
Pernahkah Anda memperhatikan belakangan ini burung perkutut mudah sekali dijumpai? Di kebun-kebun, di jalan-jalan, bahkan di pekarangan rumah sederhana sekalipun, suara “kukuruyuk” lirih nan khas itu terdengar bersahutan. Padahal, jika kita mundur ke tahun 1980-an, perkutut adalah burung “elite”. Harganya mahal, pemiliknya terbatas kalangan tertentu yang punya uang dan punya pengaruh. Ia bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan simbol status sosial.
Sebaliknya, burung prenjak dulunya umum dan murah. Mudah ditemui di semak-semak, sawah, dan kebun belakang rumah. Namun kini, prenjak justru sulit dijumpai. Ia seolah tergeser dari panggung kehidupan yang dulu ramai oleh suaranya yang riuh. Apa yang sebenarnya terjadi?
Fenomena ini, jika direnungkan lebih dalam, terasa seperti metafora sosial. Dulu, kompetensi diwakili oleh prenjak—burung kecil, lincah, bekerja keras, dan bersuara nyaring. Ia mewakili mereka yang mengandalkan kerja nyata, kontribusi jelas, meski mungkin tidak menonjol dalam penampilan.
Sementara perkutut, dengan bulunya yang tenang dan suaranya yang elegan, dahulu melambangkan koneksi atau akses. Ia tidak selalu lebih pintar atau berguna, tapi ia “dipelihara” dan dihargai karena siapa yang memilikinya, bukan karena apa yang ia lakukan.
Kini semuanya terbalik. Perkutut tak lagi eksklusif. Ia justru bertebaran di mana-mana. Seperti koneksi yang dulu bernilai mahal, sekarang menjamur dan sering tanpa kontrol. Banyak posisi, jabatan, bahkan keputusan penting, didominasi oleh mereka yang punya koneksi, meski tak punya kompetensi sebanding.
Sementara itu, si prenjak—burung pekerja keras—menghilang dari keramaian. Barangkali karena kalah bersaing, atau karena tidak lagi dilirik. Seperti pekerja andal, pemikir tulus, atau pendidik sejati yang perlahan tersisih dari sistem yang lebih mengutamakan siapa yang dikenal, bukan apa yang dikerjakan.
Siklus Kehidupan
Siklus kehidupan memang penuh ironi. Kadang yang dahulu langka menjadi biasa. Yang dulu biasa, kini langka. Tapi dari fenomena burung-burung ini, kita bisa belajar bahwa dalam masyarakat, penting untuk menjaga keseimbangan antara koneksi dan kompetensi. Koneksi tanpa kemampuan hanya akan menghasilkan sistem rapuh. Sedangkan kompetensi tanpa peluang hanya akan membuat potensi terpendam.
Mungkin sudah waktunya kita belajar dari prenjak dan perkutut. Bahwa yang penting bukan seberapa sering kita terdengar, atau siapa yang memelihara kita—tapi apakah kita benar-benar memberi makna dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini.
Ngisor Pring
Jum’at, 13 Juni 2025
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...





