Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Syahwat Intelektual Moh. Hatta, Sang Gila Baca

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 25 Januari 2025 09:31 WIB
Syahwat Intelektual Moh. Hatta, Sang Gila Baca
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hanif Syairafi Wiratama (dok.pribadi).

Syahwat intelektual sekilas tampak tabu dalam kata syahwat. Namun, dalam tulisan ini, syahwat dimaknai secara luas sebagai hasrat yang mendalam untuk terus mencari pengetahuan, menggali ide-ide baru, dan memperluas horizon berpikir. Hasrat semacam ini bukan hanya tentang membaca buku atau mencari informasi, tetapi juga tentang mengejar pemahaman yang lebih mendalam terhadap dunia dan diri sendiri. Salah satu sosok yang dapat dianggap sebagai perwujudan dari syahwat intelektual ini adalah Mohammad Hatta, seorang tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang memiliki kegemaran luar biasa terhadap dunia literasi. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, diplomat, dan Wakil Presiden pertama Indonesia, Hatta juga dikenal sebagai seorang “gila baca” yang sangat haus akan ilmu pengetahuan.

Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sejak usia muda, Hatta telah menunjukkan minat yang besar terhadap pendidikan dan pengetahuan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah Belanda di Bukittinggi, lalu melanjutkan ke Sekolah Rakyat di Jakarta, dan akhirnya meraih pendidikan tinggi di Belanda, tempat ia menimba ilmu di Universitas Rotterdam dan kemudian Universitas Leiden. Di sana, Hatta tidak hanya mempelajari ekonomi, tetapi juga berbagai disiplin ilmu lainnya. Kecintaannya terhadap buku dan pengetahuan semakin berkembang ketika ia berada di Eropa.

Kebiasaan Hatta itu luar biasa. Salah satu karakteristik penting yang melekat pada dirinya adalah ketekunannya dalam membaca literatur dari berbagai penjuru dunia, baik itu mengenai ekonomi, politik, maupun filsafat. Hatta dikenal sebagai pribadi yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku ketimbang terlibat dalam kegiatan sosial lainnya. Menurut beberapa catatan, selama berada di Belanda, Hatta sering menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, menyelami berbagai literatur yang membuka wawasannya tentang dunia, bahkan mahar pernikahan beliau dengan istrinya adalah sebuah buku yang berjudul Alam Pikaran Yunani.

Buku-buku yang dibacanya sangat beragam. Sebagai contoh, dalam bidang ekonomi, Hatta banyak membaca karya-karya tokoh ekonomi klasik seperti Adam Smith, John Stuart Mill, dan Karl Marx. Di sisi lain, Hatta juga menunjukkan minat besar terhadap filsafat, sejarah, dan politik. Salah satu pengaruh besar yang membentuk pemikiran Hatta adalah pemikiran-pemikiran John Locke, seorang filsuf dan pemikir politik asal Inggris. Hal ini tercermin dalam sikap Hatta yang sangat mendukung prinsip-prinsip kebebasan individu, serta keyakinannya akan pentingnya pendidikan dan hak asasi manusia.

Kecintaan Hatta terhadap literasi dan pengetahuan tidak hanya terbatas pada kepentingan pribadi semata, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hatta menyadari betul bahwa kemerdekaan suatu bangsa tidak hanya dapat dicapai melalui perjuangan fisik, tetapi juga harus disertai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam hal pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Hatta berupaya memajukan pendidikan dan literasi di Indonesia, bahkan setelah kemerdekaan.

Syahwat intelektual Hatta juga tercermin dalam tulisannya yang memuat gagasan-gagasannya mengenai pembangunan ekonomi dan politik di Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul Indonesia Merdeka (1947), Hatta menggambarkan visi mengenai negara yang merdeka dan berdaulat dengan sistem ekonomi yang berkeadilan dan berbasis pada solidaritas sosial. Gagasan-gagasan ini tidak hanya berakar pada pemikirannya tentang kondisi sosial dan ekonomi Indonesia, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai referensi internasional yang ia pelajari.

Lebih jauh lagi, pada masa pemerintahan Republik Indonesia yang masih muda, Hatta menginisiasi pendirian lembaga-lembaga pendidikan yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, Hatta menekankan pentingnya pengajaran ilmu pengetahuan yang berbasis pada pendekatan yang lebih kritis dan analitis. Menurutnya, hanya dengan pendidikan yang baik dan pemahaman yang mendalam tentang berbagai ilmu, bangsa Indonesia dapat maju dan bersaing dengan negara-negara lain di dunia.

Hatta dan Literasi di Indonesia

Syahwat intelektual Hatta turut memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan literasi di Indonesia. Hatta percaya bahwa membaca adalah kunci untuk mencapai kemajuan. Oleh karena itu, ia sangat mendukung inisiatif untuk memperbanyak jumlah perpustakaan di Indonesia. Bahkan, Hatta dikenal sebagai sosok yang rajin mengumpulkan buku-buku dari berbagai negara dan menjadikannya sebagai bagian dari koleksi pribadi. Beberapa koleksi bukunya dapat ditemukan di perpustakaan universitas-universitas besar di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia dan Universitas Andalas.

Selain itu, Hatta juga berupaya mendorong para pemuda Indonesia untuk memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia sering kali berbicara mengenai pentingnya ilmu pengetahuan dalam berbagai pidato dan tulisan-tulisannya. Salah satu kutipan terkenal dari Hatta adalah, “Jangan takut untuk belajar, karena dengan belajar kita akan menemukan kebebasan sejati.”

Bahkan, setelah masa pemerintahan, Hatta terus mempromosikan pendidikan dan literasi melalui berbagai forum akademis. Buku-buku yang ia tulis dan ide-ide yang ia sebarkan menjadi fondasi penting dalam membangun wawasan intelektual Indonesia. Hatta tidak hanya dikenal sebagai seorang politikus, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang sangat mendalam, dengan syahwat intelektual yang tak pernah padam sepanjang hidupnya.

Mohammad Hatta adalah contoh nyata dari sosok yang memiliki syahwat intelektual yang sangat besar. Hasratnya untuk terus belajar dan membaca telah membentuk pemikiran-pemikiran cemerlang yang berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, serta pembangunan bangsa setelahnya. Dalam konteks ini, Hatta bukan hanya seorang pejuang kemerdekaan, tetapi juga seorang “gila baca” yang meyakini bahwa pengetahuan adalah salah satu kunci utama dalam mencapai kemajuan dan kemerdekaan sejati. Dengan begitu, semangat Hatta dalam mengejar ilmu pengetahuan dapat dijadikan inspirasi bagi generasi masa depan untuk terus meningkatkan kualitas intelektual dan mencintai dunia literasi.

Penulis adalah aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...