Suatu hari datang rombongan studi banding (studi tiru) ke Perguruan Muhammadiyah Kottabarat Solo. Mereka memperkenalkan diri berasal dari sekolah Muhammadiyah perjuangan di daerah Boyolali. Penasaran dengan istilah “perjuangan” yang ia dilontarkan, sehingga seketika itu juga saya langsung balik bertanya, “Apa yang dimaksud dengan sekolah Muhammadiyah perjuangan?” Tanpa sungkan dengan sedikit kelakar merekapun memberi penjelasan, bahwa yang dimaksud sekolah Muhammadiyah perjuangan adalah sekolah yang keadaan finansialnya minim sehingga gaji gurunya rendah, jauh di bawah standar upah minimum regional (UMR).
Percakapan di atas memberi kesan mendalam bahwa guru Muhammadiyah yang bergaji rendah adalah pejuang dalam mencerdaskan anak-anak bangsa dan dalam rangka merawat eksistensi sekolah Muhammadiyah. Sebenarnya, di balik ungkapan itu juga ada pesan tersirat, mereka yang bergaji standar ataupun di atas UMR, tidak pantas disebut guru Muhammadiyah perjuangan.
Cara pandang demikian, yaitu mengukur kadar perjuangan seorang guru dilihat dari sudut besar-kecil gaji yang diperoleh, sangat tidak memadai bahkan cenderung menyesatkan. Semakin kecil gaji yang diperoleh, maka semakin besar kadar perjuangan. Sebaliknya, semakin besar perolehan gaji maka semakin tipis kadar perjuangannya.
Penggajian harus dilihat sebagai salah satu, bukan satu-satunya, unsur dalam menilai kejuangan seorang guru dalam menekuni perofesinya. Bisa ditambahkan unsur lainnya, seperti etos kerja/kinerja ataupun kompetensi dalam menjalani profesi sebagai tolak ukur dalam memandang wajah guru Muhammadiyah.
Tiga Model Guru Muhammadiyah
Esai ini melihat dua unsur (variabel), etos kerja dan gaji, untuk melihat model-model guru Muhammadiyah. Secara garis besar, berdasarkan pengamatan empiris, setidaknya bisa ditemukan tiga model guru Muhammadiyah, yaitu: guru muhsin, guru profesional, dan guru defisit. Tiga model guru ini pada urutannya sangat menentukkan maju ataupun mundurnya sekolah Muhammadiyah.
Secara sederhana “guru defisit” dapat dipahami sebagai guru-guru yang mengajar di sekolah Muhammadiyah dengan etos kerja dan kompetensi sangat rendah, tidak disiplin, mengajar sekadar memenuhi kewajiban, dan tentu saja tidak peduli dengan keadaan ataupun aktivitas persyarikatan. Sekolah Muhammadiyah dihuni guru yang sebagian besar bermental model “guru defisit” ini dipastikan tidak akan mengalami kemajuan, kualitas layanan rendah dan kemampuan menggaji guru juga rendah.
Sebagai ilustrasi untuk memudahkan dalam memahami model guru defisit adalah sebagai berikut. Dalam sebulan sekolah mampu menggaji guru rata-rata sebesar Rp. 800.000 (delapan ratus ribu rupiah). Tetapi untuk menggaji sebesar itu sekolah harus mencari donatur tambahan, berupa infak/sedekah, karena uang SPP ataupun BOS (bantuan operasional sekolah) tidak cukup untuk menggaji sebesar itu. Ringkasnya, sekolah mengalami defisit setiap bulan untuk mengaji guru yang etos kerja/kinerja di bawah standar gaji yang diterima.
Beralih ke model kedua, “guru profesional”. Secara sederhana dapat dipahami sebagai guru-guru di sekolah Muhammadiyah yang bermental transaksional. Etos kerja dan kinerja berdasarkan gaji yang diterima, layaknya seorang profesional. Mereka berada di sekolah Muhammadiyah sekadar mencari pekerjaan dan menerima upah sesuai dengan kinerjanya. Pada umumnya mereka tidak mau tahu dengan agenda-agenda persyarikatan. Yang penting bekerja dan mendapat uang.
Sekolah Muhammadiyah yang banyak dihuni oleh guru-guru model profesional cenderung stagnan. Sekolah tidak akan mampu melakukan serangkaian investasi untuk mengembangkan dirinya. Uang sudah habis untuk operasional sekolah setiap tahun. Dalam waktu yang lama, bila kondisi ini terus berlangsung, tanpa ada improvisasi dan inovasi sekolah mengalami entropi (ketidakberaturan) dan kehabisan energi.
Model ketiga, “guru muhsin” (guru Muhammadiyah berlaku ihsan). Ihsan berasal dari kata kerja ahsanu – yuhsinu yang berarti berbuat baik atau memperbuat kebaikan. Menurut Ragib al-Asfahani, kata ihsan memiliki dua makna: pertama, memberikan kenikmatan/kebaikan/kesejahteraan kepada orang lain; kedua, mengetahui dengan baik tentang suatu pengetahuan (kebenaran) dan mengerjakan dengan baik tentang suatu pekerjaan.
Model guru muhsin merupakan tipe ideal guru Muhammadiyah; memiliki etos kerja dan berkinerja tinggi, kompeten, disiplin, dan berusaha memberikan kualitas kinerja terbaik dalam mendidik peserta didik dan berinteraksi dengan teman-teman sejawat. Mereka berpikir bekerja di sekolah Muhammadiyah bukan sekadar mencari uang, tetapi punya cita-cita untuk membesarkan persyarikatan lewat amal usaha (sekolah). Oleh karena itu, bila digaji Rp3.000.000,- (tiga juta rupiah) sebulan, maka kinerja setara dengan digaji Rp6.000.000 (enam juta rupiah). Kelebihannya merupakan sedekahnya untuk pengembangan sekolah Muhammadiyah.
Sekolah Muhammadiyah yang banyak dihuni guru-guru model muhsin akan cepat berkembang dan kualitasnya terus meningkat. Sebab memiliki energi lebih untuk terus berinvestasi material maupun spiritual dalam menggerakkan sekolah dengan kecepatan layanan tingkat tinggi.
Tugas Bersama
Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasi tiga model guru Muhammadiyah, yaitu: guru defisit, guru profesional, dan guru muhsin. Tentu kita berharap bahwa guru-guru Muhammadiyah dapat tumbuh dan bertransformasi menjadi guru muhsin. Harapan atau cita-cita demikian itu sangat mungkin apabila semua pihak yang bertanggungjawab dalam pengembangan sekolah Muhammadiyah bergerak maju bersama, berkolaborasi dan bersinergi.
Kepala sekolah sebagai pengelola berusaha keras menciptkan iklim sekolah yang kondusif untuk tumbuh kembang guru muhsin. Sesungguhnya para guru adalah pelanggan internal-utama sekolah, sehingga apabila mereka diperlakukan secara manusiwi (humanis) dan dipikirkan kesejahteran lahir-batin, maka tanpa diperintah guru-guru akan berkinerja prima dan melayani peserta didik dengan penuh totalitas.
Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) sebagai penyelenggara pendidikan di persyarikatan bertindak sebagai pelayan kepala sekolah sehingga mereka puas dengan layanan pimpinan majelis yang pada urutannya akan melayani guru dengan sekuat tenaga. Majelis harus mampu mengorkestrasi kepala-kepala sekolah untuk melakukan kerja-kerja inovasi dan berkreasi sedemikian rupa sehingga sekolah-sekolah Muhammadiyah tumbuh bersama menjadi sekolah unggul dan berkemajuan.
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...
Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton
Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...






