Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Menanamkan Semangat Berliterasi Sejak Dini di Muhammadiyah

Sri Mey Ekowati, Editor: Sholahuddin
Selasa, 26 November 2024 20:48 WIB
Menanamkan Semangat Berliterasi Sejak Dini di Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sri Mey Ekowati (Dok.pribadi)

Kemauan membaca dan kemampuan menulis tidak datang serta merta. Keduanya perlu direncanakan, dilakukan, dibiasakan, dan dibudayakan. Untuk mencapai dua hal tersebut tentu saja tidak mudah. Perlunya motivasi atau dorongan yang kuat untuk mewujudkannya. Kebanyakan orang enggan melakukannya. Ironisnya ini terjadi di semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kita lihat di sekitar kita,  berapa orang yang gemar membaca buku? jawabannya sungguh membuat kita prihatin. Bayangkan saja, menurut Unesco, hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Artinya dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang suka dan aktif membaca. Itu baru membaca. Lantas untuk kemampuan menulis?  itu juga setali tiga uang. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian Muhammadiyah.

Gol A. Gong,  penulis yang pernah menjabat sebagai Instruktur Literasi Nasional dan Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan dinobatkan menjadi Duta Baca Indonesia tahun 2021 hingga 2025,  menyampaikan kalimat yang menggugah, “Membaca itu sehat, menulis itu hebat”. Dia juga menambahkan,  “Membaca dan menulis bukan seruan saya, tetapi  itu seruan Tuhan. Maka, ayo kita membaca dan menulis.”

Sejalan dengan apa yang disampaikan Gol A. Gong, sebagai warga Muhammadiyah,  kita tahu perintah untuk membaca ada dalam Al-Qur’an,  yakni Q.S. Al Alaq ayat 1-5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW ini memiliki maksud agar umat Islam dan umat manusia pada umumnya memiliki pengetahuan dan tidak buta huruf. Manusia mampu memiliki pemahaman yang baik sehingga tidak salah langkah ke depannya. Manusia mampu mengakses informasi yang terkandung dalam Al-Qur’an, hadis, dan literatur Islam lainnya. Dalam Islam, membaca dan menulis dipandang sebagai alat yang penting untuk menyampaikan dan melestarikan pengetahuan.

Warga Muhammadiyah sebagai warga yang berkemajuan hendaknya menjadi bagian penting dari perkembangan literasi kita, mengingat tokoh-tokoh Muhammadiyah terdahulu yang terus menggaungkan dan menggelorakan semangat literasi. Fachrodin merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah yang terus berjuang melestarikan kegiatan literasi dengan gigih membaca buku dan kitab secara otodidak. Beliau juga merupakan tokoh pergerakan nasional prakemerdekaan yang pernah menjadi salah satu penulis tetap surat kabar Doenia Bergerak yang dididirikan tahun 1914. Atas kegigihan beliau, namanya dikenal dan digunakan untuk ajang penghargaan di lingkup Muhammadiyah,  salah satunya “Fachrodin Award”,  ajang penghargaan seputar dunia literasi yang masih dilaksanakan hingga sekarang.

Tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya yang senantiasa memperjuangkan literasi,  sebut saja Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih kita kenal dengan Hamka. Beliau telah menerbitkan 115 buku yang menginspirasi banyak orang. Ada sekitar 195 buku tentang Hamka yang ditulis oleh para penulis yang tersebar di masyarakat. Ditambah lagi ratusan tulisan beliau juga dimuat di media nusantara. Upaya yang dilakukan untuk memperjuangkan literasi dimulai dari menyewa buku dari gurunya, menyalin kembali isi buku-buku tersebut dalam tulisannya sendiri, serta bekerja di percetakan dengan imbalan agar diperbolehkan membaca. Karya-karyanya masih sering dibedah dalam forum-forum sastra dan keilmuan hingga sekarang. Tulisan Hamka banyak menginspirasi pembaca hingga melahirkan penulis baru untuk mengikuti jejaknya.

Tokoh masa kini Muhammadiyah yang gigih memperjuangkan literasi salah satunya yakni Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.  Beliau telah menulis banyak buku yang bertema islami, kebangsaan, kemuhammadiyahan, dan sosial. Buku tersebut antara lain berjudul Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Muhammadiyah Abad Kedua; Manifestasi Gerakan Tarbiyah: Bagaimana Sikap Muhammadiyah?, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Muhammadiyah sejak awal punya perhatian untuk terus menggelorakan semangat berliterasi baik melalui membaca maupun menulis. Hal ini sejalan dengan sikap Nabi Muhammad SAW yang patut diteladani yakni senantiasa menekankan pentingnya penulisan sesuatu mengikuti nasihat Al-Qur’an Q.S. Al Baqarah (2) : 282: “Menuangkan segala sesuatu dalam tulisan”. Membaca dan menulis adalah sendi utama Islam.

Al-Qur’an memberi tahu kita baik yang terucap maupun yang tertulis merupakan cerminan dari moral seseorang. Hal ini dapat dikatakan bahwa ada dua kategori kalimat. Ada kalimat yang baik dan ada juga yang buruk sesuai dengan Q.S Ibrahim (14) ayat 24-26 perihal kalimat yang baik dan yang buruk. “Kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya.”

Melihat perjuangan tokoh Muhammadiyah memperjuangkan literasi, mengingat ajaran Al-Qur’an untuk membaca dan menulis, serta melihat kenyataan bahwa masih rendahnya kemauan membaca dan kemampuan menulis di masyarakat, lantas apa yang dapat kita lakukan untuk mengambil bagian dalam memperjuangkan literasi sebagai warga Muhammadiyah? Kita juga harus bergerak dan menggerakkan yang ada di dekat kita. Dimulai dari yang dekat yang kita mampu.

Harus Sejak Dini

Budaya literasi itu bisa dimulai sejak dini. Dimulai dari diri kita sendiri. Kita sebagai warga Muhammadiyah dapat menjadi salah satu mesin penggerak tersebut. Meskipun belum bisa leluasa, intinya harus tetap bergerak. Upaya tersebut salah satunya dengan mengajak orang-orang di sekitar kita mencintai buku. Bagaimana orang-orang bisa mencintai buku? Dimulai dari diri kita yang memperkenalkan dan peduli pada buku. Langkah konkret yang dapat kita lakukan, tiap hari kita selalu membaca, membawa buku dan kitab ke mana saja, menuliskan kembali isi buku dalam bentuk resensi ataupun diubah dengan bahasa kita sendiri. Hal ini akan menimbulkan rasa ingin tahu orang-orang di sekitar kita. Kita bisa mulai berbicara tentang buku, alasan membawa-bawa buku, serta kecintaan kita terhadap buku. Memang tidak serta merta semua orang akan langsung mengikuti tetapi seiring waktu berjalan tentu saja akan tetap ada pengaruhnya.

Membudayakan literasi lebih mudah ditanamkan sejak dini. Mempengaruhi orang dewasa untuk berliterasi memang cenderung lebih sulit daripada memberi pengaruh kepada anak-anak mengingat orang dewasa sudah memiliki pilihan masing-masing dan permasalahan masing-masing. Akan tetapi anak-anak masih mudah dibentuk dan diarahkan agar budaya literasi ini dapat terus dilestarikan. Kita sebagai guru sekolah dasar yang memiliki peluang untuk melakukan gerakan ini. Sebagai guru yang mencintai buku tentu saja akan berupaya agar anak didiknya ikut mencintai buku sehingga budaya membaca dan semangat berliterasi di lingkungannya tetap terjaga. Rupanya, anak-anak memiliki minat yang lebih tinggi dari hanya sekadar membaca. Mereka sudah mulai kritis untuk tahu asal tulisan yang bagus tersebut, proses pembuatannya hingga tercetak menjadi buku. Dengan kita dapat menunjukkan cara serta kemampuan menulis buku, mereka menjadi semakin mantap untuk mengikuti langkah kita. Tidak sedikit kemudian yang semakin rajin membaca dan mau meluangkan waktunya untuk berlatih menulis. Bahkan berupaya untuk menerbitkan buku sendiri ataupun antologi bersama.

Dengan adanya langkah nyata yang kita lakukan bagi generasi muda, kita sudah ikut bergerak dan menggerakkan. Ternyata saat mereka bergerak juga ikut menggerakkan di sekitarnya. Jika hal ini dapat terus terjaga dan diupayakan, semangat literasi di lingkungan Muhammadiyah dan masyarakat umum akan terus menggelora. Minat baca masyarakat di masa depan akan meningkat. Diikuti lahirnya penulis-penulis muda berbakat. Insya Allah.

Penulis adalah pemenang juara harapan Lomba Esai Milad ke-112 Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment