Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Maraknya Burung Perkutut: Kompetensi Kalah dengan Koneksi?

Ki Pujo Wardaya, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 14 Juni 2025 15:47 WIB
Maraknya Burung Perkutut: Kompetensi Kalah dengan Koneksi?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ki Pujiono saat memainkan Wayang Golek Pitutur di SD Muhammadiyah 22, Sruni, Kota Solo, Sabtu (18/1/2025). (Istimewa).

Pernahkah Anda memperhatikan belakangan ini burung perkutut mudah sekali dijumpai? Di kebun-kebun, di jalan-jalan, bahkan di pekarangan rumah sederhana sekalipun, suara “kukuruyuk” lirih nan khas itu terdengar bersahutan. Padahal,  jika kita mundur ke tahun 1980-an, perkutut adalah burung “elite”. Harganya mahal, pemiliknya terbatas kalangan tertentu yang punya uang dan punya pengaruh. Ia bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan simbol status sosial.

Sebaliknya, burung prenjak dulunya umum dan murah. Mudah ditemui di semak-semak, sawah, dan kebun belakang rumah. Namun kini, prenjak justru sulit dijumpai. Ia seolah tergeser dari panggung kehidupan yang dulu ramai oleh suaranya yang riuh. Apa yang sebenarnya terjadi?

Fenomena ini, jika direnungkan lebih dalam, terasa seperti metafora sosial. Dulu, kompetensi diwakili oleh prenjak—burung kecil, lincah, bekerja keras, dan bersuara nyaring. Ia mewakili mereka yang mengandalkan kerja nyata, kontribusi jelas, meski mungkin tidak menonjol dalam penampilan.

Sementara perkutut, dengan bulunya yang tenang dan suaranya yang elegan, dahulu melambangkan koneksi atau akses. Ia tidak selalu lebih pintar atau berguna, tapi ia “dipelihara” dan dihargai karena siapa yang memilikinya, bukan karena apa yang ia lakukan.

Kini semuanya terbalik. Perkutut tak lagi eksklusif. Ia justru bertebaran di mana-mana. Seperti koneksi yang dulu bernilai mahal, sekarang menjamur dan sering tanpa kontrol. Banyak posisi, jabatan, bahkan keputusan penting, didominasi oleh mereka yang punya koneksi, meski tak punya kompetensi sebanding.

Sementara itu, si prenjak—burung pekerja keras—menghilang dari keramaian. Barangkali karena kalah bersaing, atau karena tidak lagi dilirik. Seperti pekerja andal, pemikir tulus, atau pendidik sejati yang perlahan tersisih dari sistem yang lebih mengutamakan siapa yang dikenal, bukan apa yang dikerjakan.

Siklus Kehidupan

Siklus kehidupan memang penuh ironi. Kadang yang dahulu langka menjadi biasa. Yang dulu biasa, kini langka. Tapi dari fenomena burung-burung ini, kita bisa belajar bahwa dalam masyarakat, penting untuk menjaga keseimbangan antara koneksi dan kompetensi. Koneksi tanpa kemampuan hanya akan menghasilkan sistem rapuh. Sedangkan kompetensi tanpa peluang hanya akan membuat potensi terpendam.

Mungkin sudah waktunya kita belajar dari prenjak dan perkutut. Bahwa yang penting bukan seberapa sering kita terdengar, atau siapa yang memelihara kita—tapi apakah kita benar-benar memberi makna dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini.

Ngisor Pring

Jum’at, 13 Juni 2025

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...