Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Menumbuhkan Tegar: Imunitas Psikologis Anak di Tengah Reruntuhan Bencana

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Minggu, 3 Agustus 2025 14:56 WIB
Menumbuhkan Tegar: Imunitas Psikologis Anak di Tengah Reruntuhan Bencana
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Soleh Amini Yahman (Foto : FB Sony).

Di balik reruntuhan bangunan dan sirine yang memecah malam, di tengah isak tangis kehilangan dan tenda-tenda darurat yang digelar seadanya, ada satu wajah yang sering terabaikan , yaitu wajah anak-anak yang memandang dunia dengan mata yang bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi? Mengapa rumah tak lagi utuh? Ke mana orang-orang tercinta?

Indonesia, negeri yang terhampar di cincin api Pasifik, telah lama bersahabat dengan gempa, banjir, letusan gunung, dan badai. Sayangnya, bukan hanya tanah yang retak karenanya,  jiwa-jiwa kecil pun ikut remuk, tak tampak di mata, tetapi berdampak hingga jauh di masa depan.

Anak-anak korban bencana alam tak selalu bisa berkata-kata. Mereka menyimpan luka dalam diam, menahan tangis dalam tawa kecil yang dipaksakan. Trauma yang tertanam di usia dini bisa menjadi duri dalam proses tumbuh kembang mereka. Lebih jauh dari sekadar kehilangan mainan atau sekolah, mereka kehilangan rasa aman sebuah fondasi psikologis penting dalam membangun masa depan yang sehat.

Maka, ketika bencana datang, bantuan tidak cukup hanya berupa makanan, tenda, atau obat-obatan. Ada satu bentuk pertolongan yang sering luput dari daftar prioritas: pemulihan mental. Di sinilah konsep Psychological First Aid (PFA) menjadi vital sebuah pendekatan awal yang manusiawi untuk mendampingi mereka yang terdampak secara emosional.

PFA bukan sekadar duduk bersama dan bertanya, “kamu kenapa?” Ia adalah seni mendengar, menerima, dan hadir sepenuh hati. Lewat pendekatan ini, anak-anak diberi ruang untuk mengalihkan traumanya dengan aktivitas positif. Mereka diajak menggambar, bermain, bercerita, dan menyanyi. Bukan sekadar hiburan, kegiatan ini adalah terapi pengganti atas memori menyakitkan yang bisa mengendap menjadi gangguan psikologis bila tak segera diredam.

Namun, menjalankan PFA tak cukup hanya dilakukan oleh satu profesi. Butuh kerja sama lintas bidang : psikolog, guru, sukarelawan, dokter, bahkan orang tua. Ego sektoral harus disingkirkan agar pendekatan ini menjadi sinergi. Di lapangan, tak sedikit program trauma healing yang gagal bukan karena kurangnya niat baik, tapi karena tiap-tiap pihak bersikukuh dengan caranya sendiri. Padahal, jiwa anak-anak terlalu berharga untuk dijadikan ajang dominasi metode.

Rentan Bencana

Mengapa anak-anak begitu rentan terhadap trauma bencana? Karena mereka belum punya kata-kata untuk menjelaskan rasa sakitnya. Emosi mereka kerap membeku, terselip di balik tingkah laku yang tampak baik-baik saja. Namun, waktu bisa menguak semuanya. Trauma yang tak ditangani bisa menjelma menjadi kecemasan kronis, gangguan konsentrasi, perubahan kepribadian, bahkan memicu sikap agresif di masa depan.

Ada pendekatan menarik dalam psikologi pascabencana: experience blocking, yaitu mencegah trauma berkembang lewat pengalihan aktivitas yang bermakna. Saat anak diajak membuat origami bersama teman sebaya, saat mereka mendongeng tentang mimpi meski tenda masih menjadi rumah, saat tawa kembali terdengar itulah momen pemutus arus trauma. Energi psikologis yang bangkit dari keceriaan itu bisa menjadi tameng, semacam “vaksin” batin, yang memperkuat ketahanan mereka menghadapi realitas baru pascabencana.

Tak bisa dimungkiri, sekolah memainkan peran vital. Ia bukan sekadar tempat belajar Matematika atau Bahasa Indonesia. Sekolah adalah ruang aman yang membangun integritas intelektual dan emosional anak. Di sinilah bibit imunitas psikologis itu ditanam dan disiram. Bukan hanya untuk menghadapi ujian di kelas, tetapi juga ujian kehidupan.

Maka, gagasan untuk merelokasi anak dari daerah bencana ke wilayah baru yang dianggap aman tak selalu menjadi solusi terbaik. Adaptasi lingkungan baru, budaya, dan pergaulan sosial bisa menjadi tekanan tersendiri bagi anak-anak. Alih-alih sembuh, mereka justru terpapar stres baru. Yang lebih bijak adalah membangun ketahanan mental mereka di tempat yang sudah dikenal, bersama komunitas yang memahami mereka.

Dalam setiap bencana, yang paling kasat mata adalah korban fisik dan kerusakan harta benda. Namun, luka yang paling dalam justru yang tak tampak: luka psikologis. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena mekanisme pertahanan diri mereka belum matang. Mereka bisa mengalami stres berat, gangguan tidur, penurunan selera makan, bahkan kehilangan kemampuan untuk memercayai orang lain.

Stres ini bisa menjelma dalam berbagai bentuk: dari marah, sedih, takut, hingga perilaku menyalahkan diri sendiri. Bahkan tak jarang muncul kecenderungan menyendiri, keinginan membalas dendam, atau menarik diri dari dunia sosial. Bila tak segera ditangani, semua ini bisa berujung pada depresi yang berbahaya.

Oleh karena itu, PFA menjadi langkah awal yang amat penting. Lima prinsip sederhananya adalah memenuhi kebutuhan dasar, mendengarkan, menerima perasaan korban, mendampingi proses pemulihan, dan melakukan rujukan bila diperlukan menjadi peta jalan menuju penyembuhan.

Pascabencana bukan sekadar soal memperbaiki rumah atau jalan. Ia adalah proses menyusun kembali kepingan-kepingan kehidupan yang sempat berserakan. Recovery harus diiringi rehabilitasi dan rekonstruksi. Tapi semua itu tak akan bermakna bila anak-anak masih hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Membangun kembali masa depan berarti memastikan senyum anak-anak kembali merekah. Mereka bukan hanya korban, mereka adalah harapan. Bila imunitas psikologis itu berhasil ditanam dan tumbuh kuat, maka tak hanya luka yang sembuh. Kita pun sedang membangun generasi yang lebih tangguh, lebih arif, dan lebih siap menghadapi dunia bahkan jika suatu saat bencana datang lagi tanpa aba-aba.

Di tengah reruntuhan dan kesedihan, tugas kita bukan hanya membangun kembali tembok rumah, tetapi juga membangun kembali tembok keberanian dan harapan dalam hati anak-anak. Sebab, mereka adalah tiang bangsa, dan kekuatan mereka adalah masa depan kit

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Belajar Mendalam pada Ramadan

Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pedagogis yang menitik beratkan pada kedalaman pemahaman dan penguasaan konsep, tidak lagi pada luasnya materi atau hapalan fakta semata. Siswa yang...

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Leave a comment