Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Jalan Kemajuan Sekolah Muhammadiyah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 14 Oktober 2024 00:01 WIB
Jalan Kemajuan Sekolah Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ketua Majelis Pendidikan Mohamad Ali.

Salah satu fenomena menarik dari pelaksanaan Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah (Diksuspala) adalah meningkatnya mobilitas kepala sekolah yang bergerak dari satu region ke region lain. Peningkatan mobilitas tak terhindarkan karena narasumber atau fasilitator Diksuspala merupakan kepala sekolah dan, atau mantan kepala sekolah yang dinilai berhasil mengangkat kualitas ke level unggul. Anehnya, sekolah yang seringkali ditinggal jalan-jalan oleh sang nahkoda, justru semakin diminati dan dicari siswa.

Sebagai salah satu fasilitator, saya berusaha mencuri waktu senggang dan berdiskusi dengan mereka untuk sekadar mencari tahu mengapa sekolah yang seringkali mereka tinggalkan, tetapi justru malah semakin diburu oleh siswa maupun orang tua. Sementara di sebelah lainnya, tidak sedikit sekolah/madrasah yang selalu ditunggui oleh kepala sekolah malah sekolahnya kurang berkembang dan tidak begitu diminati oleh siswa.

Sebuah pertanyaan lanjutan layak diajukan, apakah mobilitas kepala sekolah berbanding lurus dengan tingkat keunggulan suatu sekolah? Artinya, semakin sibuk kepala sekolah dengan serangkaian aktivitas dan mobilitas, maka akan semakin unggul sekolahnya? Benarkah demikian? Jawaban masih mengapung, tergantung kesibukan dan aktivitas apa yang dilakukan.

Hubungan antara mobilitas atau aktivitas tinggi itu berbanding lurus dengan kemajuan sekolah manakala aktivitasnya berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas diri kepala sekolah dan pencarian ide-ide baru untuk menggerakkan dan mendinamisasi sekolah. Dengan kata lain, manakala kesibukan tidak berkaitan dua hal itu, maka tidak akan ada korelasi signifikan antara mobilitas kepala sekolah dengan pengembangan sekolah.

Pandangan Konvensional

Fenomena ini tentu sangat berbeda, bahkan berlawanan dengan pandangan konvensional-konservatif tentang pengembangan sekolah. Dalam pandangan kaum konsevatif sekolah akan berkembang apabila kepala sekolah rajin ngantor dan terus menunggui sekolah untuk memastikan bahwa guru berada di ruang kelas selama jam pelajaran, untuk memastikan tidak ada jam kosong. Pandangan ini mengasumsikan bahwa guru-guru bekerja setengah hati dan apabila dibiarkan bekerja sendiri, tanpa pengawasan sekolah, maka dipastikan akan bekerja semaunya sendiri. Ketika guru-guru mengajar dengan setengah hati dapat dipastikan pelayanan pada siswa akan terganggu.

Secara garis besar, demikian itu pandangan kaum konvensional-konservatif tentang pengembangan sekolah. Harus diakui baik pengelola (baca: kepala sekolah) maupun penyelenggara pendidikan Muhammadiyah (baca: Majelis Dikdasmen) sebagian besar menganut pandangan ini, sehingga tidak aneh bila sebagian besar sekolah/madrasah Muhammadiyah kualitasnya pada level menengah dan menengah bawah. Dengan kata lain, ikhtiar apapun dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah harus berangkat dari perubahan mendasar cara pandang pengelola dan penyelenggaranya.

Potensi munculnya konflik sangat besar ketika di suatu daerah yang mayoritas pimpinan Majelis Dikdasmen berpikiran konservatif-konvensional dan pada saat bersamaan lahir kepala-kepala sekolah bermobilias tinggi. Pimpinan Majelis akan menilai buruk kepala sekolah yang terlalu banyak jalan-jalan. Dalam penilaiannya, aktivitas jalan-jalan mereka dikira sekadar traveling yang menghabiskan uang dan upaya mengelak atau menghindar diri dari tanggung jawab memimpin sekolah.

Dalam struktur kepemimpinan Muhammadiyah, kepala sekolah berada di bawah koordinasi Majelis Dikdasmen. Di titik ini bahaya muncul, karena dinilai buruk oleh pimpinan Majelis Dikdasmen maka kepala-kepala sekolah bermobilitas tinggi seringkali dimusuhi oleh pimpinan Majelis sehingga suasana kondusif pengembangan sekolah terganggu. Dalam suasana kritis seringkali mengancam untuk tidak memperpanjang periodisasi kepemimpinannya.

Oleh karena itu pimpinan Majelis Dikdasmen di semua tingkatan perlu meng-upgrade wawasan pengembangan sekolah dalam konteks Muhammadiyah. Bukanlah sebagian besar pimpinan Majelis Dikdasmen berasal dari guru PNS/kepala sekolah di sekolah pemerintah yang problemnya tidak sekompleks sekolah Muhammadiyah. Di sekolah negeri gaji guru telah dicukupi pemerintah. Sementara di sekolah Muhammadiyah seluruh operasional sekolah termasuk gaji guru harus dicukupi sekolah.

Perbedaan mendasar tersebut seringkali tidak disadari dan luput dari perhatian sehingga tidak mampu berempati dengan kondisi guru yang bergaji jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Berbeda dengan pengembangan sekolah pemerintah yang berorientasi ke atas, bergantung pendekatan pada atasan, sedangkan pengembangan sekolah Muhammadiyah berorientasi ke bawah, menggali kepercayaan (trust) masyarakat dengan cara memberi layanan prima dan menanam benih berprestasi.

Modalitas Kemajuan

Ke mana para kepala sekolah bermobilitas tinggi ini berjalan? Mereka bepergian atau berjalan-jalan untuk melakukan dua hal, yaitu: meningkatkan kapasitas diri (belajar) secara berkelanjutan (modal intelektual) dan membangun jejaring sosial seluas mungkin (modal sosial). Dua modal inilah yang sangat dibutuhkan dalam proses pengembangan sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah swasta yang harus mandiri dan berswadaya.

Mereka saling mengunjungi untuk melakukan ATM (amati, tiru, modifikasi) dan dilakukan secara efektif, efesien, produktif. Mereka tahu kelemahan sekolahnya dan tahu cara mengatasi masalah dengan belajar di sekolah mana sesuai kebutuhan. Hal itu dilakukan setiap saat sesuai kebutuhan. Inilah yang membuat mobilitas mereka tinggi, dan akan semakin tinggi ketika sekolah semakin unggul karena akan diundang dalam berbagai forum tentang pengembangan sekolah.

Pembukaan Diksuspala region 2 Jawa Tengah beberapa hari lalu. (Istimewa).

Dalam usaha mengasah intelektualitas (kecerdasan) bukan hanya dengan saling belajar pengalaman kancah atau best practices antara satu sekolah dengan yang lain, beberapa dari mereka belajar teori pendidikan dan pengembangan sekolah di Program Doktor (S3) Ilmu Pendidikan atau Pendidikan Agama Islam seperti Jamaluddin (Kudus), Pamuji (Sukoharjo), Nasrul (Sukoharjo), Sutomo (Salatiga), untuk menyebut beberapa nama yang saya kenal.

Mereka mengasah kemampuan intelektual secara serius dengan pengayaan masalah-masalah kancah sekaligus perluasan horisan teoritis. Dua kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam pengembangan sekolah Muhammadiyah. Perpaduan seorang praktisi yang andal dan teoretisi pendidikan yang mumpuni. Profil mereka bisa disebut sebagai intelektual organis-profetik atau pedagog pembebasan. Modalitas intelektual inilah yang sangat dibutuhkan Muhammadiyah untuk mengkonsolidasikan, mengakselerasi, dan mentransformasikan sekolah/madrasah menjadi unggul dan berkemajuan.

Ketika melakukan perjalanan intelektual, melakukan rihlah keilmuan, mendapat nilai tambah berupa jejaring-jejaring baru bukan hanya di kalangan Muhammadiyah, tetapi juga komunitas lain yang kemudian dengan kemampuan komunikasi dan pendekatan terpanggil untuk serta membesarkan Muhammadiyah. Ketika jejaring sosial terbentuk mereka (setidaknya sampai artikel ini ditulis) tidak berpikiran memanfaatkan jejaring tadi untuk kepentingan dirinya, misalnya, dengan mendirikan yayasan lain.

Modalitas intelektual organik dan jejaring sosial yang kokoh ini ternyata mempercepat pengembangan sekolah sehingga dalam waktu yang relatif singkat sekolah yang mereka pimpin menjadi sekolah Muhammadiyah unggul dan berkemajuan yang benar-benar dicari dan dirindukan siswa. Kepemimpinan mereka benar-benar berkontribusi besar dalam memajukan sekolah.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo

Artikel ini ditulis saat menjadi fasilitator Diksuspala region 2 Jawa Tengah di Balai Besar Guru Penggerak (BBGB) Gondangrejo, Karanganyar

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Leave a comment