Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Pentingnya Komunikasi Efektif bagi Pejabat Publik

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Selasa, 27 Mei 2025 13:56 WIB
Pentingnya Komunikasi Efektif bagi Pejabat Publik
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Dunia kesehatan semakin viral setelah pernyataan blunder Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunawan Sadikin, di hadapan awak media ketika menyampaikan bahwa ukuran celana pria 33 – 34 cepat menghadap Allah SWT. Mengutip berita Kompas edisi Rabu (14/5/2025), Menkes menyatakan, untuk kaum pria dengan ukuran celana 33-34 siap-siap menghadap Allah SWT. Yang dimaksud menghadap Allah SWT di sini adalah cepat menghadap kepada kematian.

Setelah pernyataannya yang kontroversial, akhirnya Menkes mengklarifikasi bahwa yang dimaksud dengan pria ukuran 33 – 34 adalah para obesitas, memiliki berat badan berlebih. Hal ini disampaikan di hadapan awak media bahwa pernyataan itu memberikan analogi akan berbahayanya visceral fat atau lemak yang menumpuk di rongga perut dan mengelilingi organ penting yang disebabkan oleh makanan berlemak. Budi Gunawan Sadikin menyatakan, lemak yang menempel pada tempat yang tidak seharusnya menyebabkan sitokin pro-inflamasi.

Pernyataan Menkes Budi Gunawan Sadikin memang benar bahwa obesitas merupakan salah satu indikator utama yang bisa menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi Kesehatan. Hal ini sesuai hasil penelitian dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, bahwa penelitian pada tahun 2025 itu menguatkan, obesitas merupakan faktor risiko penting untuk berbagai penyakit serius, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Selain itu obesitas juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena membebani jantung, meningkatkan tekanan darah, kadar kolesterol jahat, dan menyebabkan resistensi insulin. Selain itu, obesitas juga terkait dengan peningkatan risiko stroke dan beberapa jenis kanker.

Bahkan obesitas memiliki risiko lebih besar yang bisa menyebabkan kematian mendadak.  Obesitas meningkatkan risiko penyakit jantung yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang berisiko pada sistem kardiovaskular. Peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL), resistensi insulin, dan kondisi sleep apnea atau berhenti bernafas sewaktu tidur.

Meskipun pernyataan Menkes Budi Gunawan Sadikin benar tentang risiko bahaya obesitas bagi kesehatan, tetapi pada tulisan ini yang kami soroti adalah bagaimana gaya komunikasi pejabat publik yang dinilai tidak bisa diterima oleh masyarakat karena diksi yang kurang tepat. Sebagai pejabat publik, salah satu indikator utama yang berperan dalam keberhasilan program adalah gaya komunikasi yang baik dan tepat, atau komunikasi efektif. Kesadaran Masyarakat Indonesia untuk pencegahan penyakit sangat kurang. Data ini didapatkan dari Riskesdas bahwa kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menjaga kesehatan masih sangat rendah. Menurut penelitian Kementerian Kesehatan, hanya 20% orang Indonesia peduli dengan kebersihan dan kesehatan.

Untuk itu pemerintah menggalakkan banyak penkes atau pendidikan kesehatan di berbagai sektor untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang kesehatan. Salah satu point yang menjadi takaran sebuah pendidikan kesehatan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat luas adalah gaya penyampaian komunikasi yang baik dan tepat yang bisa diterima baik oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan mengerti dan tergugah dengan meningkatkan kesadaran kesehatan diri sehingga berbagai penyakit serius bisa dicegah sedini mungkin. Sehingga perlu menghindari polemik karena pernyataan yang blunder dari pejabat publik.

Untuk itu hal yang wajib disoroti adalah bagaimana ke depan Menkes bisa menyampaikan pernyataan dengan menggunakan gaya bahasa komunikasi efektif yang mudah dipahami oleh masyarakat. Tentunya pernyataan Menkes dengan menganalogikan obesitas dan kesehatan dari ukuran celana 33 – 34 tentunya kurang tepat. Ini karena untuk mengategorikan obesitas menggunakan IMT (indeks massa tubuh) yang dihitung dengan menggunakan rumus yang diberikan Persagi (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) dalam 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang Perubahan (1994), bukanlah ukuran celana. IMT dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram (kg) dengan tinggi badan dalam meter (m). Jika IMT ≥30 berarti menandakan obesitas.

Kita pasti masih ingat pernyataan kontroversial Menkes pada Januari 2025, dia menyampaikan bahwa BPJS tidak dapat menanggung semua penyakit. Jadi masyarakat diminta untuk mendaftar asuransi swasta. Gaya Bahasa penyampaian komunikasi yang kurang tepat kembali menjadi blunder Menteri Kesehatan. Di saat perekonomian Indonesia baru menurun dan masyarakat Indonesia diwajibkan ikut BPJS, tetapi Menkes malah meminta masyarakat juga mendaftar asuransi swasta yang tidak murah.

Salah satu penyebab masalah komunikasi bisa terjadi karena latar belakang Menkes yang bukan bidang kesehatan, sehingga gaya bahasa penyampaian dari sisi medis ketika disampaikan oleh seorang insinyur menjadi kurang pas untuk diterima masyarakat. Budi Gunawan Sadikin merupakan salah satu Menteri Kesehatan dari kalangan non medis.

Solusi ke depan bagi Menteri Kesehatan untuk supaya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan statemen. Pejabat publik harus memiliki empati yang tinggi untuk masyarakat. Kemudian ke depan perlu memperbaiki gaya komunikasi yang baik antara lain dengan menghindari komunikasi yang kontroversial, fokus pada kejelasan, empati, dan kesederhanaan. Sampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti, hindari asumsi, dan dengarkan pendapat orang lain dengan tulus. Selain itu, hindari bahasa yang ambigu, gunakan humor dengan bijak, dan selalu perhatikan bahasa tubuh.

Selain itu dalam penyampaian statemen resmi, pejabat publik harus tepat dalam pemilihan diksi supaya masyarakat tidak salah paham. Humor dapat menjadi alat yang efektif, tetapi gunakan secara hati-hati agar tidak melukai perasaan orang lain. Seperti Kepala Kantor Komunikasi Keprisedenan Hasan Nasbi yang pernah viral karena menanggapi kejadian teror kepala babi di kantor majalah Tempo beberapa waktu lalu. Hasan Nasbi meminta kepala babi tersebut untuk dimasak dan dimakan saja.

Di tengah keprihatinan masyarakat saat ini, komunikasi efektif yang baik merupakan salah satu kunci agar program bisa dilaksanakan dengan baik kepada masyarakat Indonesia. Dengan komunikasi yang baik, masalah besar bisa teratasi. Sebaliknya komunikasi yang buruk bisa menyebabkan salah paham.

Masalah kecil menjadi besar.

Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment