Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Pelajaran Kesehatan dari Tragedi Turis Brasil di Gunung Rinjani

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Jumat, 11 Juli 2025 09:19 WIB
Pelajaran Kesehatan dari Tragedi Turis Brasil di Gunung Rinjani
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Dunia pendakian gunung kembali menggemparkan dunia. Kali ini kabar datang dari negara Indonesia. Salah satu turis dari Brazil dikabarkan ditemukan meninggal dunia setelah terperosok ke kawah Gunung Rinjani. Hal ini membuat dunia menjaid gempar, karena sebelumnya salah satu korban tersebut terlihat tangkapan kamera dari drone.

Saat itu kamera drone menyorot kawah Gunung Rinjani, terlihat turis asal Brazil, Juliana Espana, 26, masih terlihat berdiri, meskipun napas terlihat berat dan badan letih. Saat itu di hadapannya ada dua pilihan, yaitu tetap menunggu bantuan tim penyelamat datang atau memilih mengambil resiko menuruni terjalnya Gunung Rinjai. Pilihan terakhir yang dipilih menuntun kepada kematian. Diduga Juliana Espana terperosok sampai kedalaman 600meter dan empat hari kemudian ditemukan telah meninggal dunia.

Perlu diketahui bahwa Gunung Rinjani memang memiliki pesona keindahan menggoda yang luar biasa untuk didaki dan disinggahi. Namun, perlu diingat bahwa Gunung Rinjani juga menyimpan bahaya yang tidak bisa dianggap remeh. Jalur Gunung Rinjani terkenal ekstrem, cuaca yang tidak terduga dan bebatuan yang mudah longsor kapan saja ketika kita mendaki. Pada posisi saat itu,  kesiapan fisik dan metal pendaki menjadi penentu utama dalam keselamatan. Tragedi yang menimpa Turis Brazil tersebut benar – benar menyentuh Nurani dan empati dari dunia. Tidak hanya warga negara Brazil yang berduka, akan tetapi netizen dari berbagai negara turut bersuara atas tragedi ini. Bahkan, akun Instagram Presiden Prabowo Subianto diserbu oleh netizen baik di dalam ataupun di luar negeri supaya mendesak percepatan evakuasi sang turis Brazil tersebut.

Berkaca dari tragedi ini, menjadi refleksi diri tentang mendaki gunung yang terjal seperti Rinjani. Gunung tetaplah gunung. Gunung merupakan alam liar yang setiap orang yang ingin mendaki harus benar-benar mempersiapkan diri baik fisik ataupun mental, serta sangat memahami medan gunung tersebut. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan kesehatan saat akan mendaki gunung yang terjal. Bagaimana respons tubuh menghadapi cuaca ekstrem yang ada di puncak pegunungan.

Dari data penelitian terbaru dari Permatasari dan Sidarta (2021) dari Universitas Trisakti, ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan gejala Acute Mountain Sickness (AMS). Dari hasil penelitian tersebut,  sebanyak 73,3 persen pendaki yang memiliki kebiasaan beraktivitas fisik hanya mengalami AMS ringan, sementara lebih dari 50% pendaki yang tidak terbiasa berolahraga mengalami AMS sedang hingga berat. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh yang tidak dibiasakan bekerja keras sebelum mendaki akan sangat rentan terhadap perubahan tekanan udara dan oksigen di gunung.

Pada kejadian kasus yang ekstrem,  seperti hipotermi di mana suhu tubuh di bawah batas normal, banyak orang yang tidak menyadari bahwa tanda dan gejala hipotermi datang secara perlahan tetapi sangat mematikan. Penelitian New Hampshire pada tahun 2025 menjelaskan bagaimana fisiologis suhu pada malam hari di gunung bisa turun sangat drastis, bahkan pada waktu siang hari masih terasa hangat. Penelitian ini menjelaskan bahwa hipotermi benar – benar menjadi ancaman yang sangat serius yang bisa berujung fatal bagi seorang pendaki apabila tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin baik dari segi kesehatan, mental serta peralatan mendaki yang lengkap. Penelitian lain dari Jurnal Frontiers in Molecular Biosciences yang dirilis tahun 2025, menjelaskan bagaimana tubuh manusia melalui mekanisme protein Heat Shcok Proteins (HSPs) yang terus bekerja keras dalam mempertahankan kestabilan suhu di dalam tubuh manusia ketika dalam kondisi cuaca ekstrem. Namun, apabila mekanisme tersebut tidak didukung dengan supan energi, pakaian tebal, kondisi fisik, lingkungan maka tubuh akan menyerah serta menyebabkan terjadinya shock. Bahkan kondisi tersebut bisa berujung pada kasus kematian mendadak bagi pendaki.

Jarang Cedera

Penelitian yang lain dari Bagas Adi Permadi yang dirilis tahun 2025 juga menunjukkan bahwa mayoritas pendaki gunung yang melakukan persiapan fisik secara rutin sebelum mendaki menunjukkan hasil ketahanan tubuh yang lebih baik. Dari penelitian studi tersebut, ditemukan sekitar 86% pendaki laki – laki dan 68% pendaki perempuan memiliki aktivitas dengan kategori yang tinggi. Dan hasil dari penelitian tersebut menunjukkan mereka jarang mengalami cedera, kelelahan parah selama di jalur menanjak yang sulit.

Dari hasil penelitian tersebut seharusnya menjadi alarm bagi semua kalangan baik pendaki pemula, pendaki senior serta penyedia jasa wisata maupun otoritas petugas gunung setempat. Pentingnya edukasi tentang kesehatan serta keselamatan di gunung harus digalakkan untuk meminimalisasi kejadian kecelakaan ketika mendaki gunung.

Dari refleksi yang bisa dijadikan pelajaran dari tragedy turis dari negara Brazil, Juliana, adalah perlu adanya perubahan budaya dalam mendaki gunung. Persiapan baik fisik dan mental harus dilakukan minimal selama 2 – 4 minggu sebelum dilaksanakan pendakian gunung baik yang ekstrem ataupun tidak. Latihan kardiovasculer seperti berlari, bersepeda, treadmill, berenang dan penguatan otot inti dengan plank dan squat menjadi modal dasar yang wajib dilakukan bagi pendaki gunung.

Latihan dasar harus wajib dilakukan secara bertahap supaya tubuh tidak kaget menghadapi ketinggian gunung dengan suhu yang ekstrem. Hal lainnya yaitu pakaian yang digunakan harus mengikuti prinsip berlapis: lapisan dasar melindungi serta menjadi dasar untuk menyerap keringat, lapisan tengah untuk menjaga suhu panas tubuh dan lapisan luar terakhir melindungi dari angin dan hujan. Selain itu pendaki gunung wajib membawa perlengkapan survival seperti: peluit, lampu senter cadangan, kantong tidur dan alat komunikasi yang bisa melacak lokasi jika terjadi kondisi darurat seperti yang dialami oleh Juliana tersebut.

Terakhir, pendakian gunung harus dilakukan dalam kelompok dengan pembimbingan dari pemandu yang berpengalaman. Salah satu kesalahan yang sangat fatal adalah ketika mendaki atau turun gunung dengan kondisi tubuh yang sudah sangat lelah dan mental sudah sangat goyah. Dalam kondisi yang sangat ekstrem, bertahan di tempat, menjaga energi supaya terjaga dan membuat sinyal bantuan merupakan pilihan yang bijak dan tepat daripada memaksakan diri menempuh jalur yang kita tidak mengetahuinya.

Kejadian tragedi ini tentunya membuka mata dunia bahwa gunung tetaplah gunung, mau seindah apapun dengan latar foto Instagram yang memukau, ia tetap merupakan medan “neraka” serta ujian yang sangat mengerikan bagi mereka yang belum siap baik fisik maupun mental.

Mulai sekarang, mari kita ubah pola pikir kita bahwa mendaki gunung bukan hanya untuk menaklukkan alam, akan tetapi untuk bersama, berdamai dan berbahagia dengannya. Kesehatan dan keselamatan harus selalu menjadi prioritas yang paling utama dari apapun. Semoga kisah Juliana ini tidak hanya dikenang sebagai duka, akan tetapi juga sebagai titik balik bagi kita semua untuk bisa lebih bijak dalam menjaga diri diketinggian alam yang bernama gunung.

Penulis adalah dosen spesialis medikal bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment