Ahad, 14 Agustus 2022 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta menggelar acara diskusi dan refleksi kemerdekaan dengan tema “Jejak Kebangsaan Muhammadiyah: Dulu, Kini, dan Mendatang.”
Tema ini sangat menarik untuk dikaji, mengingat banyak nilai dan inspirasi yang dapat digali dari tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa. Refleksi merupakan sebuah cerminan atau gambaran, kontemplasi ataupun perenungan dengan melihat kembali (merenungkan) untuk bisa membantu kita menjalani hidup yang lebih baik kedepannya.
Sebagai pengantar, mari kita sedikit tengok peran Muhammadiyah dalam merajut nasionalisme dan kebangsaan. Bangsa kita menjadi sebuah bangsa seperti sekarang ini tidak menjadi dengan sendirinya. Namun melalui proses yang teramat sangat panjang dan melelahkan. Sebelum bersatu, kita pernah tercerai-berai.
Kalau kita buka ulang catatan sejarah Muhammadiyah sebelum kemerdekaan, majalah Suara Muhammadiyah (SM) sudah berjuang menyemai rasa nasionalisme mulai tahun 1920-an melalui reportase dan tulisan yang dibuat.
Selain melalui media tulisan, Muhammadiyah juga merajut rasa kebangsaan melalui berbagai kongres. Seperti yang terjadi pada Kongres Muhammadiyah tahun 1926 di luar Jogjakarta yang menghimpun orang- orang dari penjuru wilayah. Hal ini menjadi media tumbuhnya rasa kebangsaan di antara sesama anak bangsa di tengah kondisi yang masih bersifat kedaerahan pada waktu itu. Tokoh dari kelompok Islam modernis banyak berperan dalam proses menumbuhkan kesadaran sebagai bangsa yang satu.
Kita akan menjumpai nama Kiai Dahlan, Fachroddin, HOS Cokroaminoto, Ki Bagus Hadikusuma, Mas Mansur, Agus Salim, Moh Nasir, Kahar Muzakkir, Kasman Singodimedjo, Hamka, Moh Roem, Sukiman dan lain-lainnya. Hampir semua nama yang ada itu dari kelompok Islam modernis. Mereka-mereka inilah yang saat itu sudah tercerahkan dan mencerahkan kesadaaran umat sehingga mampu beradu wacana dengan kelompok nasionalis soal-soal pikiran modern tentang kenegaraan.
Jejak Kebangsaan Muhammadiyah
Dalam acara refleksi tersebut, hadir sebagai narasumber adalah Drs. H Ichwan Dardiri, H Mas Ahmad Dimyati BA, dan Dr Mohamad Ali, M.Pd yang masing-masing memaparkan pengalaman dan pandangannya terhadap tema tersebut. Drs. H. Ichwan Dardiri dalam paparannya menyoroti kronologis proses pembentukan negara merdeka. Beliau menggarisbawahi peran Ki Bagus Hadikusumo sebagai tokoh Muhammadiyah dalam dinamika persiapan pembentukan negara merdeka.
Ki Bagus Hadikusumo mempunyai peran dalam BPUPKI, bahkan sebelum sidang PPKI dimulai, Ki Bagus Hadikusumo menjadi tokoh yang memiliki andil sangat besar dalam menjaga keutuhan bangsa, terutama di dalam perubahan sila pertama dalam Piagam Jakarta. Beliau adalah tokoh yang toleran, ungkap Ichwan Dardiri kepada audiens.
Termasuk dinamika perjuangan majalah “Adil” dengan motto Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam media kewartawanan turut diceritakan narasumber dalam dinamika perjuangan umat Islam di kota Surakarta
Narasumber kedua, H Mas Ahmad Dimyati, BA memaparkan pengalaman dan pandangannya terhadap peran tokoh-tokoh Islam dalam menegakkan kehidupan bangsa yang bermartabat. Zaman penjajahan Belanda menyebabkan kehidupan sosial ekonomi rakyat menderita dan terpuruk. Begitu pula zaman penjajahan Jepang, dengan sistem Romusha (kerja paksa) yang sama-sama membuat rakyat menderita.
Pada kesempatan refleksi tersebut, H Mas Ahmad Dimyati menyoroti pula peran Ki Bagus Hadikusumo dalam membela aqidah umat Islam. Tatkala Jepang mewajibakan Sei Kerei (sikap menghormat dan membungkukkan badan ke arah matahari terbit setiap pagi), dengan gagah berani Ki Bagus Hadiksumo menentang perintah tersebut karena dinilai merusak tauhid umat Islam. Ia mengeluarkan maklumat kepada umat Islam untuk tidak melakukan sei kerei.
Begitu pula terkait kedatangan kembali pasukan sekutu setelah Jepang kalah. Di tahun 1948 saat terjadi kekosongan kekuasaan dikarenakan Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan, maka PDRI dibentuk. PDRI adalah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang diisi oleh Syafruddin Prawiranegara bersama orang-orang Muhammadiyah di Sumatera barat. Sehingga kontribusi Muhammadiyah terhadap keberlangsungan pemerintahan Indonesia begitu nyata.
Sementara itu, narasumber ketiga Dr Mohamad Ali, M.Pd dalam kesempatan itu mencoba mengurai peran kebangsaan Ahmad Dahlan sebagai salah satu manifestasi jejak kebangsaan Muhammadiyah. Mohamad Ali menelaah dari persfektif tematis, bahwasannya latar belakang perang Jawa dan gunung Kelud yang terjadi ikut menjadi latar pemikiran kebangsaan Ahmad Dahlan.
Di Tahun 1918, gerakan dakwah yang diusung Ahmad Dahlan mendapat “godaan” untuk menjadi gerakan politik yang melawan penjajah. Namun hal tersebut tidak menggoyahkan komitmen gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.
Dalam konteks masa kini, Mohamad Ali memaparkan analisis tantangan yang dihadapi Muhammadiyah. Beliau menangkap ada kegalauan di antara para aktivis Muhammadiyah tentang peran kebangsaan di Muhammadiyah terutama dalam hal bidang politik. Sebab di lapangan ditemukan ketidak-seirama-an medan perjuangan Muhammadiyah dengan realita.
Sehingga menjadi pertanyaan kita semua, bagaimana ke depan kita menjawab tantangan yang ada. Mohamad Ali menyoroti perlu adanya kesungguhan para aktivis Muhammadiyah.
Menurutnya, bidang garap kebangsaan itu luas. Tidak hanya di politik, tapi bisa juga di bidang media, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Yang penting adalah nilai kesungguhan yang menjadi watak dan tercermin dalam diri kader.
Di lembaga pendidikan misalnya, maka bekerja di AUM Muhammadiyah harus dimaknai sebagai perjuangan. Bukan hanya sekedar bekerja untuk mendapat upah. Dengan memaknai sebagai perjuangan, maka pergerakan AUM akan bersifat dinamis, pungkasnya kepada audiens.
Acara refleksi ini juga mengundang para audiens untuk ikut mengutarakan pendapat dan atau pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul seputar bagaimana strategi dan proses penguatan kaderisasi di Muhammadiyah agar memiliki watak kepribadian yang mampu menggerakan dakwah umat dan bangsa.
Bahwa generasi muda saat ini perlu merumuskan tantangan dan mencoba mengembangkan diri dengan sikap dan karakter positif. Dengan tempaan tantangan yang ada, semakin membuat kemampuan kader-kader muda Muhammadiyah terasah dan semakin mematangkan kepribadian. Demikian catatan refleksi yang dapat saya tulis, semoga bermanfaat. Fastabiqul khoirot.
PP Muhammadiyah Serukan Gerakan Infak Salat Jumat untuk Korban Banjir
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menginstruksikan penghimpunan infak Salat Jumat untuk bantuan kemanusiaan korban bencana banjir dan tanah longsor. Langkah itu sebagai respons cepat atas...
Dua Ribu Orang Hadiri Tabligh Akbar Milad Muhammadiyah dan PKU Muhammadiyah Solo
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Sekitar dua ribu warga Muhammadiyah hadir dalam acara Tabligh Akbar Milad Muhammadiyah ke-111 dan Resepsi Milad PKU Muhammadiyah Solo ke-96. Kegiatan yang digelar...
Museum Peradaban Islam Asia Tenggara Segera Hadir di Edutorium UMS
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.CO–Museum Perdaban Islam Asia Tenggara akan segera hadir di Gedung Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Museum ini akan melengkapi Edutorium UMS yang selama ini...
Sambut Hari Guru, Murid SD Muhammadiyah PK Kottabarat Kirim Kartu Pos untuk Guru
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Ada banyak cara menyambut Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November. Seperti yang dilakukan sejumlah 81 murid kelas VI SD Muhammadiyah...
Peringati Hari Guru, Guru SMP Muhammadiyah PK Gelar Lomba Tarik Tambang hingga Memasak
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo memiliki cara yang berbeda setiap tahun dalam memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Sesuai dengan tema Bergerak...
Anies Baswedan Janji Ajak Masyarakat Sipil Berkolaborasi dengan Negara
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Pasangan calon presiden dan wakil presiden (Capres-Cawapres) nomor urut 1, Anies Baswedan-A.Muhaimin Iskandar, berjanji akan menjadikan pemerataan pembangunan sebagai prioritas penting dalam visi...
Enam Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jateng Bentuk Center of Excellent
Solo, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama lima perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya di Jawa Tengah mulai membahas organ baru yang akan segera dikukuhkan yaitu Center...
Baru diluncurkan, Program GIP-111 Mampu Kumpulkan Dana Rp82 Miliar
Jogja, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah meluncurkan program Gerakan Infak Pendidikan atau GIP-111 tepat pada perayaan Milad Muhammadiyah ke-111 di Gedung Sportorium kampus Universitas Muhammadiyah...
Sambut Milad Muhammadiyah ke-111, Hizbul Wathan Solo Gelar Apel Akbar
Solo, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan akan menyelenggarakan apel Akbar Hizbul Wathan untuk menyemarakkan milad ke-111 Muhammadiyah....
Siswa SMP Muhammadiyah PK Sabet Dua Juara School Creative Hub Gojek se-Soloraya
Solo, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo, Bara Kaori Satya Maharani, menyabet dua penghargaan dalam ajang perlombaan Gojek School Creative Hub 2023...
UMS Beri Penguatan Keislaman untuk Keluarga WNI Lintas Budaya dan Muslim Baru di Australia
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengabdian Masyarakat dan Pengembangan Persyarikatan (LPMPP) memfasilitasi dosen untuk mengabdi di luar negeri melalui skema program...
Mahasiswa UMS Raih Silver Medal dan Special Award pada Ajang SIIF 2023 di Korea Selatan
SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Tim Kolaborasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil meraih Silver Medal dan Special Award pada ajang Seoul International Invention Fair (SIIF) 2023, dengan...






