Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

UMS Soroti Krisis Global dan Erosi Peradaban dalam Perspektif Muhammadiyah

Adi Humas, Editor: Sholahuddin
Jumat, 27 Februari 2026 14:12 WIB
UMS Soroti Krisis Global dan Erosi Peradaban dalam Perspektif Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Prof. Zakiyuddin Baidhawy, saat menjadi narasumber Kajian Webinar Series ke-56 yang digelar UMS secara daring. [Humas].

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Webinar Series ke-56 bertajuk “Ketegangan Global & Erosi Peradaban: Refleksi atas Krisis Geopolitik, Ekonomi, dan Iklim dalam Perspektif Muhammadiyah”, Kamis (26/2/2026) melalui aplikasi Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Zakiyuddin Baidhawy, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, sebagai narasumber utama.

Webinar dibuka dengan sambutan oleh Wakil Rektor III UMS, Mutohharun Jinan, yang menegaskan pentingnya forum intelektual dalam membaca dinamika global dari perspektif keislaman.  “Pada kesempatan ini kita bersama mendiskusikan bagaimana perspektif Muhammadiyah terhadap ketegangan global saat ini, dan harapannya Muhammadiyah dapat memberikan arah perubahan pada taraf nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Zakiyuddin Baidhawy, mengawali dengan menyampaikan dan menyebut dunia saat ini tengah berada dalam kondisi paradoks global. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semestinya menghadirkan kesejahteraan justru melahirkan kontradiksi sosial. Ia mencontohkan fenomena di negara maju seperti Jepang, di mana tingkat kesejahteraan tinggi tidak serta-merta menghadirkan kebahagiaan sosial.

“Apa artinya kita makin sejahtera tapi hidupnya semakin mahal, sehingga kita tidak bisa ngapa-ngapain?” ungkapnya, yang mengisahkan pengalamannya saat berada di Tokyo dan menyaksikan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri segelintir orang karena tingginya biaya hidup. Zakiyuddin menilai konflik global kini telah memasuki fase krisis permanen. Bentuknya bukan hanya perang bersenjata, tetapi juga konflik proksi, perang digital, hingga serangan siber oleh aktor-aktor tak kasat mata. Situasi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa kekerasan tidak lagi menjadi anomali, melainkan telah mengalami normalisasi.

“Kalau kekerasan sudah menjadi normal, itu artinya ia telah menjadi established,” tegasnya. Ia juga menyoroti melemahnya hukum internasional dan diplomasi moral. Banyak resolusi internasional yang tidak berjalan efektif, bahkan diveto oleh negara-negara berkepentingan. Dalam konteks ini, relasi antarbangsa lebih didominasi kepentingan nasional daripada komitmen etis global. Prinsip “tidak ada musuh atau kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan nasional” dinilai semakin menguat, bertentangan dengan nilai kemanusiaan universal.

Erosi peradaban, lanjutnya, tampak dalam dua gejala utama: normalisasi kekerasan dan dehumanisasi. Manusia direduksi menjadi angka statistik.  “Kematian satu jiwa adalah tragedi, tetapi kematian ribuan menjadi sekadar angka,” ujarnya.  Dalam kondisi ini, martabat kemanusiaan semakin tergerus dan empati publik menurun drastis. Pada aspek ekonomi, Zakiyuddin memaparkan ketimpangan ekstrem antara negara kaya dan miskin.

Ia menyebutkan bahwa sebagian kecil populasi dunia menguasai mayoritas kekayaan global, sementara separuh populasi termiskin hidup dalam keterbatasan. Konsep trickle-down effect yang pernah dijanjikan teori pertumbuhan ekonomi dinilainya tidak terbukti dalam realitas. Fenomena kapitalisme spekulatif juga disorotnya sebagai problem serius. Menurutnya, kekayaan dapat bertambah tanpa menciptakan ekonomi riil maupun lapangan kerja.  Dalam konteks krisis iklim, Zakiyuddin menegaskan bahwa pemanasan global telah menjadi kenyataan yang dirasakan seluruh makhluk hidup. Ia menyebut kenaikan suhu global yang signifikan sebagai sinyal bahaya. Krisis air, krisis pangan, serta meningkatnya bencana hidrometeorologi di Indonesia menjadi bukti nyata eksploitasi alam tanpa keseimbangan.

“Kerusakan alam bukan lagi sekadar bencana alam, tetapi bencana lingkungan akibat ulah manusia,” ujarnya. Menurutnya, krisis iklim bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga krisis nilai dan etika peradaban. Alam diperlakukan sebagai objek, bukan amanah. Generasi masa depan dikorbankan demi kepentingan jangka pendek. Eksploitasi sumber daya dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan keinginan.

Salah satu materi yang disampaikan Prof. Zakiyuddin Baidhawy. [Humas UMS].

Hilangnya Spiritualitas

Zakiyuddin mengidentifikasi hilangnya spiritualitas, dominasi rasionalitas instrumental, dan melemahnya etika global sebagai akar persoalan. Ilmu pengetahuan tidak lagi diposisikan sebagai alat untuk kemaslahatan, tetapi sebagai tujuan yang tunduk pada logika utilitas dan efisiensi semata. Sebagai respons, ia menekankan pentingnya rekonstruksi etika peradaban berbasis Islam berkemajuan. Pondasinya adalah tauhid sebagai dasar ontologis dan worldview kehidupan.

“Tauhid bukan sekadar akidah, tetapi cara pandang dan cara bertindak,” tegasnya. Iman menjadi fondasi, ilmu sebagai alat, dan amal sebagai praksis. Kemajuan sejati, menurutnya, adalah memuliakan manusia, menjaga keseimbangan alam, dan menghadirkan keadilan.

“Muhammadiyah, melalui risalah Islam berkemajuan, diharapkan mampu menawarkan etika global yang melampaui kepentingan sempit dan selektif. Dengan demikian, refleksi atas krisis geopolitik, ekonomi, dan iklim tidak berhenti pada analisis, tetapi melahirkan komitmen praksis menuju peradaban yang berkeadaban,” pungkasnya.

Webinar Series ke-56 ini, lanjutnya, menjadi ruang refleksi kritis sekaligus ajakan moral bagi sivitas akademika dan masyarakat luas untuk meneguhkan kembali nilai tauhid, kemanusiaan, dan keberlanjutan sebagai fondasi membangun masa depan global yang lebih adil dan berimbang.

Berita Terbaru

UMPKU Surakarta Gelar Kajian Zakat untuk Pendidikan Islam di Jepang

TOKYO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Universitas Muhammadiyah PKU (UMPKU) Surakarta menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional melalui kajian keislaman bertema “Pendayagunaan Zakat untuk Pendidikan Islam: Ikhtiar Menjaga Keimanan (Tadabur...

Iktikaf di Masjid Kampus UMS: Tahajud Berjemaah hingga Kajian Dai Solo Raya

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Kegiatan iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadan kembali digelar dalam rangkaian program Gema Kampus Ramadan (GKR) 1447 H di Masjid Sudalmiyah Rais. Program ini...

Bangun Generasi Berakhlak, Dai Pondok Shabran UMS Inisiasi Semarak Ramadan di Kalimantan Barat

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat belajar sekaligus meningkatkan nilai keimanan para santri. Hal ini dilakukan oleh Mahasantri Pengabdian Pondok Shabran Universitas...

UMS Berikan Bingkisan untuk Ratusan Tenaga Outsourcing dan Tenaga Harian Lepas

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pengajian Ramadan dan pembagian bingkisan bagi tenaga outsourcing dan tenaga harian lepas (THL) di Masjid Pesma Kampus 4 UMS,...

Mahasiswa KKN-Dik UMS Bangkitkan Impian Siswa SMK Muhammadiyah 3 Giriwoyo

WONOGIRI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masa depan bukanlah sesuatu yang hanya ditunggu, melainkan sesuatu yang perlu direncanakan dan dipersiapkan sejak dini. Kesadaran inilah yang coba ditanamkan mahasiswa Kuliah Kerja...

Negara vs Big Tech: Dosen FHIP UMS Soroti Kedaulatan Digital Indonesia

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Langkah tegas Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam memberikan peringatan keras kepada raksasa teknologi Meta dinilai sebagai momentum krusial penegasan kedaulatan digital nasional. Peringatan...

Kunjungi UMS, Mendiktisaintek Bahas Penguatan Riset dan Pengembangan Kampus PTMA

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, melakukan kunjungan ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Rabu (11/3/2026). Kunjungan tersebut diterima Rektor...

3 Dosen FHIP UMS Sabet Dana Penelitian Multitahun 2026, Angkat Isu ESG

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui keberhasilan tiga dosennya yang memperoleh Pendanaan Penelitian Multitahun (On...

Guru Besar UMS Soroti Dampak Konflik Iran-AS-Israel terhadap Ekonomi

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk bagi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Guru...

Pondok Shabran UMS Gandeng Warga Semarakkan Festival Ramadhan 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Festival Ramadhan 2026 yang diselenggarakan pada Sabtu – Minggu, (7-8/3/2026) berlangsung meriah dan sangat khidmat. Mengusung tema “Bersama Ramadhan, Menyemai Kebaikan, Menuai Kebahagiaan.” Kegiatan...

Cegah Bullying, UMS Jalin Kerja Sama dengan Sekolah di Selangor Malaysia

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah Sungai Besar, Selangor, Malaysia melalui penandatanganan Memorandum of...

Kolaborasi Muhammadiyah Lintas Negara: UM PKU Surakarta dan PCIM Jepang Teken MoU

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang melaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi antar...