Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Syukur, Bukan Sekadar Terima Kasih

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Jumat, 18 Juli 2025 11:16 WIB
Syukur, Bukan Sekadar Terima Kasih
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Soleh Amini Yahman (Dok. pribadi).

Syukur merupakan konsep sentral dalam Islam sekaligus menjadi salah satu fondasi pendekatan psikologi positif modern. Kolom ini mengkaji makna syukur tidak hanya sebagai ekspresi verbal, tetapi sebagai konstruksi psikologis yang dalam dan transformasional. Dengan menggunakan pendekatan psikologi positif dan nilai-nilai keislaman sebagaimana diajarkan dalam Muhammadiyah, tulisan ini menunjukkan bahwa syukur adalah kekuatan karakter yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesehatan mental, ketahanan spiritual, dan kontribusi sosial.

Di tengah kehidupan yang penuh tuntutan dan perlombaan tanpa akhir, kita sering kali lupa berhenti sejenak untuk melihat apa yang telah kita miliki. Kita terlalu sibuk mengejar yang belum ada, hingga luput menyadari betapa banyak anugerah yang telah tertambat dalam keseharian. Di sinilah syukur hadir—bukan sekadar ekspresi keagamaan, tetapi juga kekuatan psikologis yang mampu menyembuhkan dan menguatkan jiwa. Dalam pandangan psikologi, syukur adalah emosi positif yang lahir dari kesadaran akan kebaikan yang kita terima, baik dari orang lain, situasi tertentu, maupun dari kekuatan yang lebih tinggi. Lebih dalam dari sekadar ucapan terima kasih, syukur adalah pengakuan tulus bahwa hidup ini, meski tak sempurna, tetap penuh berkah.

Seorang ahli psikologi positif, Robert Emmons, menyebutkan bahwa syukur adalah “a felt sense of wonder, thankfulness, and appreciation for life, Artinya, syukur adalah rasa kagum dan penghargaan atas kehidupan itu sendiri. Ia bukan reaksi pasif, melainkan kebiasaan batin yang mampu dibentuk.

Syukur itu Perintah Agama

Banyak di antara kita yang mengira bahwa bersyukur itu hanya soal sopan santun spiritual. Sekadar berkata alhamdulillah ketika mendapat rezeki, atau saat sedang diberi kemudahan. Dalam ajaran Islam, syukur bukan sekadar ajakan atau anjuran tetapi merupakan perintah langsung dari Allah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 152, Allah berfirman: “Fadzkuruni adzkurkum, wasykuruli wa la takfurun” — “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kufur.” Di sini, kata  wasykuruli (bersyukurlah kepada-Ku) adalah bentuk perintah, bukan saran. Artinya, Allah mewajibkan hamba-Nya untuk bersyukur. Dalam konteks ini,  Allah  menunjukkan bahwa syukur memiliki posisi penting dalam kehidupan beragama. Tidak boleh dianggap sepele, apalagi diabaikan.

Sesuatu dari Allah

Kenapa syukur itu diperintahkan? Karena perilaku syukur itu menunjukkan kesadaran bahwa segala sesuatu datang dari Allah. Kita tidak memiliki apa pun tanpa izin dan kuasa-Nya. Napas, waktu, pekerjaan, keluarga, kesehatan semua adalah karunia. Maka, bersyukur adalah bentuk pengakuan atas ketergantungan kita kepada-Nya. Di samping itu,  perilaku syukur merupakan cara kita menjaga nikmat. Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah menegaskan: “La’in syakartum la’aziidannakum wa la’inkafartum inna ‘adzaabi lasyadiid.” : ’Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur, maka azab-Ku sangat pedih’. Oleh karena itu perilaku syukur itu akan membuka jalan ditambahkannya nikmat, sedangkan kufur bisa mendatangkan musibah dan azab.

Poin berikutnya mengapa syukur itu diperintahkan adalah karena perilaku syukur bisa menjadi benteng dari penyakit hati. Orang yang terbiasa bersyukur tidak mudah iri, tidak mudah mengeluh, dan tidak gampang putus asa. Ia fokus pada apa yang dimilikinya, bukan sibuk membandingkan dengan orang lain. Hidup jadi lebih tenang dan sehat, karena sesungguhnya syukur itu menyehatkan mental, emosional, bahkan fisik. Syukur bukanlah retorika, ia adalah bentuk kesadaran, ketaatan, dan tanggung jawab seorang hamba kepada Tuhannya. Maka, sudah waktunya kita membiasakan diri untuk hidup dalam rasa syukur. Bukan hanya ketika senang, tapi juga saat menghadapi kesulitan. Karena selalu ada sisi nikmat dalam setiap ujian, jika kita mau mencarinya.

Penulis adalah dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Berita Terbaru

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...