Kemauan membaca dan kemampuan menulis tidak datang serta merta. Keduanya perlu direncanakan, dilakukan, dibiasakan, dan dibudayakan. Untuk mencapai dua hal tersebut tentu saja tidak mudah. Perlunya motivasi atau dorongan yang kuat untuk mewujudkannya. Kebanyakan orang enggan melakukannya. Ironisnya ini terjadi di semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kita lihat di sekitar kita, berapa orang yang gemar membaca buku? jawabannya sungguh membuat kita prihatin. Bayangkan saja, menurut Unesco, hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Artinya dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang suka dan aktif membaca. Itu baru membaca. Lantas untuk kemampuan menulis? itu juga setali tiga uang. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian Muhammadiyah.
Gol A. Gong, penulis yang pernah menjabat sebagai Instruktur Literasi Nasional dan Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan dinobatkan menjadi Duta Baca Indonesia tahun 2021 hingga 2025, menyampaikan kalimat yang menggugah, “Membaca itu sehat, menulis itu hebat”. Dia juga menambahkan, “Membaca dan menulis bukan seruan saya, tetapi itu seruan Tuhan. Maka, ayo kita membaca dan menulis.”
Sejalan dengan apa yang disampaikan Gol A. Gong, sebagai warga Muhammadiyah, kita tahu perintah untuk membaca ada dalam Al-Qur’an, yakni Q.S. Al Alaq ayat 1-5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW ini memiliki maksud agar umat Islam dan umat manusia pada umumnya memiliki pengetahuan dan tidak buta huruf. Manusia mampu memiliki pemahaman yang baik sehingga tidak salah langkah ke depannya. Manusia mampu mengakses informasi yang terkandung dalam Al-Qur’an, hadis, dan literatur Islam lainnya. Dalam Islam, membaca dan menulis dipandang sebagai alat yang penting untuk menyampaikan dan melestarikan pengetahuan.
Warga Muhammadiyah sebagai warga yang berkemajuan hendaknya menjadi bagian penting dari perkembangan literasi kita, mengingat tokoh-tokoh Muhammadiyah terdahulu yang terus menggaungkan dan menggelorakan semangat literasi. Fachrodin merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah yang terus berjuang melestarikan kegiatan literasi dengan gigih membaca buku dan kitab secara otodidak. Beliau juga merupakan tokoh pergerakan nasional prakemerdekaan yang pernah menjadi salah satu penulis tetap surat kabar Doenia Bergerak yang dididirikan tahun 1914. Atas kegigihan beliau, namanya dikenal dan digunakan untuk ajang penghargaan di lingkup Muhammadiyah, salah satunya “Fachrodin Award”, ajang penghargaan seputar dunia literasi yang masih dilaksanakan hingga sekarang.
Tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya yang senantiasa memperjuangkan literasi, sebut saja Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih kita kenal dengan Hamka. Beliau telah menerbitkan 115 buku yang menginspirasi banyak orang. Ada sekitar 195 buku tentang Hamka yang ditulis oleh para penulis yang tersebar di masyarakat. Ditambah lagi ratusan tulisan beliau juga dimuat di media nusantara. Upaya yang dilakukan untuk memperjuangkan literasi dimulai dari menyewa buku dari gurunya, menyalin kembali isi buku-buku tersebut dalam tulisannya sendiri, serta bekerja di percetakan dengan imbalan agar diperbolehkan membaca. Karya-karyanya masih sering dibedah dalam forum-forum sastra dan keilmuan hingga sekarang. Tulisan Hamka banyak menginspirasi pembaca hingga melahirkan penulis baru untuk mengikuti jejaknya.
Tokoh masa kini Muhammadiyah yang gigih memperjuangkan literasi salah satunya yakni Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beliau telah menulis banyak buku yang bertema islami, kebangsaan, kemuhammadiyahan, dan sosial. Buku tersebut antara lain berjudul Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Muhammadiyah Abad Kedua; Manifestasi Gerakan Tarbiyah: Bagaimana Sikap Muhammadiyah?, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Muhammadiyah sejak awal punya perhatian untuk terus menggelorakan semangat berliterasi baik melalui membaca maupun menulis. Hal ini sejalan dengan sikap Nabi Muhammad SAW yang patut diteladani yakni senantiasa menekankan pentingnya penulisan sesuatu mengikuti nasihat Al-Qur’an Q.S. Al Baqarah (2) : 282: “Menuangkan segala sesuatu dalam tulisan”. Membaca dan menulis adalah sendi utama Islam.
Al-Qur’an memberi tahu kita baik yang terucap maupun yang tertulis merupakan cerminan dari moral seseorang. Hal ini dapat dikatakan bahwa ada dua kategori kalimat. Ada kalimat yang baik dan ada juga yang buruk sesuai dengan Q.S Ibrahim (14) ayat 24-26 perihal kalimat yang baik dan yang buruk. “Kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya.”
Melihat perjuangan tokoh Muhammadiyah memperjuangkan literasi, mengingat ajaran Al-Qur’an untuk membaca dan menulis, serta melihat kenyataan bahwa masih rendahnya kemauan membaca dan kemampuan menulis di masyarakat, lantas apa yang dapat kita lakukan untuk mengambil bagian dalam memperjuangkan literasi sebagai warga Muhammadiyah? Kita juga harus bergerak dan menggerakkan yang ada di dekat kita. Dimulai dari yang dekat yang kita mampu.
Harus Sejak Dini
Budaya literasi itu bisa dimulai sejak dini. Dimulai dari diri kita sendiri. Kita sebagai warga Muhammadiyah dapat menjadi salah satu mesin penggerak tersebut. Meskipun belum bisa leluasa, intinya harus tetap bergerak. Upaya tersebut salah satunya dengan mengajak orang-orang di sekitar kita mencintai buku. Bagaimana orang-orang bisa mencintai buku? Dimulai dari diri kita yang memperkenalkan dan peduli pada buku. Langkah konkret yang dapat kita lakukan, tiap hari kita selalu membaca, membawa buku dan kitab ke mana saja, menuliskan kembali isi buku dalam bentuk resensi ataupun diubah dengan bahasa kita sendiri. Hal ini akan menimbulkan rasa ingin tahu orang-orang di sekitar kita. Kita bisa mulai berbicara tentang buku, alasan membawa-bawa buku, serta kecintaan kita terhadap buku. Memang tidak serta merta semua orang akan langsung mengikuti tetapi seiring waktu berjalan tentu saja akan tetap ada pengaruhnya.
Membudayakan literasi lebih mudah ditanamkan sejak dini. Mempengaruhi orang dewasa untuk berliterasi memang cenderung lebih sulit daripada memberi pengaruh kepada anak-anak mengingat orang dewasa sudah memiliki pilihan masing-masing dan permasalahan masing-masing. Akan tetapi anak-anak masih mudah dibentuk dan diarahkan agar budaya literasi ini dapat terus dilestarikan. Kita sebagai guru sekolah dasar yang memiliki peluang untuk melakukan gerakan ini. Sebagai guru yang mencintai buku tentu saja akan berupaya agar anak didiknya ikut mencintai buku sehingga budaya membaca dan semangat berliterasi di lingkungannya tetap terjaga. Rupanya, anak-anak memiliki minat yang lebih tinggi dari hanya sekadar membaca. Mereka sudah mulai kritis untuk tahu asal tulisan yang bagus tersebut, proses pembuatannya hingga tercetak menjadi buku. Dengan kita dapat menunjukkan cara serta kemampuan menulis buku, mereka menjadi semakin mantap untuk mengikuti langkah kita. Tidak sedikit kemudian yang semakin rajin membaca dan mau meluangkan waktunya untuk berlatih menulis. Bahkan berupaya untuk menerbitkan buku sendiri ataupun antologi bersama.
Dengan adanya langkah nyata yang kita lakukan bagi generasi muda, kita sudah ikut bergerak dan menggerakkan. Ternyata saat mereka bergerak juga ikut menggerakkan di sekitarnya. Jika hal ini dapat terus terjaga dan diupayakan, semangat literasi di lingkungan Muhammadiyah dan masyarakat umum akan terus menggelora. Minat baca masyarakat di masa depan akan meningkat. Diikuti lahirnya penulis-penulis muda berbakat. Insya Allah.
Penulis adalah pemenang juara harapan Lomba Esai Milad ke-112 Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






