“Orang Indonesia sudah tidak lagi tulus dalam bersikap. Baik elite maupun rakyat, di kota maupun di desa, ketika melakukan suatu tindakan hampir selalu ada pamrih. Di depan tampak ramah, seolah ikhlas dan penuh karya, tetapi sesungguhnya mereka memiliki tujuan tertentu atau tidak sepenuhnya ikhlas,” ujar Prof. Hyung Jun Kim, Guru Besar Antropologi Kangwon National University, Korea Selatan, ketika ditanya kesannya terhadap orang Indonesia (Republika, 17 Agustus 2017).
Sebagai seorang profesor antropologi, pendapat tersebut tentu dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Salah satu fokus kajian antropologi adalah manusia sebagai makhluk berbudaya, termasuk di dalamnya watak dan tabiat yang membentuk perilakunya. Karena itu, tidak salah jika saya bermaksud menjadikan pendapat Jun Kim tersebut sebagai pintu masuk pisau analisis refleksi ke-Indonesia-an kita, saat memperingati hari kemerdekaan yang ke-80 tahun (17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2025).
Indonesia dan Korea Selatan memiliki latar belakang sejarah yang hampir serupa. Keduanya sama-sama pernah dijajah Jepang, dan sama-sama merdeka pada bulan Agustus 1945. Bedanya, Korea Selatan lebih dulu memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus, sedangkan Indonesia pada 17 Agustus.
Namun, perjalanan setelah merdeka menunjukkan nasib yang berbeda. Korea Selatan mampu melesat menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, sementara Indonesia masih terseok-seok. Negeri ginseng itu berhasil menata politik, memperkuat industri, serta membangun etos kerja masyarakatnya sehingga rakyat merasakan hasil pembangunan. Sebaliknya, Indonesia seolah jalan di tempat. Elite politik kerap disibukkan dengan kepentingan kekuasaan jangka pendek, alih-alih merancang strategi besar untuk menyejahterakan rakyat. Prabowo Subianto dalam bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya (2021) bahkan menyebut hanya sekitar 1 persen rakyat Indonesia yang benar-benar menikmati hasil kemerdekaan.
Data terbaru memperlihatkan bahwa betapa jauhnya jurang kesejahteraan kedua bangsa ini. Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita Korea Selatan pada tahun 2024 mencapai USD 36.624, sedangkan Indonesia hanya USD 4.960. Dengan kurs Rp 16.000 per dolar, pendapatan rata-rata orang Indonesia sekitar Rp 79,36 juta per tahun atau Rp 6,6 juta per bulan. Sekilas angka itu tidak kecil, tetapi realitas di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan yang mencolok. Laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2024: Pesawat Jet untuk si Kaya, Sepeda untuk si Miskin yang dirilis oleh Celios (Center of Economic and Law Studies) menemukan fakta mengejutkan: kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan harta 50 juta rakyat biasa. Gambaran ini menunjukkan betapa kekayaan nasional terakumulasi pada segelintir elite, sementara mayoritas rakyat harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ketimpangan itu bukan sekadar angka statistik, melainkan kenyataan hidup sehari-hari yang ada di depan mata. Pada tanggal 8 Agustus lalu, saya menginap di SM Tower (hotel milik Muhammadiyah) Jogja. Pada pukul 04.00 menjelang subuh, 9 Agustus, saya berjalan kaki untuk salat subuh menuju Masjid Agung Kauman, yang jaraknya sekitar 500 meter.
Di Tengah jalan, saya menemukan dua orang yang tidur di pinggir jalan. Yang satu, tukang becak yang sudah sepuh itu tidur di becaknya, yang satunya anak muda “gembel” yang tidur di trotoar, di samping motor tuanya. Pemandangan itu menusuk hati: setelah 80 tahun merdeka, masih banyak rakyat yang tidur di jalan, hidup dalam kesusahan, tanpa jaminan kesejahteraan. Fenomena ini bukan hanya ada di Yogyakarta, melainkan di hampir semua kota besar di Indonesia. Lalu, di mana tanggung jawab negara yang seharusnya menyejahterakan rakyat?
Celios juga mencatat bahwa masyarakat miskin justru menanggung beban pajak yang lebih berat secara proporsional dibanding orang kaya. Ironisnya, kelompok elite sering kali menyimpan asetnya di luar negeri, menghindari kewajiban pajak yang seharusnya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sosial. Akibatnya, yang terjadi adalah lingkaran setan ketidakadilan: si miskin menanggung beban negara, sementara si kaya menikmati perlindungan dan fasilitas yang berlebih.
Salah Urus
Sebenarnya Indonesia bukanlah negeri miskin, melainkan negeri salah urus. Kekayaan alam berlimpah, sumber daya manusia melimpah, namun arah pembangunan tersandera oleh kepentingan elite politik. Orientasi jangka pendek, budaya pamrih, dan lemahnya keberpihakan pada rakyat menjadi penyebab utama mengapa bangsa ini tertinggal dari Korea Selatan, padahal berangkat dari titik sejarah yang hampir sama.
Bahkan Korea Selatan tidak memiliki kekayaan sumber alam sekaya Indonesia. Namun, berbekal tekad dan kesungguhan para elite politiknya, negeri itu berhasil membalik keterbatasan menjadi kekuatan. Mereka sadar, tanpa sumber daya alam yang melimpah, satu-satunya jalan untuk bertahan adalah dengan membangun manusia dan mengembangkan teknologi. Indonesia sebaliknya. Negeri yang dianugerahi nikel terbesar dunia, emas berlimpah, hutan tropis luas, serta garis pantai yang kaya hasil laut, justru masih berkutat pada masalah kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan. Kekayaan alam tidak dikelola dengan visi jangka panjang, tetapi dieksploitasi secara serampangan demi keuntungan jangka pendek segelintir kelompok.
Di tangan elite politik, negeri ini salah urus. Negara hanya dijadikan ajang transaksi untuk mengeruk konsesi keuntungan—baik politik maupun ekonomi—oleh para politisi dan pengusaha. Korupsi merajalela di segala penjuru, seolah telah menjadi hal yang biasa. Nepotisme tidak lagi dipandang sebagai aib, bahkan praktik persekongkolan jahat untuk mengeruk kekayaan alam dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Etika politik? Ia telah hilang, terlindas oleh keserakahan penguasa. Inilah yang saya sebut sebagai “salah urus”. Negeri yang kaya akan segala potensi justru miskin visi. Negeri yang seharusnya berdiri tegak sebagai raksasa ekonomi, justru berjalan tertatih di bawah bayang-bayang kepentingan elite. Seperti kata Prof. Hyung Jun Kim, semua itu karena tidak ada ketulusan (politik) di negeri ini.
Penulis adalah peminat masalah sosial-politik. Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Boyolali
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...
Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah
Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...
Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...
Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone
Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...






