Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Menumbuhkan Literasi Sejak Dini

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 4 November 2024 00:01 WIB
Menumbuhkan Literasi Sejak Dini
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ketua Majelis Pendidikan Mohamad Ali.

Istilah literasi mengalami perkembangan dan peluasan makna dari pengertian asalnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan tahun 2005 yang dikeluarkan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional diperkenalkan istilah literer yang mengandung pengertian yang berhubungan dengan tradisi tulis. Sementara itu, dalam KBBI edisi daring yang diakses tahun 2024, literasi memiliki tiga makna, yaitu: kemampuan menulis dan membaca, kemampuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu (baca: suatu profesi tertentu), dan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup (berpikir kritis).

Berdasarkan rujukan di atas, kata literasi mengalami peluasan makna dari hal-hal berkaitan dengan dunia baca tulis, dunia sastra, kemudian berkembang menjadi kecakapan atau penguasan dalam bidang tertentu (profesi digital, misalnya) dan berkembang lagi ke penumbuhan tradisi berpikir kritis berupa kemampuan mengolah informasi dan pengetahuan untuk meningkatkan kecakapan hidup. Ringkasnya, literasi berkaitan dengan baca tulis, profesi, dan kecakapan hidup berpikir kritis

Dalam esai ini kata literasi digunakan untuk mengacu pada ketiga makna sekaligus, yaitu penumbuhan budaya baca tulis secara masif sebagai wahana mengasah kecakapan berpikir kritis sebagai salah satu bentuk aktivitas kehidupan ataupun profesi yang produktif dan penuh arti. Dengan demikian penumbuhan tradisi literasi bukan sekadar mengenalkan baca tulis ataupun deretan huruf-huruf. Peran demikian bisa dilakukan guru-guru kelas awal di Sekolah Dasar. Literasi juga bukan hanya menjadi tugas guru Bahasa Indonesia pada jenjang SMP atau SMA, karena bukan sekadar memperkenalkan dunia kesusastraan.  Lebih dari itu, penumbuhan literasi sebagai jalan untuk memperkaya kecakapan/profesi hidup sekaligus melatih dan membiasakan berpikir kritis sebagai modal utama mengarungi samudera kehidupan yang penuh terjangan gelombang permasalahan. Penumbuhan tradisi literasi dalam makna yang luas ini menjadi tugas kolektif, menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah (pendidik, tenaga pendidikan, dan peserta didik) dan para pemangku kepentingan yang menopang keberadaan sekolah (stakeholder).

Aktivitas Menggembirakan

Dalam pengertian sederhana semua orang yang telah mengenal dan mampu membaca huruf dan angka pasti bisa menulis. Dengan demikian semua orang yang telah mengenyam pendidikan dasar memiliki potensi untuk bisa menjadi penulis. Namun demikian tidak semua orang yang telah memiliki kemampuan membaca terbiasa untuk menuangkan gagasan dan ide-ide dalam suatu tulisan baik dalam bentuk esai, cerita pendek, memoar, novel, sampai dalam bentuk buku.

Menjadi penulis yang mampu menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan merupakan kecakapan hidup yang harus dilatih, dibiasakan mulai dari penuangan tulisan dalam catatan harian ataupun tulisan-tulisan pendek. Resep jitu menjadi penulis hanya dua, yaitu membiasakan diri untuk membaca apa saja termasuk membaca fenomena sosial maupun gejala kehidupan,  kemudian menuliskan hasil bacaan dalam bentuk tulisan. Tidak ada resep lain di luar itu.

Ketika seorang penulis menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan ada suasana kegembiraan, kemewahan hidup yang tidak bisa dibunyikan dengan suara ataupun kata-kata. Dalam pandangan kaum awam, ataupun masyarakat pada umumnya yang tidak pernah merasakan kenikmatan menulis, kebahagian hidupnya hanya berpusat pada kepemilikan materi dan jabatan. Tidak demikian bagi seorang penulis, materi ataupun jabatan mendatangkan kegembiraan pula, namun kebahagian ketika menulis jauh melampai keduanya.

Bagi seorang pemula yang baru memulai belajar menulis mungkin belum bisa merasakan kenikmatan itu. Ada suasana keterpaksaan, menjadi suatu beban hidup. Calon-calon sarjana harus dipaksa menulis skripsi ataupun artikel yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Mereka mungkin hanya sekali itu saja menuangkan gagasan secara tertulis. Setelah itu berhenti menuangkan gagasan secara tertulis dan lebih banyak dengan percakapan ataupun ceramah.

Bahkan ada gejala calon-calon sarjana-pun tidak sudi menulis. Mereka dari awal tidak berminat mencari ilmu ataupun mengasah intelektualitas. Ketika memasuki Perguruan Tinggi, ketika menginjakkan kaki di kampus yang terbayang hanya secarik kertas, selembar ijazah yang akan digunakan sebagai tiket mencari pekerjaan. Merespon kebutuhan itu maka bermunculan jasa penulisan di lingkungan sekitar kampus.

Ketika jasa penulisan skripsi, tesis, bahkan disertasi marak maka gelar-gelar kesarjanaan bukan lagi menunjukkan kemampuan intelektual. Gelar-gelar akademik tak ubahnya gelar-gelar kebangsawanan yang pada zaman kerajaan dulu begitu menarik perhatian, tetapi pada masa kini sudah semakin meredup. Penyematan gelar-gelar akademik baik di awal maupun di akhir nama seseorang benar-benar tidak merepresentasikan kemampuan intelektualitas.

Terbitnya Fajar Literasi

Di tengah meredupnya tradisi literasi di dunia akademik kita, ada secercah cahaya literasi yang memancar dari balik Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, Kota Solo.  Perguruan ini mengelola TK, SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah Program Khsusus (PK) yang belakangan ini menjadi destinasi baru pendidikan di Kota Solo dan sekitarnya, menjadi pilihan dan rujukan mereka dalam menyekolahkan putra-putrinya. Jajar literasi itu berupa penerbitan sejumlah buku karya siswa maupun guru-guru.

Foto sampul buku Trendsetter Sekolah Berkemajuan: Memoar Kiai Marpuji Ali Membersamai Perguruan Muhammadiyah Kottabarat (Diomedia).

Perguruan ini dikenal bukan hanya prestasi siswa di berbagai bidang dan layanan pendidikannya yang prima, tetapi juga karena tumbuh-suburnya tradisi literasi. Tradisi literasi bukan pada peserta didik tetapi juga para pendidik dan tenaga pendidik. Kebetulan ada dua buku di meja saya yang baru saja tebit, tentu saja dalam rentang waktu setahun terakhir ada banyak buku-buku lain yang tidak bisa saya sebut satu-satu di sini.

Kedua buku tersebut adalah pertama, Trensetter Sekolah Berkemajuan, Memoar Kiai Marpuji Ali Membersamai Perguruan Muhammadiyah Kottabarat yang ditulis pendidik dan tenaga pendidikan beradasarkan perjumpaan dan pergumulan yang mereka alami dengan Kiai Marpuji Ali. Buku kedua berjudul Jurnal Humanity, Menjalin Silaturahmi dan Berfilantropi dalam Indahnya Kearifan Local Desa Beji yang ditulis oleh siswa kelas X SMA Muhammadiyah PK yang merupakan refleksi pengalaman program Live in Society selama satu pekan di tengah-tengah Masyarakat.

Buku pertama setebal 327 halaman ukuran buku Unesco, ada 63 orang yang turut menuliskan pengalaman perjumpaan Ketua Komite Sekolah, Kiai Marpuji dalam membersamai perjalanan perguruan Muhammadiyah Kottabarat selama hampir seperampat abad (25 tahun). Dari catatan memoar itu tergambar dengan jelas bagaimana peran sentral beliau dalam proses perintisan dan pengembangan perguruan sebagaimana dapat kita saksikan seperti sekarang ini. Tidak ada satupun yang menggambarkan beliau sebagai seorang birokratis yang kaku. Kiai Marpuji digambarkan sebagai seorang ayah, sahabat dekat yang selalu mendengar cerita dan menyahuti imaginasi tentang masa depan perguruan.

Buku kedua lebih tebal, 403 halaman yang ditulis siswa angkatan ke-8 kelas 9 SMA Muhammadiyah PK Kottabarat.  Kumpulan tulisan berasal dari laporan dan refleksi perjalanan dan aktivitas dalam melakukan terjun langsung di tengah-tengah masyarakat yang relatif terpencil dari keramaian. Kalimatnya cenderung deskriptif yang menggambarkan apa yang diamati dan dilakukan mirip dengan model penulisan etnografis.

Kehadiran dua buku di atas memberi harapan baru akan munculnya para pegiat literasi. Pendidik dan tenaga kependidikan yang keseharian berhadapan dengan dunia pengajaran dan pelayanan pendidikan masih meluangkan waktu dan berdaya upaya untuk menulis. Demikian pula anak-anak yang sejak dini dibiasakan menulis akan menjadi pengalaman berharga bagi masa depan hidupnya. Apapun profesi yang dipilihnya di masa depan,  aktivitas menulis dan berliterasi terus terjaga.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo

Share:

Berita Terbaru

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Leave a comment