Paulo Freire, lahir pada 19 September 1921 di Recife, Brazil, dikenal sebagai tokoh revolusioner dalam dunia pendidikan. Dengan latar belakang keluarga yang sederhana, Freire tumbuh dalam lingkungan yang penuh tantangan sosial dan ekonomi. Perjuangannya dimulai sejak usia muda, ketika kemiskinan dan kelaparan melanda Brasil pada tahun 1930-an. Masa kecil yang penuh kesulitan tersebut memengaruhi cara pandangnya terhadap dunia dan akhirnya menjadi dasar bagi pemikirannya tentang pendidikan. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses belajar-mengajar, tetapi sebuah cara untuk membebaskan manusia dari penindasan dan membangun kemanusiaan yang sejati.
Freire melanjutkan pendidikan di Universitas Recife, mengambil jurusan hukum, sekaligus mempelajari filsafat dan psikologi bahasa. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai guru paruh waktu mengajar bahasa Portugis. Pengalaman hidupnya, bersama dengan pengaruh dari pemikir-pemikir seperti Shaull, membentuk fondasi pemikirannya tentang pendidikan yang lebih humanis. Bagi Freire, pendidikan bukanlah suatu proses yang memanusiakan, melainkan sebuah alat untuk mengaktualisasikan humanisasi itu sendiri. Dalam pandangan Freire, pendidikan adalah sarana untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk yang memiliki hak dan martabat yang sejajar.
Filsafat humanisme yang digagas Freire menjunjung tinggi nilai dan hak-hak kemanusiaan. Freire menganggap manusia sebagai subjek utama dalam pendidikan, bukan objek yang hanya diperlakukan sebagai penerima informasi. Menurutnya, pendidikan harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan menghindari segala bentuk ketimpangan. Sebagaimana dalam konsep humanisme Yunani kuno yang menganggap manusia sebagai kriteria dari segala sesuatu, Freire juga percaya bahwa manusia harus ditempatkan pada posisi terpenting dalam proses pendidikan.
Bagi Freire, pendidikan haruslah bersifat pembebasan. Sistem pendidikan yang selama ini ada, terutama yang disebutnya sebagai pendidikan gaya bank, adalah sistem yang menindas. Dalam model ini, dosen berperan sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, sementara mahasiswa hanya menjadi penerima pasif dari informasi yang diberikan. Dalam sistem ini, tidak ada ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis atau mengembangkan ide-ide mereka sendiri. Mereka hanya diminta untuk “menyimpan” pengetahuan yang diberikan dosen tanpa ada peran aktif dalam proses belajar.
Freire mengkritik pendidikan gaya bank ini karena menciptakan ketimpangan antara dosen dan mahasiswa. Menurutnya, pendidikan semacam ini memperlakukan mahasiswa sebagai objek, bukan sebagai subjek yang aktif dalam mencari pengetahuan. Oleh karena itu, Freire menggagas metode pendidikan yang berfokus pada peran aktif mahasiswa, yang disebut dengan metode pendidikan hadap-masalah. Dalam metode ini, mahasiswa bukan sekadar mendengarkan ceramah dosen, melainkan berpartisipasi dalam dialog dan diskusi untuk memahami realitas yang ada di sekitar mereka. Pendidikan menjadi sebuah proses dialektis, di mana pengetahuan yang dimiliki dosen tidak dipandang sebagai satu-satunya kebenaran, tetapi sebagai bahan untuk diskusi dan refleksi bersama.
Metode pendidikan hadap-masalah yang digagas Freire bertujuan untuk mengembangkan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa. Dengan pendekatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami permasalahan sosial dan politik yang ada, serta mencari solusi yang tepat untuk menghadapinya. Freire menekankan bahwa manusia harus diposisikan sebagai subjek yang mampu mengubah realitas, bukan hanya beradaptasi dengan kondisi yang ada. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah alat untuk memperjuangkan perubahan sosial yang lebih adil dan manusiawi.
Humanisasi menjadi inti dari seluruh pemikiran pendidikan Freire. Ia percaya pendidikan harus menciptakan manusia yang lebih manusiawi, yang sadar akan hak dan tanggung jawabnya terhadap sesama. Freire menyebutkan, humanisasi adalah fitrah manusia, sementara dehumanisasi adalah penyimpangan dari fitrah tersebut. Dehumanisasi terjadi ketika manusia diperlakukan sebagai objek atau ketika hak-hak mereka dirampas oleh sistem sosial yang tidak adil. Oleh karena itu, Freire menganggap bahwa upaya untuk mencapai humanisasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan.
Bagi Freire, pendidikan adalah pembebasan. Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga soal memberi kesempatan kepada individu untuk membebaskan diri dari ketertindasan. Ia meyakini bahwa pendidikan harus mengarah pada pembentukan kesadaran kritis yang memungkinkan individu untuk melihat dan memahami ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Dalam buku terkenalnya, Pedagogy of the Oppressed yang kemudian diterjemahkan menjadi Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menegaskan, pendidikan harus berfungsi untuk memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, baik itu penindasan sosial, politik, ataupun ekonomi.
Menuju Kesadaran Kritis
Freire menyatakan, untuk mencapai pembebasan, manusia harus terlebih dahulu menyadari keadaan mereka yang tertindas. Pendidikan, menurut Freire, adalah proses untuk membawa individu dari kesadaran naif menuju kesadaran kritis, di mana mereka tidak hanya menerima kenyataan yang ada begitu saja, tetapi mampu melihat struktur sosial yang menindas dan mencari cara untuk mengubahnya. Dalam pandangan Freire, pendidikan harus membebaskan individu dari pengaruh ideologi yang menindas, serta memberi mereka kekuatan untuk merubah realitas sosial yang tidak adil.
Konsep pendidikan pembebasan yang digagas Freire sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan masa kini, terutama di bangku perkuliahan. Banyak mahasiswa yang masih terjebak dalam pola pikir yang pasif, menerima begitu saja informasi yang diberikan oleh dosen tanpa mempertanyakan atau menganalisisnya. Oleh karena itu, penerapan metode pendidikan hadap-masalah yang mengutamakan dialog dan diskusi menjadi sangat penting. Mahasiswa harus diajak untuk berpikir kritis, melihat masalah dari berbagai perspektif, dan berperan aktif dalam mencari solusi.
Pendidikan yang membebaskan ini juga harus menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri secara utuh, bukan hanya dalam aspek intelektual, tetapi juga dalam aspek moral dan sosial. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga individu yang peduli terhadap kemanusiaan dan keadilan sosial. Pendidikan yang membebaskan akan memungkinkan mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi.
Dalam upaya menuju pendidikan yang lebih baik, kita harus kembali mengingat pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan sebagai proses humanisasi. Pendidikan harus memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang menjadi manusia yang utuh, yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki empati, kesadaran sosial, dan keberanian untuk memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Freire mengajarkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar untuk menimba ilmu, tetapi untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan.
Penulis adalah kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pondok Shabran UMS
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






