
“Kami hanya ‘kelompok bermain’ yang kebetulan suka memproduksi film pendek independen.” Satu kalimat dari Ananta Shaafrizah yang cukup membuat seluruh rasa penasaran saya bangkit. “Kelompok bermain” mana yang bisa merilis film pendek sebagus itu? Apa benar mereka bukan kelompok spesialis perfilman?
Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dalam benak saya sebagai siswi kelas 11 SMA. Dalam benak saya tidak pernah terpikirkan kalau film pendek dengan alur yang sangat menginspirasi dan menyenangkan diproduksi oleh sekumpulan mahasiswa.
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta menghadirkan Ananta Shaafrizah yang merupakan alumnus sebagai narasumber untuk berbagi inspirasi dengan siswa-siswi kelas 11. Ananta yang merupakan mahasiswa Institut Negeri Indonesia Surakarta (ISI Surakarta) berbagi cerita dengan siswa-siswi kelas 11 tentang karyanya bersama teman- temannya dalam seni perfilman.
Binar mata siswa yang antusias, sahutan-sahutan penasaran atas plot film yang ditampilkan, juga tepuk tangan meriah mengakhiri penayangan film tersebut menunjukkan keberhasilan Ananta dan teman-teman dalam menyajikan film yang bisa dinikmati seluruh kalangan. Saya adalah salah satu siswa yang antusias atas cerita-cerita yang dibawakan Ananta perihal film pendek yang diproduksinya.
Keantusiasan saya membawa saya pada FLS2N Jurnalistik yang menghadirkan Ananta Shaafrizah sebagai narasumber utama dalam penulisan feature human interest saya dengan tema seni perfilman. Butuh waktu sekitar satu pekan untuk saya dan Ananta menemukan waktu yang tepat dan melakukan wawancara. “Nama kelompok kami Acah-Acah Films,” ungkap Ananta saat mengawali wawancara.
“Seperti yang dulu pernah saya sampaikan, Acah-Acah Films itu adalah ‘kelompok bermain’ film yang dibentuk oleh sekelompok mahasiswa Film dan Televisi ISI Surakarta. Kami memproduksi film pendek independent dan kami masih kolektif atau komunitas yang masih cukup baru, karena umur Acah-Acah Films baru satu tahun,” lanjut Ananta.
Rasa Ingin Tahu Membuncah
Prolog yang diberikan Ananta saat wawancara menimbulkan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan berlatar belakang rasa ingin tahu dan antusiasme yang membuncah. Saya mulai meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak saya dalam bentuk runtut, sehingga jawaban Ananta dapat membentuk sebuah cerita berkesinambungan.
“Acah-Acah Films awalnya dibentuk oleh temanku, namanya Rizqullah. Rizqullah bertujuan supaya ‘kelompok bermain’ ini dapat menjadi wadah bagi para pembuat film untuk berkarya, karena kami sangat terbuka kepada semua pembuat fim dari berbagai kalangan,” sambung Ananta.
“Kenapa sih Acah-Acah Films disebutnya ‘kelompok bermain’?” Penyebutan ‘kelompok bermain’ yang berulang dalam cerita Ananta membuat saya mengeluarkan pertanyaan tersebut. Pasalnya, sepertinya ada makna sendiri di balik kata ‘kelompok bermain’ sehingga membuatnya begitu ikonik dalam Acah-Acah Films.
“Dalam mengingat keyword ‘kelompok bermain’ kami, Acah-Acah Films memproduksi film-film dengan berbagai warna dan bentuk yang berbeda. Kami percaya bahwa film merupakan medium yang dapat memberikan pesan dan kesan kepada penikmatnya, sehingga kami juga mengangkat isu-isu sosial masyarakat sekitar yang penting untuk disuarakan dan didiskusikan bersama. Kami berharap film-film yang kami produksi dapat memberikan kesan yang selalu baru bagi para penontonnya,” ujar Ananta.
Jawaban yang diberikan Ananta benar-benar memikat. Dibanding dengan rasa puas yang menghampiri, justru lebih banyak pertanyaan yang datang supaya saya bisa kembali menggali cerita tentang ‘kelompok bermain’ buatan mahasiswa ISI Surakarta tersebut. “Apa yang membuat anda bergabung dalam komunitas ini?”
Yang ditanyai menunjukkan binar penuh semangat, seperti sudah menunggu bentuk pertanyaan seperti ini. “Kalau dari saya pribadi, saya menganggap Acah-Acah Films dibentuk dengan tujuan mulia dan hal tersebut memberikan kesan yang menyenangkan. Saya rasa, kami para pembuat film dan inisiatif kami dalam berkarya dilandasi oleh satu hal penting yaitu kejujuran. Kami sangat menjunjung tinggi kejujuran dalam berkarya, terutama dalam pembuatan film.”
Baca Juga: Meriah dan Inspiratif! Ini Cara Apresiasi Kelulusan Siswa di SMA Muh PK
Jawaban demi jawaban mengagumkan dari Ananta mulai terangkai menjadi satu cerita utuh yang sebentar lagi sempurna. Hanya butuh beberapa poin lagi, sehingga cerita Ananta tentang Acah-Acah Films lengkap.
“Apa ada karya dari Acah-Acah Films yang paling berkesan? Kalau boleh sharing, apa ada hal personal yang melatarbelakangi film tersebut dibuat? Eh, atau boleh deh sembari diceritakan filmnya tentang apa. Oh, sama satu lagi, apakah film-film tersebut menjadi prospek setelah kuliah juga? Karena ini kan kegiatan-kegiatan selama kuliah.”
Pertanyaan yang saya ajukan mulai terkesan tidak terstruktur dan bertubi-tubi, bentuk pertanyaan yang saya buat sesingkat mungkin rasanya ingin keluar bersamaan. “Memproduksi film akan tetap menjadi prospek saya setelah kuliah, karena memproduksi film sudah menjadi mata pencaharian saya juga, bukan hanya studi kuliah,” jawab Ananta.
“Kalau soal film yang paling berkesan, tentu saja ada. Film pendek yang paling berkesan, judulnya “TRASHTALK.” Ini film yang ditampilkan saat saya menjadi narasumber di SMA kemarin. Film ini bercerita tentang Sulis, seorang petugas pengangkut sampah yang gemar mengabadikan kesehariannya melalui media sosial, selalu medapat perlakuan tidak enak dari warga sekitar karena streotip profesinya sebagai petugas pengangkut sampah. Jauh sebelum film ini dibuat, kami sudah mengenal baik Mas Sulis yang merupakan seorang pengangkut sampah di daerah Mojosongo. Pada suatu hari, beliau meminta saya dan Rizqullah untuk membuat film tentang dirinya sebagai supir sampah, karena keresahan yang dimilikinya sebagai supir sampah yang mendapat diskriminasi dari warga setempat atas sampah yang ia ambil. Dari situ, kami memutuskan untuk memproduksi film berjudul “TRASHTALK” ini. Alhamdulillah, banyak apresiasi yang kami dapatkan.”
Kreatif dan Menginspirasi
Lengkap sudah cerita Ananta tentang Acah-Acah Films. Saya perlahan menata rangkaian cerita Ananta menjadi satu cerita utuh dalam benak saya. Ini sungguh isnpiratif, benar-benar pelajar kreatif yang menginspirasi lewat bakatnya di bidang seni perfilman. Cerita tentang Ananta dan teman-temannya akan menjadi cerita yang saya harap bisa memberikan semangat kepada banyak pelajar untuk berani berprestasi dengan mengekspresikan bakat dan talenta di berbagai bidang seni.
“Terima kasih atas kesediannya untuk berbagi cerita sama saya, Mas. Terima kasih juga, sudah berkenan mengijinkan saya menulis cerita tentang Mas Ananta dan teman-teman Acah- Acah Films,” tutur saya. Berusaha memberikan ucapan terima kasih terbaik atas bantuan yang lebih tua terhadap tulisan yang saya kerjakan. “Tentu, terima kasih juga sudah memberikan saya media untuk berbagi cerita. Saya berharap semoga cerita yang ditulis dapat memberi semangat semua orang, termasuk saya dan teman-teman.”
Saya mengangguk setuju, merangkai semuanya sedetail mungkin. Begitu banyak kata dalam benak saya yang ingin saya yang ingin saya ubah menjadi satu cerita utuh, terlalu banyak perasaan yang ingin saya salurkan lewat tulisan. “Oh, iya, terakhir. Apakah boleh saya menambahkan beberapa dokumentasi untuk tulisanmu, itu akan membuat ceritanya lebih hidup,” ungkap Ananta.
Ah, saya terlalu semangat beberapa waktu lalu. Sampai saya melupakan bahwa saya juga membutuhkan dokumentasi. “Boleh! Terima kasih!” Ananta memberikan beberapa foto dokumentasi kepada saya.
“Ini Rizqullah, sutradara ‘TRASHTALK’ yang juga inisiator dari terbentuknya Acah- Acah. Foto ini diabadikan saat ‘TRAHSTALK’ mengikuti kompetisi MINIKINO FILM WEEK International Short Film Festival di Denpasar, Bali pada September 2023. Nah, foto ini menjadi motivasi kami semua untuk terus semangat dalam berkarya, dan semoga saja bisa menginspirasi yang lain juga.”
Saya mengangguk yakin. Tulisan ini, semoga nantinya bisa sampai ke tangan para pelajar dan menginspirasi mereka untuk terus berkarya.

Zulfasya Redita Larasati.
Penulis adalah siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta
84 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Empati di Desa Catur Boyolali
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Sebanyak 84 murid kelas V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Kampung Ramadan sebagai upaya menanamkan karakter kepedulian sosial dan kemandirian...
Siswa Kelas XII SMA Muhammadiyah 1 Solo Tebar Ribuan Takjil di Penjuru Kota
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM— Menyambut keberkahan bulan Ramadan 1447 H, siswa kelas XII SMA Muhammadiyah 1 Solo yang tergabung dalam aksi ‘SETUDA Berbagi’ melaksanakan aksi sosial pembagian...
Baitul Arqam MTs Muhammadiyah Solo Baitul Arqam Diisi Praktik Ibadah Harian dan Diskusi Remaja
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Mengisi kemuliaan bulan Ramadan, MTs Muhammadiyah Solo menggelar kegiatan Baitul Arqam 1447 H yang diikuti 42 murid kelas VII dan VIII nonpondok. Kegiatan ini...
Santri MTs Muhammadiyah Solo Tebar Takjil hingga Jadi Imam Muda Masjid Sekitar
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Semarak Ramadan 1447H di MTs Muhammadiyah Solo (Matsmuka) tidak hanya diisi kegiatan internal madrasah. Semangat berbagi dan mengabdi santri Pondok KH Ahmad Dahlan MTs...
Gembleng Karakter Spiritual, 166 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Ikuti Pesantren Ramadan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Sebanyak 166 murid kelas II dan III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Pesantren Ramadan 1447 H guna menanamkan nilai tanggung...
MA Muhammadiyah Solo Gelar Takjil on The Road
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana penuh kebersamaan dan semangat berbagi terasa hangat dalam kegiatan Ramadhan yang diselenggarakan oleh keluarga besar MA Muhammadiyah Surakarta (Mamska). Rangkaian kegiatan berbagi dilaksanakan...
SD Muhammadiyah PK Banyudono Tanamkan Nilai Islam Lewat Buka Puasa Bersama
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana kebersamaan dan kekhidmatan Ramadan terasa dalam kegiatan Buka Puasa Bersama (Buber) siswa kelas 6 SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono yang dilaksanakan pada...
Mahasiswa UMS Asal Kenya Beri Dakwah di SD Muhammadiyah PK Baturan Colomadu
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Nuansa dakwah Internasional mewarnai kegiatan pesantren Ramadan di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Baturan Colomadu dengan menghadirkan mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di...
Momen Ramadan, PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi Gelar Mabit dan Upgrading Guru
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMU) Manafi’ul ‘Ulum Sambi mengadakan kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa) dan Upgrading Guru pada Rabu–Kamis, (11-12/3/2026) di aula ponpes...
Mahasiswa KKN-Dik UMS Bangkitkan Impian Siswa SMK Muhammadiyah 3 Giriwoyo
WONOGIRI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masa depan bukanlah sesuatu yang hanya ditunggu, melainkan sesuatu yang perlu direncanakan dan dipersiapkan sejak dini. Kesadaran inilah yang coba ditanamkan mahasiswa Kuliah Kerja...
Wayang Golek Pitutur Tampil di Peringatan Nuzulul Qur’an SMK Muhasuka
SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—SMK Muhammadiyah Susukan Semarang (Muhasuka) menggelar kegiatan Peringatan Nuzulul Qur’an dengan pendekatan dakwah budaya melalui Wayang Golek Pitutur, Rabu (11/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di...
Siswa SD Muhammadiyah PK Banyudono Berbagi Parcel untuk Dhuafa
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Siswa SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono menunjukkan kepedulian sosial dengan menggelar kegiatan Tebar Parcel Dhuafa pada Selasa (10/3/2026). Dalam kegiatan ini, para siswa...





