Syukur merupakan konsep sentral dalam Islam sekaligus menjadi salah satu fondasi pendekatan psikologi positif modern. Kolom ini mengkaji makna syukur tidak hanya sebagai ekspresi verbal, tetapi sebagai konstruksi psikologis yang dalam dan transformasional. Dengan menggunakan pendekatan psikologi positif dan nilai-nilai keislaman sebagaimana diajarkan dalam Muhammadiyah, tulisan ini menunjukkan bahwa syukur adalah kekuatan karakter yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesehatan mental, ketahanan spiritual, dan kontribusi sosial.
Di tengah kehidupan yang penuh tuntutan dan perlombaan tanpa akhir, kita sering kali lupa berhenti sejenak untuk melihat apa yang telah kita miliki. Kita terlalu sibuk mengejar yang belum ada, hingga luput menyadari betapa banyak anugerah yang telah tertambat dalam keseharian. Di sinilah syukur hadir—bukan sekadar ekspresi keagamaan, tetapi juga kekuatan psikologis yang mampu menyembuhkan dan menguatkan jiwa. Dalam pandangan psikologi, syukur adalah emosi positif yang lahir dari kesadaran akan kebaikan yang kita terima, baik dari orang lain, situasi tertentu, maupun dari kekuatan yang lebih tinggi. Lebih dalam dari sekadar ucapan terima kasih, syukur adalah pengakuan tulus bahwa hidup ini, meski tak sempurna, tetap penuh berkah.
Seorang ahli psikologi positif, Robert Emmons, menyebutkan bahwa syukur adalah “a felt sense of wonder, thankfulness, and appreciation for life, Artinya, syukur adalah rasa kagum dan penghargaan atas kehidupan itu sendiri. Ia bukan reaksi pasif, melainkan kebiasaan batin yang mampu dibentuk.
Syukur itu Perintah Agama
Banyak di antara kita yang mengira bahwa bersyukur itu hanya soal sopan santun spiritual. Sekadar berkata alhamdulillah ketika mendapat rezeki, atau saat sedang diberi kemudahan. Dalam ajaran Islam, syukur bukan sekadar ajakan atau anjuran tetapi merupakan perintah langsung dari Allah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 152, Allah berfirman: “Fadzkuruni adzkurkum, wasykuruli wa la takfurun” — “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kufur.” Di sini, kata wasykuruli (bersyukurlah kepada-Ku) adalah bentuk perintah, bukan saran. Artinya, Allah mewajibkan hamba-Nya untuk bersyukur. Dalam konteks ini, Allah menunjukkan bahwa syukur memiliki posisi penting dalam kehidupan beragama. Tidak boleh dianggap sepele, apalagi diabaikan.
Sesuatu dari Allah
Kenapa syukur itu diperintahkan? Karena perilaku syukur itu menunjukkan kesadaran bahwa segala sesuatu datang dari Allah. Kita tidak memiliki apa pun tanpa izin dan kuasa-Nya. Napas, waktu, pekerjaan, keluarga, kesehatan semua adalah karunia. Maka, bersyukur adalah bentuk pengakuan atas ketergantungan kita kepada-Nya. Di samping itu, perilaku syukur merupakan cara kita menjaga nikmat. Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah menegaskan: “La’in syakartum la’aziidannakum wa la’inkafartum inna ‘adzaabi lasyadiid.” : ’Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur, maka azab-Ku sangat pedih’. Oleh karena itu perilaku syukur itu akan membuka jalan ditambahkannya nikmat, sedangkan kufur bisa mendatangkan musibah dan azab.
Poin berikutnya mengapa syukur itu diperintahkan adalah karena perilaku syukur bisa menjadi benteng dari penyakit hati. Orang yang terbiasa bersyukur tidak mudah iri, tidak mudah mengeluh, dan tidak gampang putus asa. Ia fokus pada apa yang dimilikinya, bukan sibuk membandingkan dengan orang lain. Hidup jadi lebih tenang dan sehat, karena sesungguhnya syukur itu menyehatkan mental, emosional, bahkan fisik. Syukur bukanlah retorika, ia adalah bentuk kesadaran, ketaatan, dan tanggung jawab seorang hamba kepada Tuhannya. Maka, sudah waktunya kita membiasakan diri untuk hidup dalam rasa syukur. Bukan hanya ketika senang, tapi juga saat menghadapi kesulitan. Karena selalu ada sisi nikmat dalam setiap ujian, jika kita mau mencarinya.
Penulis adalah dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...
Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton
Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...
Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu
Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...
MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup
Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...






