Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

Soal Hutan Karbon, Pakar UMS Tekankan Transparansi Pengelolaan Hutan

Alvian, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 9 Februari 2026 17:29 WIB
Soal Hutan Karbon, Pakar UMS Tekankan Transparansi Pengelolaan Hutan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi hutan.

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Hutan Indonesia memegang peran kunci dalam menekan emisi karbon global, namun efektivitasnya sangat bergantung pada tata kelola yang transparan dan konsisten di lapangan. Penguatan pengawasan, keterbukaan data, serta pelibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting menjaga fungsi hutan sebagai penyerap karbon.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aziz Akbar Mukasyaf, menjelaskan kemampuan penyimpanan karbon berbeda pada tiap jenis tutupan lahan. Hutan alam disebut memiliki simpanan karbon paling besar dan stabil karena didukung struktur vegetasi berlapis, pohon berumur panjang, serta sistem tanah dan keanekaragaman hayati yang kompleks.

Sebaliknya, sistem penggunaan lahan lain seperti agroforestri atau Multi Purpose Tree Species (MPTS) tetap mampu menyerap karbon, tetapi jumlah simpanannya relatif lebih rendah dan sangat bergantung pada jenis tanaman, umur, serta pola pengelolaannya.

“Hutan tanaman industri dan perkebunan sawit sering kali disamakan sebagai ‘hutan’, padahal fungsi karbonnya sangat berbeda. Rotasi panen yang pendek membuat karbon tidak tersimpan lama, sementara sawit cenderung menjadi sistem monokultur dengan daya dukung ekologi terbatas,” kata Aziz, Senin (9/2/2026).

Topang Pembangunan Berkelanjutan

Dalam konteks global, Indonesia menerima hibah internasional dan pembayaran berbasis kinerja untuk menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Skema seperti Result-Based Payment (RBP) REDD+ dan kebijakan Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 dirancang agar hutan tetap berfungsi sebagai penyerap karbon sekaligus menopang pembangunan berkelanjutan.

“Hibah ini pada dasarnya diberikan agar hutan Indonesia tetap alami, lestari, dan tidak terus ditekan oleh ekspansi lahan. Dana tersebut ditujukan untuk menurunkan laju deforestasi dan degradasi, bukan sekadar mengganti hutan dengan tutupan lain yang secara ekologis tidak setara,” ujar Aziz.

Meski demikian, ia menilai efektivitas program tersebut sangat ditentukan oleh tata kelola perizinan dan pengawasan di tingkat tapak. Secara regulasi, negara menguasai kawasan hutan dan memberikan berbagai skema hak kelola kepada pihak lain, mulai dari konsesi kehutanan hingga perhutanan sosial. Namun, keterbukaan data dan evaluasi kinerja pengelolaan hutan dinilai masih terbatas.

Informasi mengenai kontribusi penurunan emisi, kondisi ekologis, hingga dampak sosial di lapangan belum sepenuhnya mudah diakses publik. Transparansi dinilai penting agar pengelolaan hutan dapat dipantau dan dipertanggungjawabkan.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aziz Akbar Mukasyaf.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aziz Akbar Mukasyaf. (Humas)

Aziz juga menyoroti implementasi agroforestri dan MPTS yang kembali didorong dalam kebijakan kehutanan. Menurutnya, konsep tersebut secara teori mendukung penyerapan karbon sekaligus ekonomi masyarakat, tetapi belum sepenuhnya mempertimbangkan faktor harga komoditas dan insentif di tingkat petani.

Di sisi lain, pemerintah tengah mengembangkan kebijakan insentif karbon melalui mekanisme Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Skema ini diarahkan untuk mengatur perdagangan karbon dan pembagian manfaat dari penurunan emisi, termasuk di sektor kehutanan.

Menurut Aziz, insentif karbon idealnya juga menjangkau masyarakat sekitar hutan yang menjaga tutupan lahan secara langsung. Tanpa skema yang menyentuh tingkat tapak, upaya menjaga hutan dinilai sulit berkelanjutan.

Ia menekankan pelibatan masyarakat lokal, organisasi, dan kelompok adat sebagai bagian penting dari pengawasan dan pengelolaan hutan. Partisipasi publik dinilai dapat memperkuat transparansi serta memastikan hutan tidak hanya dipandang sebagai aset ekonomi, tetapi juga sebagai penyangga karbon dan sistem kehidupan.

Penguatan tata kelola yang transparan, berbasis ilmu pengetahuan, dan konsisten antara kebijakan serta praktik di lapangan menjadi kunci agar hutan Indonesia tetap berfungsi optimal sebagai penyerap karbon dan penopang lingkungan.

Berita Terbaru

UMS Hadirkan Pakar Bangladesh dalam Pelatihan Herbal di Gatak

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membekali anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo, dengan pengetahuan budidaya dan pengolahan tanaman obat melalui pelatihan herbal berbahan...

Tim Pengabdian UMS Dorong Digitalisasi Dikdasmen PCM Kartasura

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendorong digitalisasi tata kelola dan pengembangan kewirausahaan di lingkungan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF)...

IQT UMS Perkuat Tradisi Qira’at Bersanad di Pesantren

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkontribusi dalam pembinaan tahsin dan pembelajaran qira’at bersanad di...

Dosen UMS Bahas Desain Ideal Sistem Pemilu untuk Perkuat Kualitas Demokrasi

YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Desain sistem pemilihan umum (pemilu) berperan penting dalam menentukan kualitas demokrasi, keterwakilan politik, dan efektivitas pemerintahan. Karena itu, pembaruan sistem pemilu perlu mempertimbangkan keadilan...

Prof. Aidul Fitriciada Azhari Jelaskan Putusan MK tentang Ijazah Gibran

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pakar hukum tata negara Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Aidul Fitriciada Azhari, menjelaskan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara syarat pendidikan dan dokumen...

UMS Perkuat Ketahanan Ekonomi dan Kesehatan Mahasiswa Muslim di Taiwan

TAIWAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat kapasitas komunitas mahasiswa Muslim di Taiwan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertajuk “Penguatan Ketahanan Ekonomi dan...

Campus Visit MA Al Karim, FAI UMS Tekankan Peran Santri

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menerima kunjungan akademik dari Madrasah Aliyah (MA) Al Karim, Kamis (1/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang...

UMS Jajaki Kolaborasi LinkedIn untuk Petakan Alumni Global

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjajaki kolaborasi dengan LinkedIn untuk memperkuat ekosistem karier, pemetaan alumni, kemitraan industri, dan reputasi internasional. Penjajakan ini diarahkan pada...

Kekeringan di Ngasinan, MIM 01 Manyaran Kirim Tangki Air Bersih

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 01 Manyaran, Karanggede, menyalurkan bantuan dua tangki air bersih kepada warga Dusun Ngasinan, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, Rabu (7/10/2026). Bantuan...

UMS Jajaki Kerja Sama ITPC Hamburg, Buka Karier ke Jerman

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjajaki kerja sama dengan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Hamburg untuk membuka peluang mobilitas lulusan tenaga kesehatan ke Jerman....

Profesor UMS Waston Masuk 25 Besar Dunia Bidang Pendidikan Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Waston, tercatat menempati peringkat ke-25 dunia dalam kategori Education and Islamic Studies berdasarkan Top 1000 Scholar...

Pura Mangkunegaran Jadi Ruang Archfest 2026, Arsitek dan Mahasiswa Kolaborasi

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Ikatan Alumni Teknik Arsitektur (IATA), Program Studi S1 Arsitektur, dan Program Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersinergi dalam penyelenggaraan Archfest 2026....