat, tangguh, dan bahagia.

Penulis adalah dosen prodi PGSD Unisri Surakarta

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...