
Pertarungan sistem penerimaan murid baru (SPMB) bukan hanya soal siapa paling ramai di akhir tahun ajaran. Sesungguhnya, medan perjuangan itu sudah dimulai sejak semester 1. Sayang sekali, banyak sekolah masih terjebak pada pola lama: diam menunggu hingga semester 2, baru bergerak ketika semua sekolah juga bergerak.
Padahal saat itu medan sudah sesak dengan presentasi, brosur, iklan, dan rebutan perhatian calon wali murid. Akhirnya, sekolah kehilangan momentum emas. Justru di semester 1, ketika banyak sekolah masih hening, saat itulah peluang terbesar terbuka.
Orang tua mulai melirik, mencari-cari informasi, bahkan diam-diam membandingkan sekolah. Bila di masa ini sekolah kita sudah tampil, sudah memberi kesan, sudah hadir di benak masyarakat, maka jalan menuju kemenangan di SPMB menjadi lebih mudah. Maka, rugi besar bila semester 1 hanya diisi dengan diam. Saat semua diam, mari kita bergerak!
Gerakan Sederhana
Gerakan sederhana sekalipun—publikasi kegiatan sekolah, kunjungan ke TK/PAUD Untuk SD/MI, Ke SD/MI Untuk SMP dan Seterusnya testimoni wali murid, atau sekadar menyapa masyarakat lewat media sosial—sudah cukup untuk menancapkan nama sekolah lebih dulu di hati calon wali murid.
Ingat, semester 2 adalah “pertarungan terbuka” di mana semua sekolah juga bergerak. Siapa yang baru mulai di semester itu, berarti hanya ikut arus. Tetapi siapa yang sudah start lebih awal, dialah yang akan unggul.
Maka kepada tim SPMB sekolah, bangunlah segera! Bergeraklah hari ini juga, jika engkau mau menang. Kemenangan bukan milik yang sekadar menunggu, melainkan milik mereka yang memulai lebih awal, konsisten, dan tak kenal lelah memperjuangkan nama baik sekolah.
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...





