Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Ketika Dakwah Kehilangan Rasa

Amtsal Ajhar, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 4 Januari 2025 13:32 WIB
Ketika Dakwah Kehilangan Rasa
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Amtsal Ajhar (Dok. prinadi).

Dakwah adalah seni menyampaikan kebenaran—sebuah seni yang tidak hanya bergantung pada substansi, tetapi juga cara penyampaiannya. Sebagaimana seni lainnya, dakwah menuntut kepekaan terhadap audiens dan situasi. Dalam tradisi Islam, Rasulullah SAW telah mencontohkan bahwa kelembutan, kasih sayang, dan hikmah adalah inti dari dakwah yang efektif. Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl: 125).

Namun, dalam dunia yang semakin kompleks ini, sering kali esensi dakwah tergantikan oleh ujaran yang tajam, merendahkan, atau bahkan menghakimi. Hal ini menunjukkan adanya jarak dari teladan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, mengingatkan bahwa, “Hati manusia adalah cermin, dan dakwah yang benar adalah cahaya yang memantulkan keindahan Ilahi di dalamnya.” Jika dakwah disampaikan dengan merendahkan dan ejekan ia tidak hanya gagal menyampaikan kebenaran, tetapi juga merusak cermin hati yang hendak disentuh. Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah, menekankan pentingnya memahami konteks sosial dalam berinteraksi dengan manusia. Menurutnya, “Manusia adalah makhluk sosial yang saling memengaruhi  ajakan kepada kebaikan harus disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat.” Dalam dakwah, pendekatan yang keras tanpa pertimbangan bisa menciptakan resistensi, alih-alih penerimaan. Maka, masihkah dakwah kita memiliki rasa? Jika dakwah tidak mampu menembus hati manusia karena kehilangan kelembutan dan hikmah, ia berisiko menjadi sekadar ujaran kosong. Sebagaimana dikatakan Rumi, “Kata-kata adalah obat; beberapa menyembuhkan, sementara yang lain melukai.”

Dakwah dengan Kelembutan

Dakwah yang penuh kelembutan adalah obat bagi hati, menuntun manusia pada kebaikan tanpa paksaan, melainkan melalui cinta dan kebijaksanaan. Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan oleh peristiwa yang menyentuh ranah etika dalam berdakwah. Seorang penceramah dikenal mengomentari seorang penjual sederhana dengan nada yang dianggap merendahkan. Penjual es teh yang tengah mencari nafkah halal itu tiba-tiba menjadi sasaran ejekan yang disampaikan dalam sebuah forum dakwah. Apa yang semestinya menjadi momen pembelajaran penuh hikmah berubah menjadi sorotan karena kurangnya empati dan rasa hormat. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar,  untuk siapa dakwah ditujukan? Dakwah sejatinya adalah jembatan antara manusia dan Tuhannya, bukan panggung untuk menunjukkan superioritas. Rasulullah SAW, yang kita jadikan teladan utama, selalu menempatkan kelembutan dan penghargaan pada sesama manusia dalam setiap dakwahnya. Bahkan kepada mereka yang jelas-jelas menentangnya, beliau tetap santun dan menghormati. Lalu, mengapa kita, yang jauh dari kesempurnaan, merasa berhak untuk menghakimi orang lain?

Di tengah masyarakat, pekerjaan sederhana seperti menjual minuman di pinggir jalan sering kali dipandang sebelah mata. Padahal, tidak ada yang lebih mulia daripada mencari rezeki dengan cara yang halal. Pekerjaan itu, meskipun sederhana, menjadi bukti ketekunan, keberanian, dan keikhlasan. Bagi penjual es teh yang bekerja di bawah terik matahari atau dinginnya hujan, setiap tetes keringat adalah bentuk ibadah. Ironisnya, dalam situasi ini,  penceramah justru gagal melihat sisi kemuliaan tersebut. Perkataannya yang seharusnya membawa kesejukan malah menyayat hati. Alih-alih menjadi sarana dakwah, ia menjadi tembok pemisah antara sang penceramah dan masyarakat yang ingin ia rangkul. Dakwah kehilangan rasa ketika pesan yang disampaikan tidak mampu menyentuh hati.

Seorang penceramah sejati memahami bahwa dakwah adalah tentang membangun, bukan meruntuhkan. Dalam Islam, tidak ada ruang untuk menghina atau merendahkan sesama manusia, apa pun latar belakang atau pekerjaannya. Sebaliknya, penceramah yang bijaksana akan mencari cara untuk mengangkat semangat, memotivasi, dan memberi penghargaan kepada siapa saja yang berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari kejadian ini? Pertama, dakwah bukan hanya soal ilmu yang dikuasai, tetapi juga akhlak yang dipraktikkan. Seorang penceramah yang pandai dalam beretorika namun lemah dalam menjaga hati pendengarnya akan sulit menyentuh jiwa. Kedua, masyarakat perlu diingatkan bahwa segala pekerjaan yang halal adalah mulia. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi selama itu dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar karena sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya jika niatnya tentu akan berjalan dengan baik begitupun sebaliknya.

Kita juga perlu merenungi kembali bagaimana dakwah dapat kembali pada esensinya. Dakwah yang baik yakni bagaikan seteguk es teh sederhana, menyejukkan, dan mampu menghilangkan dahaga. Ia tidak membutuhkan bumbu berlebihan berupa ejekan atau penghinaan, karena hal itu hanya akan membuat rasa menjadi pahit.

Pada akhirnya, dakwah adalah tentang membawa suatu kebaikan. Sebuah ucapan yang lembut dan menghormati sesama akan jauh lebih efektif daripada kata-kata tajam yang melukai. Sebagai seorang Muslim, baik penceramah maupun pendengar, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga akhlak dalam berinteraksi. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Dakwah adalah salah satu jalan menuju tujuan tersebut.

Kejadian ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dakwah adalah ladang kasih sayang, bukan tempat untuk menunjukkan keunggulan diri. Seorang penceramah yang rendah hati akan mampu menyentuh hati, sedangkan mereka yang memilih jalan kesombongan hanya akan menanamkan luka. Sudah saatnya kita kembali memurnikan dakwah, menjadikannya alat untuk menyebarkan kesejukan, sebagaimana es teh yang selalu menyegarkan di tengah panas terik matahari. Dengan kelembutan dan penghormatan yang tulus, dakwah semestinya menjadi jembatan intelektual yang menghubungkan hati dan pikiran, bukan tembok ego yang membentengi diri. Sebagaimana segelas es teh sederhana yang tak pernah memilih siapa penikmatnya, akhlak sejati terletak pada keikhlasan berbagi manfaat. Namun ironisnya, kita kerap terjebak dalam ilusi kemasan, melupakan substansi yang seharusnya menjadi inti dari perjalanan ini.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment