Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Mendidik untuk Membebaskan: Filosofi Pendidikan Paulo Freire

Dwi Kurniadi, Editor: Sholahuddin
Senin, 6 Januari 2025 08:19 WIB
Mendidik untuk Membebaskan: Filosofi Pendidikan Paulo Freire
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dwi Kurniadi (Dok. pribadi).

Paulo Freire, lahir pada 19 September 1921 di Recife, Brazil, dikenal sebagai tokoh revolusioner dalam dunia pendidikan. Dengan latar belakang keluarga yang sederhana, Freire tumbuh dalam lingkungan yang penuh tantangan sosial dan ekonomi. Perjuangannya dimulai sejak usia muda, ketika kemiskinan dan kelaparan melanda Brasil pada tahun 1930-an. Masa kecil yang penuh kesulitan tersebut memengaruhi cara pandangnya terhadap dunia dan akhirnya menjadi dasar bagi pemikirannya tentang pendidikan. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses belajar-mengajar, tetapi sebuah cara untuk membebaskan manusia dari penindasan dan membangun kemanusiaan yang sejati.

Freire melanjutkan pendidikan di Universitas Recife, mengambil jurusan hukum, sekaligus mempelajari filsafat dan psikologi bahasa. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai guru paruh waktu mengajar bahasa Portugis. Pengalaman hidupnya, bersama dengan pengaruh dari pemikir-pemikir seperti Shaull, membentuk fondasi pemikirannya tentang pendidikan yang lebih humanis. Bagi Freire, pendidikan bukanlah suatu proses yang memanusiakan, melainkan sebuah alat untuk mengaktualisasikan humanisasi itu sendiri. Dalam pandangan Freire, pendidikan adalah sarana untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk yang memiliki hak dan martabat yang sejajar.

Filsafat humanisme yang digagas Freire menjunjung tinggi nilai dan hak-hak kemanusiaan. Freire menganggap manusia sebagai subjek utama dalam pendidikan, bukan objek yang hanya diperlakukan sebagai penerima informasi. Menurutnya, pendidikan harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan menghindari segala bentuk ketimpangan. Sebagaimana dalam konsep humanisme Yunani kuno yang menganggap manusia sebagai kriteria dari segala sesuatu, Freire juga percaya bahwa manusia harus ditempatkan pada posisi terpenting dalam proses pendidikan.

Bagi Freire, pendidikan haruslah bersifat pembebasan. Sistem pendidikan yang selama ini ada, terutama yang disebutnya sebagai pendidikan gaya bank, adalah sistem yang menindas. Dalam model ini, dosen berperan sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, sementara mahasiswa hanya menjadi penerima pasif dari informasi yang diberikan. Dalam sistem ini, tidak ada ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis atau mengembangkan ide-ide mereka sendiri. Mereka hanya diminta untuk “menyimpan” pengetahuan yang diberikan dosen tanpa ada peran aktif dalam proses belajar.

Freire mengkritik pendidikan gaya bank ini karena menciptakan ketimpangan antara dosen dan mahasiswa. Menurutnya, pendidikan semacam ini memperlakukan mahasiswa sebagai objek, bukan sebagai subjek yang aktif dalam mencari pengetahuan. Oleh karena itu, Freire menggagas metode pendidikan yang berfokus pada peran aktif mahasiswa, yang disebut dengan metode pendidikan hadap-masalah. Dalam metode ini, mahasiswa bukan sekadar mendengarkan ceramah dosen, melainkan berpartisipasi dalam dialog dan diskusi untuk memahami realitas yang ada di sekitar mereka. Pendidikan menjadi sebuah proses dialektis, di mana pengetahuan yang dimiliki dosen tidak dipandang sebagai satu-satunya kebenaran, tetapi sebagai bahan untuk diskusi dan refleksi bersama.

Metode pendidikan hadap-masalah yang digagas Freire bertujuan untuk mengembangkan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa. Dengan pendekatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami permasalahan sosial dan politik yang ada, serta mencari solusi yang tepat untuk menghadapinya. Freire menekankan bahwa manusia harus diposisikan sebagai subjek yang mampu mengubah realitas, bukan hanya beradaptasi dengan kondisi yang ada. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah alat untuk memperjuangkan perubahan sosial yang lebih adil dan manusiawi.

Humanisasi menjadi inti dari seluruh pemikiran pendidikan Freire. Ia percaya pendidikan harus menciptakan manusia yang lebih manusiawi, yang sadar akan hak dan tanggung jawabnya terhadap sesama. Freire menyebutkan, humanisasi adalah fitrah manusia, sementara dehumanisasi adalah penyimpangan dari fitrah tersebut. Dehumanisasi terjadi ketika manusia diperlakukan sebagai objek atau ketika hak-hak mereka dirampas oleh sistem sosial yang tidak adil. Oleh karena itu, Freire menganggap bahwa upaya untuk mencapai humanisasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan.

Bagi Freire, pendidikan adalah pembebasan. Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga soal memberi kesempatan kepada individu untuk membebaskan diri dari ketertindasan. Ia meyakini bahwa pendidikan harus mengarah pada pembentukan kesadaran kritis yang memungkinkan individu untuk melihat dan memahami ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Dalam buku terkenalnya, Pedagogy of the Oppressed yang kemudian diterjemahkan menjadi Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menegaskan, pendidikan harus berfungsi untuk memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, baik itu penindasan sosial, politik, ataupun ekonomi.

Menuju Kesadaran Kritis

Freire menyatakan,  untuk mencapai pembebasan, manusia harus terlebih dahulu menyadari keadaan mereka yang tertindas. Pendidikan, menurut Freire, adalah proses untuk membawa individu dari kesadaran naif menuju kesadaran kritis, di mana mereka tidak hanya menerima kenyataan yang ada begitu saja, tetapi mampu melihat struktur sosial yang menindas dan mencari cara untuk mengubahnya. Dalam pandangan Freire, pendidikan harus membebaskan individu dari pengaruh ideologi yang menindas, serta memberi mereka kekuatan untuk merubah realitas sosial yang tidak adil.

Konsep pendidikan pembebasan yang digagas Freire sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan masa kini, terutama di bangku perkuliahan. Banyak mahasiswa yang masih terjebak dalam pola pikir yang pasif, menerima begitu saja informasi yang diberikan oleh dosen tanpa mempertanyakan atau menganalisisnya. Oleh karena itu, penerapan metode pendidikan hadap-masalah yang mengutamakan dialog dan diskusi menjadi sangat penting. Mahasiswa harus diajak untuk berpikir kritis, melihat masalah dari berbagai perspektif, dan berperan aktif dalam mencari solusi.

Pendidikan yang membebaskan ini juga harus menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri secara utuh, bukan hanya dalam aspek intelektual, tetapi juga dalam aspek moral dan sosial. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga individu yang peduli terhadap kemanusiaan dan keadilan sosial. Pendidikan yang membebaskan akan memungkinkan mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi.

Dalam upaya menuju pendidikan yang lebih baik, kita harus kembali mengingat pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan sebagai proses humanisasi. Pendidikan harus memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang menjadi manusia yang utuh, yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki empati, kesadaran sosial, dan keberanian untuk memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Freire mengajarkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar untuk menimba ilmu, tetapi untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan.

Penulis adalah kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah  Pondok Shabran UMS

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...