Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Kerja Senyap Pers Mahasiswa, Bukan Sekadar Humas Kampus

Alfin Nur Ridwan, Editor: Sholahuddin
Senin, 19 Mei 2025 14:44 WIB
Kerja Senyap Pers Mahasiswa, Bukan Sekadar Humas Kampus
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Alfin Nur Ridwan (Dok. pribadi).

Kerja jurnalistik bukan sekadar merangkai kata-kata indah dalam sebuah narasi, atau sekadar mendistribusi informasi tanpa jelas sumber dan kredibilitasnya. Di balik setiap berita yang tersaji, ada peluh dan malam-malam panjang yang dilalui para jurnalis, termasuk mereka yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Namun, ironisnya, banyak yang menyebut LPM bergerak lambat. Mereka yang berkata demikian mungkin tidak pernah benar-benar memahami apa yang terjadi di balik layar redaksi.

Di ruang redaksi yang tidak luas, mahasiswa-mahasiswa dengan mata sembap duduk melingkar, berdiskusi tentang isu-isu yang mereka anggap layak diangkat. Bukan sekadar memilih topik yang menarik perhatian, tapi menimbang mana yang lebih penting untuk disuarakan. LPM bukan media arus utama yang berlomba-lomba menjadi yang tercepat. Mereka memilih untuk menjadi yang paling dalam, meski harus menggali lebih lama.

Liputan investigasi bukan sekadar datang, bertanya, dan selesai. Ada risiko yang harus ditanggung, ada pertanyaan yang harus disusun hati-hati agar tidak menyinggung narasumber. Ada data yang harus diverifikasi berkali-kali, sebab satu kesalahan kecil bisa berujung tuntutan besar. Di saat media lain mungkin sudah berlalu dengan headline bombastisnya, LPM masih berkutat pada satu kasus yang dianggap tak menarik bagi sebagian orang.

Mereka mengejar fakta, bukan sensasi. Mereka menelusuri dokumen, mewawancarai narasumber yang takut berbicara, merangkai potongan informasi yang tercecer. Mereka menggali isu-isu kampus yang tak dilirik media besar – mulai dari dugaan penyalahgunaan dana kegiatan mahasiswa hingga Ciu Bekonang yang mungkin tidak dianggap sebagai sebuah isu yang mesti diangkat ke permukaan. Semua dilakukan tanpa bayaran, hanya berbekal idealisme dan keyakinan bahwa kebenaran layak untuk diketahui.

Ketika berita akhirnya diterbitkan, banyak yang menganggap LPM terlambat. Padahal, mereka bukan terlambat. Mereka hanya menunggu hingga setiap fakta benar-benar terkonfirmasi. Mereka memilih untuk akurat ketimbang cepat, untuk benar ketimbang viral. Sebab bagi mereka, setiap berita bukan sekadar konten. Setiap berita adalah cerminan perjuangan, pengorbanan, dan komitmen terhadap prinsip-prinsip jurnalistik yang seharusnya tidak boleh dikorbankan demi mengejar jumlah klik atau likes.

Ada garis tegas yang memisahkan antara jurnalisme dan sekadar berbagi informasi. Garis itu bernama tanggung jawab. Dalam dunia yang bising oleh informasi yang berseliweran tanpa arah, kerja-kerja jurnalistik menjadi mercusuar yang seharusnya tetap tegak, menyoroti fakta di antara kabut opini dan rumor semata.

Jurnalisme bekerja dengan sistem, bukan insting. Seorang jurnalis tidak akan menulis berita hanya karena mendengar kabar simpang-siur di grup Whatsapp atau melihat unggahan viral di media sosial. Ia akan mencari sumber pertama, memverifikasi, mengonfirmasi ulang, mempertanyakan kembali, hingga akhirnya mengolah informasi itu menjadi sebuah berita yang dapat dipertanggungjawabkan. Ada proses pengecekan fakta, ada wawancara dengan narasumber kredibel, ada riset yang dilakukan demi satu hal: memastikan setiap kata yang tertulis adalah kebenaran, bukan sekadar kesan atau rekaan.

Pada akhirnya, dunia informasi akan terus bergerak, baik oleh mereka yang bekerja dengan prinsip-prinsip jurnalistik, maupun mereka yang asal share tanpa pertanggungjawaban. Tapi satu hal yang perlu kita ingat: jurnalisme mungkin tidak selalu yang tercepat, tidak selalu yang paling menghibur, tapi ia adalah yang paling bisa dipercaya. Karena dalam jurnalisme, setiap kata yang terbit telah melalui proses panjang yang penuh risiko dan pengorbanan. Dan itulah yang membuatnya lebih berharga dari sekadar konten viral yang berumur pendek.

Mereka bilang LPM lamban. Menarik sekali memang. Dalam dunia jurnalisme, lamban bukan berarti lelet, tetapi cermat. Kami tidak ingin bergegas menyebar berita hanya demi klik atau sensasi. Kami bergerak berdasarkan fakta, data, dan verifikasi. Berita bukanlah mi instan yang bisa disajikan cepat saji. Berita adalah hidangan penuh bumbu, disajikan dengan hati-hati, agar tidak menyesatkan pembaca. Kalau mereka terbiasa asal nyinyir tanpa data dan keterangan sumber yang jelas, maka wajar saja jika mereka menganggap kami lamban. Karena bagi mereka, kebenaran bukanlah prioritas. Yang penting, jumlah like banyak, pengikut bertambah.

Jadi, sebelum menyebut LPM lambat, cobalah datang ke ruang redaksi mereka. Duduklah bersama para mahasiswa jurnalis yang bekerja hingga larut malam tanpa imbalan. Saksikan bagaimana mereka bertukar argumen untuk memastikan setiap kalimat layak diterbitkan. Karena di sana, di ruang kecil yang penuh dengan secangkir kopi dingin dan kertas berserakan, mereka sedang berjuang untuk menjaga integritas berita di tengah gelombang informasi yang semakin mudah terdistorsi.

Penulis adalah anggota Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan UMS. 

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...