Setiap tanggal 28 November, kita merayakan Hari Menanam Pohon, sebuah momentum yang mengingatkan kita pada tanggung jawab terhadap lingkungan. Menanam pohon mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Pohon bukan hanya bagian dari lanskap, melainkan penjaga kehidupan, pelindung lingkungan, dan harapan bagi masa depan. Dalam konteks global, perubahan iklim dan deforestasi adalah tantangan yang nyata dan mendesak. Menurut Forest Watch Indonesia, Indonesia kehilangan rata-rata 684 ribu hektare hutan setiap tahun sejak 2001. Angka ini menjadi pengingat bahwa kita sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan paru-paru dunia.
Di dunia internasional, banyak negara telah menyadari urgensi tindakan melindungi hutan dan menanam pohon. Kampanye besar seperti The Trillion Tree Campaign yang dipimpin oleh PBB bertujuan untuk menanam satu triliun pohon di seluruh dunia. Indonesia memiliki program yang serupa seperti rehabilitasi lahan kritis melalui Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air dan Gerakan Revolusi Mental Lingkungan yang didukung oleh berbagai lembaga. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala, seperti minimnya partisipasi masyarakat dan lemahnya penegakan hukum terhadap alih fungsi lahan ilegal.
Dalam konteks perkotaan, urbanisasi dan alih fungsi lahan terus mengikis ruang hijau. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta menghadapi tekanan besar untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Berkurangnya ruang terbuka hijau berimbas pada buruknya kualitas udara, meningkatnya suhu perkotaan, hingga risiko banjir akibat minimnya area resapan air. Padahal, ruang hijau adalah aset yang tidak ternilai, yang menyerap polusi udara, mengurangi suhu kota, dan memberikan ruang hidup bagi burung serta serangga penyerbuk.
Pohon Pahlawan Sejati
Tidak semua tanaman memiliki manfaat ekologis yang sama, dan pohon adalah pahlawan sejati dalam pertempuran melawan perubahan iklim. Penelitian menunjukkan bahwa pohon dewasa mampu menyerap hingga 22 kg karbon dioksida per tahun, sekaligus menghasilkan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dua orang. Dibandingkan dengan tanaman semusim, rerumputan, atau tanaman komoditas seperti kelapa sawit, pohon memiliki keunggulan signifikan dalam menyimpan karbon dalam jangka panjang. Selain itu, pohon juga memberikan manfaat tambahan: memperbaiki struktur tanah, mengurangi risiko erosi, dan menjadi habitat bagi berbagai satwa liar. Sebaliknya, tanaman komoditas seperti kelapa sawit, meski bernilai ekonomi tinggi, seringkali tidak memberikan kontribusi ekologi yang sepadan. Siklus hidupnya yang lebih singkat dan fokus produksi yang mengedepankan keuntungan ekonomi membuat daya serap karbonnya tidak maksimal.
Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan penanaman pohon tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga jenisnya. Spesies lokal seperti trembesi, mangga, dan ketapang tidak hanya lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap hama dan penyakit. Dalam konteks konservasi, memilih spesies yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi tinggi dapat memberikan dampak ganda: memperbaiki ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menanam pohon bukan hanya tugas pemerintah atau komunitas lingkungan, tetapi tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran strategis untuk memfasilitasi gerakan ini. Kebijakan seperti penyediaan bibit gratis, perlindungan kawasan hutan, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan dapat menjadi langkah nyata. Di sisi lain, komunitas lingkungan dapat menjadi penggerak utama dalam mengorganisasi aksi tanam pohon bersama. Kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat umum—akan menjadi kunci sukses untuk menjaga keberlanjutan program ini.
Sebagai individu, kita dapat memulai langkah sederhana dengan menanam pohon di pekarangan rumah, memilih pohon yang memiliki manfaat ekologis dan ekonomis, seperti buah-buahan atau pohon peneduh. Selain itu, kita juga dapat bergabung dalam komunitas peduli lingkungan, menyumbang bibit, atau menjadi sukarelawan dalam program reforestasi. Hari Menanam Pohon adalah ajakan untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam. Menanam pohon bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi investasi jangka panjang bagi masa depan generasi mendatang. Pohon yang kita tanam hari ini bukan hanya menjadi peneduh atau penghasil oksigen, tetapi juga simbol harapan akan bumi yang lebih baik.
Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk bertindak selain sekarang. Dengan satu pohon yang Anda tanam, Anda turut menjaga napas kehidupan di masa depan. Mari kita bersama-sama hijaukan Indonesia, demi dunia yang lebih seimbang, sehat, dan lestari. Selamat Hari Menanam Pohon!
Aziz Akbar Mukasyaf, S.Hut., M.Sc., Ph.D. adalah Dosen Fakultas Geografi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






