Berbicara tentang pendidikan tak mungkin ada habisnya. Seiring perkembangan zaman yang pesat, metode dan pengembangan pendidikan terus dicari solusinya oleh para pendidik agar bisa mencerdaskan anak bangsanya.
Telah banyak dikemukakan tentang teori-teori pendidikan. Namun untuk menyesuaikan dengan anak didik, perlu adanya kefokusan tersendiri untuk bisa mengembangkan potensi anak didik tersebut. Di negara-negara maju, pendidikan adalah yang utama demi keberlangsungan kemajuan bangsa tersebut.
Tak dapat dipungkiri pengembangan gaya pendidikan di negara maju sangat pesat dan selalu menyesuaikan dengan target pendidikan. Ini karena dengan pendidikanlah semua orang menjadi berpengetahuan. Baik buruknya suatu pendidikan tergantung pada negara atau suatu lembaga yang menaunginya.
Sebuah negara akan terlihat hebat jika pendidikan di negara tersebut terus maju untuk berkembang. Namun, sebuah negara akan terlihat terpuruk jika pendidikannya saja tak banyak diperbincangkan. Pendidikan menjadi sebuah hal penting dalam menjalani kehidupan.
Orang yang bodoh atau dalam tanda kutip tidak berpengetahuan mudah sekali dimanipulasi oleh orang-orang yang mempunyai hasrat untuk menjalankan kepentingan pribadi. Upaya menghapuskan kebodohan di atas muka bumi memang sudah sejak ratusan juta tahun yang lalu.
Mulai dari Socrates dengan gaya dialektisnya, ada juga sosok Nabi Muhammad yang membawa pencerahan atas kaum jahiliyah (bodoh) pada bangsa Arab dahulu dan lain sebagainya. Dari itulah yang kemudian sebuah masyarakat berkembang pesat dengan pendidikan.
Pendidikan Progresif John Dewey
John Dewey adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat yang menjadi salah satu perintis pemikiran pragmatisme serta pendidikan progresif. Ia dikenal sebagai kritikus sosial tentang pendidikan yang kemudian merintis dasar keilmuan di bidang psikologi pendidikan.
Ia lahir di Burlington pada tahun 1859 dan menempuh pendidikan di Baltimore. Semasa hidupnya, ia bekerja sebagai profesor di bidang filsafat dan pendidikan di beberapa universitas. Dewey menghasilkan karya tulis sebanyak 40 buku dan artikel yang sedikitnya berjumlah 700 artikel.
Pengaruhnya yang terpenting adalah pemikiran untuk menggunakan psikologi dalam kehidupan praktis. Di Amerika Serikat, ia menjadi pendiri dari laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Chicago dan juga yang kedua di Universitas Columbia.
Dalam pemikiran Dewey mengenai subjek pendidikan, anak berperan sebagai subjek utama dalam pengembangan kurikulum. Ia mengemukakan bahwa pendidikan harus bersifat demokrasi. Kurikulum harus dibuat sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta memiliki sifat keterbukaan dan fleksibel.
Dalam bukunya yang berjudul Democracy dan Education, ia memberikan landasan pengadaan pendidikan inkuiri yang sesuai dengan paham yang dianutnya dalam pendidikan yaitu konstruktivisme. Ia mempersiapkan pendidikan yang menghasilkan alumni yang dapat bekerja, menjadi warga negara dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara bebas.
Ia mengemukakan bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses perolehan pengetahuan, melainkan sebuah proses kreatif yang disertai penyelidikan. Melalui pembelajaran terpadu, perkembangan dan pertumbuhan anak dapat diintegrasikan dengan kemampuan pengetahuannya.
Dalam pandangan Dewey, peran pendidik dalam pembelajaran praktis adalah membentuk peserta didik agar dapat siap menjadi anggota masyarakat. Pendidik tidak berperan sebagai pembentuk kebiasaan tertentu bagi peserta didik.
Selain itu, pendidik juga tidak memaksakan kehendaknya kepada peserta didik. Kesiapan peserta didik sebagai anggota masyarakat wajib atas kesadarannya sendiri. Konsep learning by doing “belajar dengan melakukan” kemudian berkembang menjadi salah satu jenis pembelajaran, yaitu pembelajaran berbasis penyelesaian masalah.
Dewey meyakini penyelesaian masalah merupakan salah satu dari jenis proses berpikir aktif yang menghasilkan kesimpulan definitif secara hati-hati. Prinsip “belajar dengan melakukan” yang dikembangkan oleh Dewey dilandasi pemikiran pragmatisme.
Ada dua pemikiran utama dalam konsep pembelajarannya. Pertama, anak sudah ditakdirkan untuk menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki sifat aktif dalam belajar. Kedua, kehidupan anak di masa depan menjadi lebih siap melalui pembelajaran yang membuatnya bekerja.
Pendidikan ala Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah salah satu persyarikatan terbesar di Indonesia, berdiri pada 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Muhammadiyah juga banyak memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap bangsa Indonesia sendiri, terutamanya pada bidang pendidikan.
Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang di dalamnya juga termasuk di bidang pendidikan; Sekolah-sekolah, Pondok Pesantren, dan juga Universitas sudah banyak di jumpai di seluruh daerah di Indonesai, maka tak heran jika Muhammadiyah dengan gagasan pendidikannya banyak berkontriubusi Dalam mencerdaskan anak bangsa di Indonesia.
Pendidikan Muhammadiyah memiliki empat dasar semangat yaitu, pendidikan, pelayanan, dakwah, dan perkaderan. Empat semangat itu yang tidak boleh padam. Dengan empat etos atau Semangat kerja itulah semua Lembaga di Muhammadiyah berkembang dan menjadi besar saat ini, terutama dalam bidang Pendidikan.
Pendidikan merupakan suatu hal penting untuk Muhammadiyah. Dengan pendidikanlah umat islam akan tercerahkan sehingga sampai pada titik menjadi Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, sesuai apa yang tertuang dalam tujuan berdirinya Muhammadiyah. Maka tidak heran jika banyak para kader Muhammadiyah berdiaspora di bidang pendidikan baik dalam maupun luar negeri.
Kemudian kembali untuk mengembangkan Pendidikan di Muhammadiyah itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh pendirinya yaitu K.H. Ahmad Dahlan “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”.
Sejarah pendidikan Islam di Indonesia, khususnya Muhammadiyah, mengalami perjalanan panjang dengan berbagai tantangan dan perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal abad ke-20, Politik Etis membuka akses pendidikan Barat, tetapi juga menimbulkan dualisme antara sekolah sekuler dan pesantren tradisional.
Dalam situasi ini, K.H. Ahmad Dahlan merintis Sekolah Agama Modern yang mengintegrasikan ilmu sekuler dan agama, bertujuan untuk membangun sistem pendidikan Islam yang lebih maju. Gerakan ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk para kiai, saudagar, dan profesional.
Seiring berjalannya waktu, meskipun Indonesia mengalami pergolakan sosial dan peperangan, sistem pendidikan Islam terus berkembang. Muhammadiyah memainkan peran penting dalam menyebarluaskan model pendidikan integratif ke berbagai daerah.
Tokoh-tokoh seperti Yunus Anis dan Jenderal Sudirman turut serta dalam memastikan bahwa pendidikan Islam tetap berkembang di tengah kondisi yang tidak stabil. Ketika pemerintah menerapkan kebijakan sentralistik dan mendominasi sistem pendidikan melalui sekolah negeri, Muhammadiyah merespons dengan memperkuat institusi pendidikannya.
Pendidikan Muhammadiyah semakin terlembaga dan menjadi alternatif sekolah negeri dengan tambahan pendidikan agama. Peran aktif para aktivis Persyarikatan dan birokrat-PNS, seperti A.R. Fachruddin, turut membantu memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
Pada era reformasi, kebijakan pendidikan berubah menjadi lebih desentralistik, yang membuka ruang bagi munculnya berbagai model sekolah Islam modern. Muhammadiyah terus melakukan inovasi agar sistem pendidikannya tetap relevan dan unggul.
Aktivis muda, pegawai, dan profesional Persyarikatan memimpin transformasi ini dengan menemukan kembali nilai-nilai keunggulan Muhammadiyah dan menerapkannya dalam sistem pendidikan yang lebih maju.
Perjalanan panjang pendidikan Muhammadiyah menunjukkan komitmen yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan semangat inovasi dan integrasi ilmu agama serta sekuler, Muhammadiyah tetap menjadi pilar penting dalam mencerdaskan bangsa dan membangun masa depan pendidikan Islam di Indonesia.
Relevansi Pendidikan Progresif dengan Muhammadiyah
Pemikiran pendidikan John Dewey yang dikenal dengan progresivisme memiliki relevansi yang kuat dengan sistem pendidikan Muhammadiyah. Dewey menekankan pendidikan harus berbasis pengalaman, partisipatif, dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Ia berpendapat bahwa proses belajar harus demokratis dan menyiapkan peserta didik untuk kehidupan nyata melalui metode “belajar dengan melakukan” atau learning by doing. Dalam konteks Muhammadiyah, gagasan ini sejalan dengan sistem pendidikan yang diperkenalkan oleh K.H. Ahmad Dahlan.
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah mengintegrasikan ilmu sekuler dengan ilmu agama untuk menciptakan pendidikan yang holistik. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademis, tetapi juga nilai-nilai keislaman yang kuat.
Seperti halnya Dewey yang menekankan pentingnya pengalaman dalam belajar, Muhammadiyah juga menerapkan konsep pendidikan yang berorientasi pada praktik sosial dan pengabdian masyarakat. Selain itu, prinsip demokrasi dalam pendidikan yang dikedepankan oleh Dewey juga relevan dengan semangat pendidikan Muhammadiyah yang menekankan keterbukaan, kemandirian, dan kebebasan berpikir bagi peserta didik.
Pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga bertujuan untuk membentuk individu yang kritis, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial. Baik Dewey maupun Muhammadiyah sama-sama percaya bahwa pendidikan harus membentuk manusia yang siap menghadapi kehidupan dengan keterampilan praktis dan pemikiran reflektif.
Oleh karena itu, relevansi pemikiran Dewey dalam pendidikan Muhammadiyah terlihat jelas dalam penerapan metode pembelajaran yang inovatif, penguatan karakter peserta didik, serta pengembangan pendidikan yang adaptif dan berorientasi pada masa depan.
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...
Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah
Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...
Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...
Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone
Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...






