Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ortom

Belajar Merawat Bumi Melalui Rumah Ibadah

Redaksi, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 13 Juni 2024 13:36 WIB
Belajar Merawat Bumi Melalui Rumah Ibadah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Peserta Tur Rumah Ibadah mengunjungi Klenteng Hok Tek Tjeng Sin – Jakarta Selatan belum lama ini. (Humas)

JAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—GreenFaith Indonesia berkolaborasi dengan Eco Bhinneka Muhammadiyah melaksanakan kegiatan Tur Rumah Ibadah dengan berkunjung dan berdialog ke Rumah Ibadah enam agama di Indonesia. Selain merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2024, Tur ini bertujuan untuk menghadirkan model dan inovasi bagaimana agama-agama di Indonesia berkontribusi dalam krisis iklim dengan aksi nyata.

Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, menjelaskan bahwa rumah ibadah merupakan potret sebuah agama yang di dalamnya bukan hanya digunakan sebagai rumah untuk berkomunikasi dengan Tuhan dengan ritual ibadah, namun juga sebagai pusat atau sumber pengetahuan serta contoh baik dari aksi agama dalam melaksanakan perintah Tuhan.

“Melalui Tur Rumah Ibadah ini, saya berharap peserta dapat saling bertukar pengetahuan tentang bagaimana agama mengajarkan mencintai lingkungan dan memuliakan bumi, serta memberikan pengetahuan untuk umatnya melakukan tindakan menyelamatkan bumi,” ungkap Hening yang saat ini juga aktif sebagai Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia.

Kegiatan Tur Rumah Ibadah dilaksanakan selama 2 hari pada Sabtu-Minggu, 8-9 Juni 2024. Hari pertama lokasi kunjungan Tur ini, dimulai dari kunjungan ke Pura Adhitya Jaya – Rawamangun, kemudian ke GIPB Paulus – Taman Sunda Kelapa, dan diakhiri dengan kunjungan ke Yayasan Buddha Tzu Chi – Pantai Indah Kapuk.

Hari kedua, rute Tur dimulai dari kunjungan ke Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah – Menteng Raya, kemudian ke Masjid Istiqlal – Jakarta Pusat, kemudian ditutup dengan doa bersama di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin – Jakarta Selatan.

Pinandita Pengayah Pura Adhitya Jaya, I Gde Wiyadnya, mengatakan bagi umat Hindu, alam semesta adalah refleksi manusia itu sendiri. “Semua yang ada di alam semesta terdiri dari 5 elemen atau kami sebut Panca Mahabhuta, yakni elemen pertiwi, udara, cairan, ruang, dan panas. Kalau kelima elemen tersebut di alam semesta ada yang terganggu maka akan berpengaruh ke diri kita, begitu pun sebaliknya,” ungkapnya.

Untuk menjaga keseimbangan elemen Panca Mahabhuta, urai Gde, dibutuhkan Tri Hita Karana, di mana manusia perlu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Tri Hita Karana kemudian diadopsi ketika membangun rumah ibadah. “Kita menjaga tempat ibadah kita sebisa mungkin mendekati alam semesta. Oleh sebab itu bangunan Pura terbuka, kita tanam pohon, dan umumnya memiliki sumber air,” imbuhnya.

Bangunan Pura, jelas Gde, terdiri dari 3 zona, Nista atau teras yang berada di luar, Madya atau ruang tengah, dan Utama atau ruang khusus peribadatan. Selain difungsikan secara vertikal, atau hanya untuk peribadatan kepada Tuhan, Pura juga dapat berfungsi secara horizontal atau untuk kegiatan sosial antar sesama, “Seperti kunjungan GreenFaith saat ini kita menggunakan Pura di zona bagian madya,” terangnya.

Hari Sabat

Di GPIB Paulus, Rommi Matheos selaku Pendeta GPIB Paulus, menjelaskan iman Kristen meyakini bahwa dunia ini adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan selama 6 hari, di mana hari ke 7 manusia diminta untuk istirahat, atau tidak bekerja atau disebut dengan hari Sabat. “Tuhan ingin supaya manusia tidak hanya bekerja tetapi juga harus mengistirahatkan diri dan memperhatikan bumi, di sinilah tumbuh kesadaran untuk kita menyelamatkan lingkungan,” ungkapnya.

Terkait konsep ajaran keselamatan itu sendiri, lanjut Pendeta Mattheos, Tuhan memerintahkan upaya memelihara ciptaanNya, adalah untuk keselamatan dunia dan alam. Sebagai langkah nyata dari ajaran Iman Kristen, Gereja GPIB Paulus menjalankan program layanan Gerakan Masyarakat dan Lingkungan atau Germasa sebagaimana diputuskan di persidangan Sinode yang diselenggarakan tiap tahun.

“Di GPIB Paulus kami ketika beribadah sudah tidak lagi pakai kertas, namun mulai paperless, dan kami sediakan tempat sampah pilah agar jemaat mampu memilah sampah sesuai jenisnya,” ungkap Pendeta Mattheos. Di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi, Juny Leong Min Wu, Relawan insan Buddha Tzu Chi, menceritakan sejarah, nilai ajaran, serta kiprah Madzhab Tzu Chi di Indonesia dalam bidang pendidikan, sosial, kemanusiaan, hingga lingkungan hidup.

Relawan insan Buddha Tzu Chi memberi penjelasan pada peserta Tur Rumah Ibadah di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi belum lama ini.

Relawan insan Buddha Tzu Chi memberi penjelasan pada peserta Tur Rumah Ibadah di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi belum lama ini. (Humas)

Tokoh penggerak Madzhab Tzu Chi yakni Master Cheng Yen, merupakan seorang Bhikkhuni atau pemimpin agama Buddha perempuan asal Taiwan. Inspirasi ‘Hidup berdampingan dengan bumi’ menjadi nilai ajaran Master Cheng Yen terkait pelestarian lingkungan.

Sudah sejak 1990, insan Tzu Chi melakukan pemilahan dan mengelola sampah menjadi barang berguna. “Mengubah sampah menjadi emas, dan emas menjadi cinta kasih, adalah semangat yang diajarkan Master Cheng Yen,” kata Juny.

Persoalan sampah harus diatasi bersama dan menjadi tanggung jawab setiap orang dan relawan Tzu Chi aktif aktif mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dan daur ulang di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.

Baca Juga: Pelajari Toleransi, Mahasiswa PMM 3 di UMS Kunjungi Desa Kemuning, Karanganyar

Di hari kedua kegiatan Tur Rumah Ibadah, peserta belajar tentang aksi nyata mewujudkan keadilan iklim lewat energi terbarukan di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sudah menggunakan solar atap sebagai sumber energi alternatifnya.

“Langkah nyata ini mampu mengurangi biaya pemakaian listrik dari fosil. Jika solar panelnya berfungsi secara maksimal, biaya pengeluaran listrik per bulannya bisa lebih hemat Rp 15 juta, dari yang biasanya lebih dari Rp 40 juta per bulan,” ungkap Hening, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Gerakan Muhammadiyah dilandasi oleh spirit Al Maun termasuk dalam gerakan melestarikan lingkungan. “Al Maun adalah salah satu surat di dalam Al Quran yang menjadi spirit gerakan Muhammadiyah untuk memperhatikan dan menyantuni saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim. Kini berkembang menjadi ‘Green Al Maun’, di mana Muhammadiyah melihat fakir, miskin, dan yatim akibat terdampak krisis iklim,” kata Hening.

Muhammadiyah memiliki Majelis Lingkungan Hidup sejak 18 tahun lalu, dengan harapan Muhammadiyah berkontribusi menyadarkan umatnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Tidak hanya solar atap, gedung ini juga memiliki saluran pengelolaan air limbah yang digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan kendaraan.

Pengetahuan tentang energi peserta semakin bertambah dari kunjungan ke Masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini dilengkapi dengan solar atap berkekuatan lebih dari 15 kilowatt peak yang memasok 16% kebutuhan listrik masjid. Pemanfaatan solar atap di gedung Masjid Istiqlal ini sudah berlangsung sejak 2019 lalu dengan sistem on grid atau terhubung dengan saluran listrik dari PLN.

Green Mosque

Saparwadi, Kepala Humas dan Protokol Badan Pengelola Masjid Istiqlal menyampaikan bahwa pada tahun 2022, Masjid Istiqlal telah mendapatkan penghargaan Green Mosque pertama di dunia dari International Finance Corporation (IFC). “Bangunan Masjid Istiqlal Jakarta yang memiliki luas 4 hektar dan tanah 9,6 hektar ini, kini sudah menggunakan 504 solar panel yang alhamdulillah telah membantu menghemat anggaran hingga 100 juta rupiah dari total rata-rata 200 juta rupiah per bulannya,” ungkap Saparwadi.

Selain pemanfaatan energi matahari, Masjid Istiqlal juga melakukan konservasi air dengan cara menghemat jumlah debit air wudhu yang keluar dan mengolahnya kembali untuk digunakan menyiram pohon dan tanaman di area masjid.

Dari Masjid Istiqlal, peserta bertemu Romo Pandita Mettiko, di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin / Wihara Amarvabhumi. Klenteng yang sudah berusia lebih dari 100 tahun ini bertahan di tengah gedung-gedung pencakar langit di tengah kota Jakarta. Sebuah bukti nyata bagaimana kehidupan duniawi harus diimbangi hubungan manusia dengan Tian / Tuhan dan alam sekitar yang terus menerus berubah.

“Manusia yang memelihara bumi, ia menyediakan jalan ke surga. Lingkungan yang bersih dan lestari akan nyaman ditinggali bagi semua, namun jika rusak maka kita semua terkena dampaknya,“ ungkap Romo Pandita Mettiko. “Kalau kita tidak bersaudara dalam iman, kita masih bisa bersaudara dalam kemanusiaan, mari bersama-sama kita rawat lingkungan hidup kita,” imbuhnya.

Berita Terbaru

RS UMS A.R. Fachrudin Layani Kesehatan Peserta Refleksi Milad ke-68 UMS

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surakarta (RS UMS) A.R. Fachrudin menerjunkan tim medis untuk memberikan layanan kesehatan kepada peserta Refleksi Hari Jadi ke-68 Universitas...

Ustaz Pujiono Bekali Kontingen HW Boyolali untuk Mahrojan Penghela di Pemalang

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Kwartir Daerah Hizbul Wathan (Kwarda HW) Boyolali melepas 20 peserta kontingen Mahrojan Penghela yang akan berlaga di Pemalang pada 23–25 Oktober 2026. Pelepasan...

Milad ke-61, KOKAM Solo Tanamkan Keberanian Lewat Refleksi Sejarah

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Solo akan menggelar kajian peringatan Milad ke-61 Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) sekaligus nonton bareng film Kedung...

Desa Cerdas IMM Abduh UMS Perkuat Pendidikan dan Lingkungan

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (FAI UMS) menggelar Pengabdian dan Pemberdayaan Organisasi (PPO)...

RS UMS A.R. Fachrudin Ajukan Verifikasi Ambulans Gawat Darurat

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Rumah Sakit UMS A.R. Fachrudin mengajukan verifikasi rekomendasi Ambulans Gawat Darurat kepada Dinas Kesehatan Kota Solo, Senin (19/10/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan...

Sekolah Muhammadiyah Karanggede Dukung Silaturahmi Akbar FGM

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Jajaran kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kecamatan Karanggede menyatakan dukungan terhadap Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) yang dijadwalkan berlangsung pada 7 November...

FGM Boyolali Perkuat Dakwah dan Penerimaan Siswa Baru

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Boyolali, Pujiono, mengajak guru dan pengelola sekolah Muhammadiyah meninggalkan jejak kebaikan selama mengemban amanah. Ia juga mendorong...

UMS Dampingi PCA Gatak Bikin Minyak Jelantah Bernilai Ekonomi

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendampingi anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo, mengolah minyak jelantah menjadi sabun cair pencuci piring. Program pengabdian masyarakat...

UMS Hadirkan Pakar Bangladesh dalam Pelatihan Herbal di Gatak

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membekali anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo, dengan pengetahuan budidaya dan pengolahan tanaman obat melalui pelatihan herbal berbahan...

MI Muhammadiyah 01 Manyaran Karanggede Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Ngasinan

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Sebagai wujud kepedulian terhadap sesama yang sedang mengalami krisis air bersih, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 01 Manyaran, Karanggede, Kab. Boyolali menyalurkan bantuan air bersih...

UMS Peringkat 1 PTS dan 5 Nasional dalam THE WUR 2027

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menempati peringkat pertama perguruan tinggi swasta (PTS) dan peringkat kelima secara nasional dalam Times Higher Education (THE) World University...

Keris Berusia 500 Tahun Jadi Cendera Mata UMS untuk Wakil Dubes RI

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan cendera mata berupa keris kepada Wakil Kepala Perwakilan atau Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Kuala Lumpur sekaligus...