Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Komunitas, Diskusi, dan Karya Buku: Ikhtiar Pelembagaan Amal Jariyah

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Jumat, 29 November 2024 00:01 WIB
Komunitas, Diskusi, dan Karya Buku: Ikhtiar Pelembagaan Amal Jariyah

Dari saya menulis buku berjudul Menjadi Intelektual Profetik: Pergumulan Pemikiran Aktivis Pendidikan Muhammadiyah, saya mengambil sebuah pelajaran berharga. Bahwa, sebuah lingkungan pertemanan (circle) yang mendukung literasi dan senang berdiskusi akan berdampak pada lahirnya sebuah karya buku. Seperti buku ini, September 2024 telah hadir cetakan pertama buku buah karya saya. Buku ini merupakan tulisan reflektif yang mencatat berbagai perbincangan dan pemikiran aktivitas pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Dari berdiskusi, saya menuliskan hasilnya menjadi sebuah artikel dan akhirnya bisa menjadi sebuah buku.

Saya, seorang guru yang telah 18 tahun mengabdi di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo. Saya bergelut di dunia pendidikan karena dorongan nurani. Dalam dunia pendidikan, tema literasi menjadi tema penting dan menjadi isu serta gerakan masif di tiap sekolah. Ini akibat dari perolehan skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia rendah.

Kata literasi menjadi sakral dan menjadi program utama di tiap sekolah formal. Sekolah beramai-ramai membuat program pojok literasi, membaca 10 menit sebelum pelajaran, membuat karya majalah dinding (madding), gerakan berkunjung ke perpustakaan, dan sebagainya. Semua itu demi satu tujuan, meningkatkan minat baca dan kualitas literasi.

Perihal Literasi

Program literasi menjadi arus utama di sekolah. Sebagai bagian dari sekolah, saya juga menaruh perhatian dalam hal literasi. Selain sebagai guru di sekolah Muhammadiyah, saya juga menjadi salah satu pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Salah satu bidang garap MPI, sangat terkait erat dengan kegiatan literasi.

Bagi Muhammadiyah, literasi memiliki peran strategis. Generasi awal di Muhammadiyah sangat menyadari betapa pentingnya ikhtiar membangun budaya literasi masyarakat. Tercatat dalam sejarah, bagian Taman Pustaka Muhammadiyah memiliki peran sangat vital dalam membangun masyarakat yang literat dan maju pada zamannya tersebut. Sampai saat ini pun, kita masih menikmati dan membaca majalah Suara Muhammadiyah yang merupakan produk literasi semenjak generasi awal. Dengan demikian, saya berpendapat bahwa literasi ini menjadi watak dasar dari gerakan organisasi yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Tradisi membaca idealnya harus kuat dan mengakar di masyarakat. Namun, apa daya permasalahan literasi baik di sekolah maupun masyarakat nampaknya sebatas level artifisial (buatan) semata. Level artifisial ditandai dengan sebatas membuat spanduk bertuliskan “ayo membaca”, menyediakan pojok literasi atau di awal pelajaran disediakan waktu 10 menit untuk membaca buku selain pelajaran.

Hemat saya, pelajaran membaca merupakan serangkaian keterampilan yang perlu diajarkan lebih panjang. Proses keterampilan membaca sebuah buku meliputi bagaimana membuat rangkuman, menceritakan kembali, menganotasi, mengkritisi isi buku, membandingkan, dan sampai beragumen dengan data. Pertanyaannya sekarang, sudahkan kita mengajarkan keterampilan membaca buku kepada siswa-siswi atau kader-kader muda Muhammadiyah?

Di era Artificial Intelligence (AI) sekarang ini, literasi justru harus lebih hidup dan bergairah. Kita memahami bagaimana seharusnya literasi itu menjadi sebuah sumber inspirasi dan sumber temuan-temuan baru di berbagai bidang. Sedangkan, AI hanyalah sebuah alat bantu untuk mencari referensi atau memantik ide. Namun, penguasaan literasi masyarakat kita sangat lemah. Akibatnya, kehadiran AI bisa menambah runyam situasi sosial masyarakat. Ancaman teknologi seperti munculnya hoaks yang berpotensi menghancurkan sendi-sendi sosial kemasyarakatan akan terjadi bila literasi masyarakat lemah.

Kemampuan literasi bukan sekadar menelan mentah-mentah apa yang diserap lewat pendengaran dan bacaan pustaka, tetapi juga mampu mengunyah dan mengolahnya sehingga dapat menginspirasi dan muncul pemahaman baru. Salah satu cara untuk menggairahkan gerakan literasi dan mencoba mengunyah informasi yang ada adalah dengan berdiskusi.

Guna mendinamisasi sebuah diskusi, kita bisa berupaya dengan membentuk atau bergabung dengan sebuah komunitas literasi. Melalui komunitas, kita akan menyelami sebuah bacaan dengan diskusi dan tukar pikiran. Hemat saya, mengingat pentingnya diskusi untuk menyelami bacaan, maka kami membentuk sebuah komunitas literasi bernama Tajdid Pendidikan.

Komunitas, Ikhtiar Menyelami Bacaan

Semangat dakwah dan tajdid Ahmad Dahlan harus kita tanamkan dan wariskan kepada generasi muda. Semangat untuk terus mengembangkan diri dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara intelektual, emosional dan spiritual serta memberikan kontribusi pada pengembangan kehidupan umat menjadi harapan Muhammadiyah. Semangat tajdid baik secara vertikal maupun horisontal menjadi obor penyemangat mewujudkan kemajuan dalam kehidupan.

Untuk mewujudkannya, salah satunya bisa dilakukan dengan memperkuat bidang literasi. Hadirnya komunitas Tajdid Pendidikan, yang secara fungsional menampilkan diskusi ataupun kajian terkait tema aktual menjadi hal yang strategis. Komunitas bisa melakukan bedah buku atau diskusi untuk menelaah isu pendidikan. Dengan demikian, sebuah komunitas bisa menjadi wadah memelihara semangat tajdid untuk pengembangan literasi menuju kehidupan yang lebih baik.

Sebagai gambaran kegiatan, komunitas Tajdid Pendidikan pernah berdiskusi tema periodisasi pendidikan Muhammadiyah. Diskusi ini untuk mendalami pemahaman karakteristik pendidikan Muhammadiyah. Untuk memudahkan kita memahami perjalanan pendidikan Muhammadiyah, maka dengan cara periodisasi, di mana waktu yang terus menerus bergerak dapat kita buat dan bagi kedalam unit-unit (babak) yang menjadi ciri khas kurun waktu tersebut.

Perbincangan dalam komunitas ini sebetulnya dimulai juga dengan memperbincangkan perkembangan pendidikan Islam pra-Muhammadiyah. Seperti di Solo misalnya, ada sekolah Mambaul Ulum yang mencoba mengintegrasikan pelajaran agama dan pelajaran umum. Namun, di forum diskusi ini kami mengupas lebih banyak terkait perjalanan periodisasi pendidikan Muhammadiyah.

Perbincangan tersebut kami awali dengan kajian sejarah perjalanan pendidikan Muhammadiyah terlebih dahulu. Harapan kami selaku generasi muda tentu tidak ingin tumbuh menjadi ahistoris. Ahistoris ini berpotensi akan menyebabkan salah menafsirkan ketika membaca sebuah realita baru yang kita hadapi. Demikian contoh gambaran proses dialektika yang terjadi dalam diskusi di komunitas kami.

Diskusi di komunitas Tajdid Pendidikan ini menjadi wadah untuk mengenal dan menyelami bacaan yang mengandung nilai-nilai juang dalam membangun peradaban. Bersama anggota lainnya, kami sering berdiskusi tema-tema pergerakan dakwah dan pendidikan. Setiap diskusi selesai, kami selalu membuat tulisan hasil diskusi dalam bentuk artikel yang biasanya di muat di media online untuk penyebaran informasi.

Selain dalam bentuk tulisan, diskusi komunitas kami juga rekam di kanal Youtube sebagai bentuk tanggungjawab moral dan sosial kami dalam dunia literasi. Beberapa tema diskusi yang pernah diangkat komunitas angkat antara lain seperti “Peran Murid Kiai Dahlan dalam Mengembangkan Muhammadiyah”; “Masjid sebagai Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia”; “Melahirkan Kader Militan”; “Muhammadiyah dan Inspirasi A.R. Fachruddin”; serta “Pendidikan Islam di era Reformasi”. Tema-tema diskusi tersebut menjadi salah satu bagian dari isi buku Menjadi Intelektual Profetik yang saya tulis.

Buku tersebut, selain berisi hasil diskusi dari komunitas Tajdid Pendidikan,  juga berisi pengalaman reflektif saya selama menjadi guru di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat. Tema tentang pendidikan Islam, kurikulum, dan program sekolah unggul menjadi bagian pembahasan dalam tulisan di buku tersebut.

Saya mencerna beragam aktivitas dan program-program yang sekolah lakukan, kemudian saya tulis dalam bentuk artikel reflektif sebagai ikhtiar menyelami bacaan tentang apa yang dilihat dan dirasakan saya di sekolah. Akhirnya, dengan proses diskusi dan ikhtiar menyelami bacaan dengan menulis artikel, menjadi pintu pembuka bagi saya untuk membukukan tulisan-tulisan yang dibuat.

Terbitnya buku Menjadi Intelektual Profetik: Pergumulan Pemikiran Aktivis Pendidikan Muhammadiyah adalah ikhtiar dalam membangun dan melembagakan amal jariyah dalam keilmuan. Dengan membentuk komunitas, berdiskusi dan proses menyelami bacaan, kita bisa menghasilkan tulisan dalam bentuk buku. Buku akan memberikan manfaat amal jariyah serta menggairahkan gerakan literasi yang akan memberikan makna, bukan artifisial belaka.

Penulis adalah pemenang juara 3 Lomba Esai Milad ke-112 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo.

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...