
Di lorong-lorong waktu Kota Bengawan, nama Soerono Wirohardjono pernah bergaung lirih namun mantap. Ia bukan sekadar penulis berita. Ia adalah penenun kata yang dari ujung penanya menjelma menjadi cermin bagi masyarakatnya sendiri. Di meja redaksi yang mungkin sederhana, di bawah lampu yang tak selalu terang, ia merangkai kalimat-kalimat yang bukan hanya memberi kabar, tetapi juga menyalakan kesadaran.
Dengan nama pena sebagai “Sikoet”, ia menulis dengan gaya yang tajam namun tetap beradab. Kritiknya tidak meledak-ledak, tetapi mengendap dan menghunjam. Ada ketegasan dalam tiap alinea, sekaligus kelembutan yang membuat pembaca merasa diajak berdialog, bukan dihakimi. Di masa ketika pers menjadi salah satu medan perjuangan gagasan, ia memadukan latar ningrat-nya dengan semangat pembaruan Muhammadiyah. Menjadikan tulisan sebagai ruang temu antara tradisi dan modernitas.
Kota Solo pada masa itu bukan sekadar kota budaya, melainkan juga kawah candradimuka bagi gagasan-gagasan besar. Dari kota inilah denyut pers lokal ikut memberi warna pada arus nasional. Soerono berdiri di tengah pusaran itu. Ia menyaksikan perubahan zaman, pergantian kuasa, dan dinamika organisasi. Semua itu terekam dalam jejak tulisannya. Melalui koran dan majalah, ia ikut membentuk opini, menyemai etos kritis, dan mengajak umat untuk melek terhadap realitas sosial-politik di sekitarnya. Dalam sunyi kerja jurnalistiknya, ia turut menyumbang bata demi bata bagi bangunan kesadaran kolektif.
Hari ini, ketika arus informasi mengalir begitu deras dan sering kali tanpa saringan, mengenang Soerono adalah cara untuk menengok kembali akar. Bahwa pers pernah dijalani sebagai panggilan jiwa, bukan semata profesi. Menulis adalah tanggung jawab moral, bukan sekadar produksi konten. Di tengah riuhnya linimasa dan gemuruh algoritma, teladan “Sikoet” terasa relevan: keberanian bersuara, kejernihan berpikir, dan kesetiaan pada nilai. Maka mengenangnya bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan upaya merawat ingatan agar sejarah pers lokal tak tercerabut dari tanahnya sendiri, dan agar generasi kini tahu, di Kota Raja pernah berdiri seorang jurnalis yang bekerja dalam diam, tetapi jejaknya tetap bergema.

Soerono pada usia 40-an tahun. [Istimewa].
Lahir dengan nama Daliman Wirohardjono pada 1 Desember 1910 di Kota Solo, , ia tumbuh di dunia ningrat. Ayahnya Raden Ngabehi Wirohardjono adalah abdi dalem mantri kadipaten anom Kasunanan Surakarta. Bahkan, menurut penuturannya, kedua orangtuanya memiliki garis keturunan dari penggede kerajaan Pajang dan Mataram Islam. Nama Soerono lahir dari hasil ikhtiar dan doa. Ia semula bernama Daliman, namun karena kerap ambruk sakit-sakitan. Dalam kepercayaan Jawa, hal ini karena kabotan jeneng. Maka namanya diganti atas seorang dukun sepuh. Pergantian nama ini bukan sekadar simbolis, melainkan penanda harapan yang lebih baik.
Meski berada di level ningrat, keseharian keluarga Wirohardjono bernafaskan Islam yang kental. Karena itu, Soerono kecil tumbuh sebagai sosok religius yang taat beribadah. Puncak religiusnya terjadi di tahun 1950. Soerono pergi munggah haji ke Makkah sebagai wakil wartawan dan pengurus Majelis Pimpinan Haji (MPH) oleh Pemerintah Indonesia dan dukungan sponsor dari Muhammadiyah. Perjalanan tiga bulan yang panjang dan melelahkan itu tak hanya berbuah pengalaman spiritual, tetapi juga bahan bakar intelektual. Ia menelurkan tulisan dalam 17 edisi bersambung di majalah Adil dengan judul “Kisah Perjalanan Haji”.
Soerono adalah sosok yang haus akan pengetahuan. Dari privilage ningrat-nya, masa kecilnya mendapat kesempatan untuk duduk di bangku Hollandsch Ilandsche School (HIS), setingkat sekolah dasar sekarang, di Kota Solo dari 1918−1925. Sekolahan dengan kurikulum Belanda yang membuka cakrawala bahasa dan pengetahuan Barat. Di sana ia menyerap bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, sembari tetap menjejakkan pada bahasa Jawa dan Melayu/Indonesia. Kemahirannya dalam tiga bahasa ini kelak menjadi modal besar dalam dunia jurnalistik.
Selepas HIS, ia melanjutkan nyantrik di Sekolah Menengah Muhammadiyah Solo di kompleks Al-Wustho, Mangkunegaran (1927−1929). Di lingkungan inilah fondasi ideologisnya menguat. Selain mempelajari ilmu pengetahuan, ia juga menyelami semangat Kemuhammadiyahan. Ia tertarik dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang reformis, menjadikan Islam sebagai motor penggerak pembaruan. Dari ruang-ruang kelas sampai forum diskusi organisasi, benih cintanya terrhadap Muhammadiyah tumbuh subur.
Jejak pengabdiannya di Muhammadiyah bermula dari gerakan kepanduan Hizbul Wathon (HW) pada 1929. Dari Pimpinan Regu hingga Komisaris Besar se-Indonesia, ia menapaki tangga pengadadern dengan setia. Pernikahannya dengan Soedarmi Soerono pada 1932 (kebetulan adik kelasnya semasa sekolah menengah), tak menyurutkan langkah dan semangatnya ber-Muhammadiyah.
Justru bermula dari situ, Soerono kian tenggelam dalam pengabdian. Mulai dari menjadi korektor dan wartawan Adil, memimpin Ranting Muhammadiyah, Cabang Muhammadiyah, dan duduk dalam Majelis Wakaf, Tablig, dan Pimpinan Daerah Muhamadiyah Kota Solo. Pada 1970, ia dipercaya memimpin bagian Majelis Pustaka (sekarang Majelis Pustaka dan Informasi). Sebagai kader Muhammadiyah, Soerono aktif mengikuti Kongres Muhammadiyah—sekarang disebut Muktamar Muhammadiyah. Mulai dari Muktamar di Malang (1938), Medan (1939), Purwokerto (1953), Palembang (1956), Jakarta (1959), Ujung Pandang (1971) dan Padang (1975).
Terjun di Adil
Jika masa mudanya adalah fondasi, maka pada 1932 menjadi pintu gerbang takdirnya di dunia pers. Di sebuah rapat penting Muhammadiyah Cabang Solo di Sontohartanan, Keprabon, Soerono muda duduk menyimak para dedengkot berdiskusi menindaklanjuti putusan Kongres ke-XXI Muhammadiyah di Makassar. Salah satu putusannya adalah penerbitan sebuah surat kabar Muhammadiyah.

Rumah Soerono yang sekaligus menjadi kantor majalah “Adil” di Kartopuran, Kota Solo. [Istimewa].
Di tengah rapat di Sontohartanan, muncul sosok pria yang mengaku sebagai jurnalis dari De Locomotief (Semarang). Baru kali itu Soerono mendengar istilah jurnalis. Rapat dihentikan oleh Moeljadi untuk “melayani” sang tamu. Ternyata jurnalis itu hendak mewawancarai Moeljadi terkait putusan kongres tadi. Sejak itu, Soerono mulai mengerti cara kerja jurnalis dan memutuskan untuk terjun ke dunia pers.
Rapat tadi akhirnya menghasilkan keputusan bahwa mereka sepakat menghimpun modal dan segera mengkoordinasi penerbitan. Nama Adil dipilih sebagai nama majalah. Tujuannya agar semua orang bertindak adil kepada setiap orang. Maka harian Adil mesti objektif. Pimpinan Umum yang pertama Adil adalah Samsoeddin Soetan Makmoer, yang kelak jadi Menteri Penerangan.
Adil terbit pertama kali sebagai majalah mingguan dengan kertas koran. Penerbitnya adalah Pengurus Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka yang dicetak di Darpoyudan. Di awal terbitnya, hanya empat halaman saja yang mereka terbitkan. Oplahnya tak sampai 1.000 eksemplar. Saat itu, harganya hanya 12,5 sen dan bagi yang ingin langganan selama per tiga bulan dikenai biaya 1,60 Rupiah.
Pimpinan Adil kemudian beralih ke tangan Firdaus Harun Al-Rasyid, eks Digulis dengan nama samaran “Yo-yo”. Di tangannya, harian Adil kian menyala. Sifatnya yang anti-kolonialis menyeretnya ke penjara lagi di tahun 1935, berbarengan dengan Soerono.
Soerono memimpin Adil pada tahun 1938. Ketika ia pimpin, wajah Adil berubah menjadi mingguan dengan format 20 x 30 cm lebih besar. Isiannya juga lebih lengkap, ada tulisan dengan perspektif luar negeri, dan rubrik-rubrik lainnya memenuhi halaman. Juragan kretek, Nitisemito, memasang iklan segaban di sampul belakang tiap Adil terbit. Tentu pemasukan dari sini cukup lumayan. Sejak itu, pelanggan Adil merambat se-antero Tanah Air, bahkan hingga ke luar negeri.
Sebagai seorang Pimpinan Umum, Soerono mendapat gaji 17,5 gulden. Mungkin terlihat sedikit bagi sekelas redaktur. Namun, ia tetap mensyukurinya sebab baginya, yang penting cukup membuat kenyang istri dan anak-anaknya. Ia juga mengatakan tiap hari Minggu, ia sekeluarga plesir ke Sriwedari menonton layar tancap juga keplek ilat sego liwet di gerai makan Pak Amat yang ngetop ketika itu.
Selama menjadi jurnalis, ia menggunakan nama pena “Sikoet”. Karier jurnalistiknya tak selalu mulus. Ia kerap kali berurusan dengan Regenering voorlichting Dienst atau bagian Penerangan Hindia-Belanda milik pemerintah kolonial. Sebab sebagai redaktur Adil, ia meng-goal-kan artikel-artikel milik Soekarno, Moh. Hatta, dan tokoh-tokoh nasional lainnya yang sudah kena pantau rezim Belanda karena memuat konten perlawanan terhadap kolonial. Meski terus diawasi, Mbah Sikoet tak gentar. Justru ia semakin berani untuk melawan sikap represif terhadap pers itu, bahkan sampai tahun 1950-an.
Sebagai jurnalis, ia sempat ditahan dan dijebloskan ke sel besi oleh pihak kolonial karena menerbitkan suatu artikel terjemahan di Adil, saat itu masih terbit harian, dengan judul “De Franschen en de Mohammedanen” yang artinya kurang lebih “Orang Perancis dan Umat Islam”. Artikel itu memuat tentang pergolakan di Aljazair melawan Perancis. Oleh pihak Walanda, tulisan itu dianggap melahirkan provokasi kepada masyarakat Indonesia untuk berani melawan dan memberontak kepada Belanda.
Soerono mesti “menikmati” dinginnya balik jeruji besi selama hampir lima bulan. Ia dinyatakan tidak bersalah dan tak ada dasar hukum untuk menuntutnya atas pelanggaran pers itu. Selain karena artikel terjemahannya di atas, ia juga ditahan karena menulis artikel berjudul “Joden en Islamleten in Palestina” atau terjemahannya: “Yahudi dan Umat Islam di Palestina. Ia juga pernah terkena denda sebanyak 10 gulden dalam persidangan Landraad-summier karena mencetak orgaan lainnya dengan tidak memakai nama Adil.
Demi Adil, pada 1950 ketika Soerono akan menerbitkan Adil kembali. Ia dan sang istri rela menggadaikan rumah serta beberapa perhiasan sebagai modal. Usaha suami istri ini membuahkan hasil. Per 5 Januari 1950, Adil berhasil terbit dan menjadi koran republiken pertama yang terbit pasca-rentetan Agresi Militer Belanda II. Dalam terbitnya Adil kembali, ada peran Muhammadiyah yang menyokong Soerono.
Pejuang Revolusi Fisik
Pada masa Revolusi Fisik (1945−1949), Soerono turut aktif sebagai pejuang dengan bergabung di Barisan Banteng, semacam pasukan semi-militer bentukan pemuda Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Pimpinannya adalah Soediro dan dr. Moewardi. Di sana, Soerono mengenal banyak tokoh nasional.
Pada tahun 1945−1946, di Solo meletus gerakan revolusi. Kelompok Soerono cs. dicap sebagai kaum oposisi sebab anti-perundingan dengan Belanda. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai Banteng Republik, dikomandoi oleh sosok tersohor sekaliber Tan Malaka.
Pada 3 Juli 1946, Perdana Menteri Indonesia saat itu, Sutan Sjahrir, hilang dan diculik di Solo. Diduga dalangnya adalah pasukan oposisi saat itu, Barisan Banteng. Akibatnya, Soerono dan koleganya dijebloskan ke tahanan militer. Soerono mendekap di jeruji besi tidak kurang 13 bulan, sebelum dibebaskan karena tak ada bukti mendasar.
Mengapa Soerono bergabung dengan Barisan Banteng? Ia menuturkan perjuangan masa revolusi tidak memandang golongan atau partai mana saja. Barisan Banteng memang jelmaan Barisan Pelopor. Dari kalangan Muhammadiyah, ada sosok Moeljadi Djojomartono yang tak lama di sana bergabung dengan Masyumi Kota Solo. Juga ada dr. Moewardi.
Selain mengangkat bedhil, Soerono aktif dengan penanya. Ia berkecimpung mendirikan, mengurus, dan menjadi redaktur harian Merah Putih, lalu Lasykar. Koran-koran ini tidak terbit berbarengan tapi mengusung konsep “mati satu, hidup satu lainnya”. Kedua koran ini disebut “surat kabar bawah tanah”. Atas persetujuan kedua surat kabar ini, keduanya bergabung menjadi satu dengan nama Indonesia Raya, dengan Soerono tetap menjadi Pimpinan Redaksinya.
Ia juga punya nama samaran selain “Sikoet”, yakni “Black Buffalo”. Nama ini ia gunakan ketika menjadi anggota Barisan Banteng pimpinan dr. Moewardi dan Soediro. Nama terakhir adalah pemilik surat kabar cPacifik yang sebelumnya dipimpin Imam Soetardjo. Kemudian Soerono lagi-lagi dipercaya menjadi Pimpinan Redaksi menggantikan pimpinan sebelumnya.
Rumahnya, sekaligus kantor majalah Adil, digunakan oleh Hizbullah Surakarta sebagai tempat asrama. Sebab di dekat rumah itu, ada lapangan yang digunakan sebagai tempat latihan bagi pasukan Hizbullah pada masa Revolusi Fisik di Solo.

Soerono bersama awak majalah “Adil” saat piknik ke segaran Taman Sriwedari. [Istimewa].
Soerono punya peranan penting dalam sejarah pers Indonesia. Ia menjadi saksi lahirnya Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) tahun 1933 dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 1946 yang keduanya sama-sama bertempat di Kota Solo. Ia menjadi saksi lahirnya perkumpulan jurnalis Indonesia itu bersama dua tokoh sekaligus idolanya dalam dunia pers: Darmosoegondo dan Soedarjo Tjokrosisworo.
Dalam pertemuan Perdi, Soerono menjadi saksi bagaimana jurnalis Bumiputera berkumpul dan rembug memikirkan seputar arah jurnalistik Indonesia ke depannya. Ia bersama 30-an jurnalis berkumpul di gedung Societeit Habipraja. Rapat yang berjalan alon sebab terjadi suatu insiden ini akhirnya menghasilkan keputusan untuk mengesahkan Perdi beserta AD/ART dan susunan kepengurusannya. Soerono sendiri terpilih menjadi penulis Perdi.
Untuk PWI, ia juga menjadi saksi berdirinya perkumpulan wartawan Indonesia pasca-kemerdekaan itu. PWI berdiri melalui sebuah kongres yang dihelat di Solo, tepatnya di Societeit Sasana Suka (saat ini menjadi Monumen Pers Nasional), pada 9−10 Februari 1946. Kongres ini diramaikan oleh jurnalis, penerbit, pimpinan majalah, penyiar radio, dan masih banyak lainnya.
Penulis adalah sarjana pendidikan Sejarah FKIP UNS
Referensi:
Adnan, A. B., Esye, K., Bahri, S., Sutanto, A., & Suciati, R. (1995). 85 Tahun H. Surono Wirohardjono: Potret Wartawan Empat Zaman. Surakarta: Keluarga Besar Majalah Adil.
Adnan, A.B., Sahri, S., Setiadi, B., Ramelan, K., & Eliza, D. (1987). Kenangan Empat Belas Wartawan Surakarta. Surakarta: Panitia Hari Pers Nasional/HUT PWI ke-41 PWI Cabang Surakarta.
Probohardjono, S. (1985). Sejarah Pers dan Wartawan di Surakarta. Surakarta: n.p.
Samsujin, R. (2015). Sejarah Pers dan Wartawan Tempo Doeloe: Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Surakarta. Surakarta: Romiz Aisy.
Soebagijo. (1981). Jagat Wartawan Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
Surjomihardjo, A., dkk. (2002). Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: Buku Kompas.
Tjokrosisworo, S. (1958). Kenangan: Sekilas Perdjuangan Suratkabar, Sejarah Pers Sebangsa. Djakarta: Serikat Perusahaan Surat Kabar.
De Koerier, 2 Januari 1934.
De Koerier, 7 September 1939.
De Locomotief, 22 Juni 1933.
De Locomotief, 31 Maret 1935.
De Locomotief, 17 Oktober 1935.
Djawa Tengah, 19 Juni 1933.
Provinciale Zeeuwse Courant, 2 Februari 1950.
Mengenang 97 Tahun Kongres ke-18 Muhammadiyah di Surakarta (30 Januari 1929−30 Januari 2026)
Riwayat awal Muhammadiyah Cabang Surakarta (MCS) sejatinya sudah well-documented atau terdokumentasi dengan baik. Nama-nama tokohnya kerap disebut, dinamika organisasinya sering dikisahkan. Jejak gerakannya tak sukar...
Menyulam Iman di Kota Raja: Sontohartono dan Lahirnya Muhammadiyah Solo
Riwayat awal hidup Sontohartono memang masih diselimuti kabut tipis sejarah. Hingga kini, tak satu pun sumber menyebutkan secara pasti kapan ia dilahirkan. Namun, terdapat petunjuk...
HistorywalkMu Telusuri Kampung Kauman Bareng Mahasiswa Psikologi UMS
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Puluhan mahasiswa beralmamater tampak berkumpul di halaman Masjid Agung Solo, Senin (8/7/2024) pagi. Mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang...





