Setiap kali bulan Ramadan mendekat, ada getaran batin yang berbeda dalam diri seorang Muslim. Seolah-olah jiwa ini dipanggil untuk pulang kepada kesadaran terdalam sebagai hamba Allah. Ramadan bukan sekadar bulan dalam hitungan kalender hijriyah, tetapi musim semi bagi rohani, saat di mana iman disirami, hati dibersihkan, dan arah hidup ditegaskan kembali.
Al-Qur’an mengawali perintah puasa dengan panggilan yang sangat mulia: “Wahai orang-orang yang beriman.” Seruan itu bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan identitas. Puasa bukan beban, tetapi konsekuensi cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Ketika Allah memerintahkan puasa, Dia tidak sedang menghendaki lapar dan dahaga semata. Tujuan akhirnya adalah la‘allakum tattaqūn yaitu agar kita menjadi pribadi yang bertakwa.
Takwa bukan konsep abstrak yang melayang di langit teori. Ia hadir dalam bentuk kesadaran yang hidup: merasa diawasi, merasa dekat, merasa bertanggung jawab. Puasa melatih manusia untuk jujur pada dirinya sendiri. Dalam kesendirian, ketika tak seorang pun melihat, seorang Muslim tetap menahan diri dari makan dan minum. Di sanalah puasa menjadi madrasah kejujuran, sekolah pengendalian diri, dan latihan kesabaran.
Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga
Sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad, Allah tidak membutuhkan sekadar lapar dan dahaga. Jika lisan masih berdusta dan perilaku masih kasar, maka esensi puasa belum menyentuh jiwa. Dengan demikian, Ramadan sesungguhnya adalah proyek besar pembentukan karakter.
Menjelang Ramadan 1447 H, pertanyaan yang patut kita ajukan bukanlah, “Apa menu berbuka nanti?” melainkan, “Bagaimana kondisi hati kita hari ini?” Tarhib atau penyambutan Ramadan bukan seremoni simbolis, tetapi momentum persiapan yang sungguh-sungguh.
Persiapan pertama adalah persiapan rohani. Ramadan memerlukan hati yang bersih. Dendam yang disimpan, iri yang dipelihara, dan amarah yang tidak terkelola adalah beban yang akan menghalangi cahaya Ramadan masuk ke dalam jiwa. Maka sebelum hilal tampak, seharusnya kita telah lebih dahulu memperbanyak istigfar, memperbaiki relasi, dan meluruskan niat.
Persiapan berikutnya adalah persiapan ilmu. Ibadah yang benar lahir dari pemahaman yang benar. Mengetahui fikih puasa, memahami adab sahur dan berbuka, serta mengerti keutamaan lailatul qadar akan menjadikan Ramadan kita lebih terarah. Tanpa ilmu, ibadah bisa kehilangan kualitas; tanpa kesungguhan, ilmu menjadi tak bermakna.
Tak kalah penting adalah persiapan fisik dan sosial. Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi justru momentum meningkatkan produktivitas kebaikan. Menjaga kesehatan, mengatur pola hidup, serta mempersiapkan sedekah dan zakat adalah bagian dari kesiapan menyambut bulan suci. Ramadan selalu menghadirkan dimensi sosial yang kuat. Puasa mengajarkan empati kepada yang lapar, menguatkan solidaritas kepada yang lemah, dan mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.
Ramadan juga disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Pada bulan inilah kitab suci Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup manusia. Maka menjadi ironi jika Ramadan berlalu tanpa kedekatan kita dengan Al-Qur’an. Tadarus bukan sekadar tradisi malam hari, tetapi dialog spiritual antara hamba dan Tuhannya.
Dalam hadis disebutkan bahwa ketika Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Gambaran ini memberikan pesan psikologis yang kuat bahwa suasana kebaikan sedang dilapangkan. Siapa pun yang ingin berubah, inilah waktunya. Siapa pun yang ingin memulai lembaran baru, inilah saatnya.
Namun demikian, tantangan Ramadan di era modern tidak kecil. Bulan suci sering kali tereduksi menjadi bulan konsumsi. Pusat perbelanjaan ramai, meja makan melimpah, tetapi masjid tidak selalu bertambah penuh. Kita perlu mengembalikan orientasi hikmah dan esensi Ramadan. Ramadan bukan festival kuliner, melainkan festival perbaikan diri.
Keluarga memiliki peran penting dalam menghidupkan suasana ini. Anak-anak perlu merasakan bahwa Ramadan adalah bulan istimewa. Salat berjemaah, tadarus bersama, serta suasana rumah yang lebih religius akan meninggalkan jejak yang dalam pada memori mereka. Ramadan adalah ruang pendidikan karakter yang paling alami.
Pada akhirnya, nilai Ramadan tidak diukur dari seberapa meriah kita menyambutnya, tetapi seberapa dalam ia mengubah kita. Apakah setelah Ramadan kita lebih sabar? Lebih jujur? Lebih peduli? Jika tidak ada perubahan, mungkin yang berpuasa hanya tubuh kita, bukan jiwa kita.
Ramadan 1447 H adalah kesempatan yang belum tentu terulang. Setiap tahun yang datang bisa jadi adalah Ramadan terakhir bagi sebagian dari kita. Kesadaran ini semestinya melahirkan kerinduan dan kesungguhan.
Mari kita sambut Ramadan dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan tekad untuk berubah. Semoga bulan suci ini benar-benar menjadi madrasah takwa, ruang pemurnian jiwa, dan titik balik kehidupan kita.
Allāhumma ballighnā Ramadhān. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadan dan menerima seluruh amal kita. Aamiin .
Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UMS, Anggota Majelis Pustaka Informasi PDM Kota Solo.
Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H
Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...
Tablig Akbar UMS Soroti Peran Masjid dalam Membangun Kehidupan Warga
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3/2026) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan...
Masjid Baiturrahman Nusukan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Baiturrahman, Cangakan, Nusukan Banjarsari, menggelar Pengajian Nuzulul Qur’an pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan Nuzulul Quran...
Belajar Metode Pendidikan Islam Ala Luqman Al-Hakim dalam Surat Luqman Ayat 13
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif. Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman. Dosen Ilmu Qur’an dan...
Puasa : Regulasi Diri dan Etika Digital
Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga memiliki makna psikologis dan sosial yang mendalam. Di sisi lain,...
Di Meja Berbuka, Kita Menyulam Cinta dan Takwa
Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan wajah yang khas. Ia bukan hanya bulan ibadah individual seperti puasa, tarawih, dan tilawah, tetapi juga ruang sosial yang hidup....
Meneropong Sejarah Perubahan Kiblat dan Konsep Umat Wasathan
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Sejarah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah. Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah...
Ramadan Berdaya, Kuliah Subuh Desa Demangan Bangkitkan Spirit Kepedulian
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan Sambi Boyolali terasa lebih hidup dan khidmat. Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya,...
Tarhib Ramadan Masjid Al-Jannah Tegalgiri, Wayang Golek Pitutur Kupas Keutamaan Bulan Suci
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masjid Al-Jannah Dukuh Kajar, Tegalgiri, Nogosari menggelar kegiatan Tarhib Ramadan yang dikemas melalui pagelaran Wayang Golek Pitutur, Sabtu (14/2/2026) malam. Kegiatan dalam rangka menyambut...
Mencerahkan, Kajian AIK di PCM Grogol Kupas Thaharah dari Dimensi Akidah
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo menyelenggarakan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang bertempat di MCC LKSA Muhammadiyah Cabang Grogol, Sukoharjo, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini...
Pengajian Sabtu Legi, PRA Malangjiwan Angkat Tema Isra Mi’raj
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Malangjiwan menyelenggarakan pengajian rutin Sabtu Legi di Masjid Al Huda Trowangsan, Malangjiwan, Sabtu (24/1/2026). Acara dengan penceramah Ustaz Hananto ini...
Kajian Tafsir UMS Bahas Sifat Bani Israil dalam Al-Qur’an
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menyadari pentingnya memahami kandungan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk meningkatkan kadar spiritualitas hamba. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hadir dengan menggelar Kajian Tafsir, mengundang pakar dalam...






