SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Bulan Syawal menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, banyak yang berusaha meraih keutamaan puasa Syawal.
Puasa Syawal adalah ibadah puasa selama 6 hari yang dijalankan usai Ramadan yang pahalanya disebut setara dengan puasa setahun penuh. Namun, sebagian orang masih memiliki hutang puasa Ramadan, seperti muslimah yang menstruasi, atau ibu hamil dan menyusui yang perlu mengganti puasanya. Di sinilah muncul dilema, mana yang sebaiknya didahulukan, puasa qadha atau puasa Syawal?
Kepala Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Imron Rosyadi, membagikan pandangan komprehensif terkait persoalan tersebut. Menurutnya, keutamaan puasa Syawal begitu besar, sehingga wajar jika umat Islam begitu menantikan bulan baik ini. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah dalam hadis berikut:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رواه مسلم والترمذى وأحمد)
“Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa (satu tahun).” (Hadis Riwayat Muslim, Turmudzi, dan Ahmad).
“Ulama menyebut puasa ini sebagai sunah muakadah, artinya sangat dianjurkan karena melengkapi pahala Ramadan menjadi setara dengan puasa satu tahun penuh,” kata dia, Rabu (2/4/2025).
Mengapa bisa demikian? Imron menjelaskan bahwa setiap 1 hari puasa Ramadan dihitung setara dengan pahala berpuasa selama 10 hari. Jika seseorang menjalankan puasa Ramadan secara penuh selama 30 hari, maka tinggal dikalikan 10, sehingga totalnya menjadi 300 hari.
Kemudian, 6 hari puasa Syawal juga dihitung dengan cara yang sama, 6 hari dikalikan 10, menghasilkan 60 hari. Jika ditambahkan dengan pahala puasa Ramadan yang setara 300 hari, totalnya menjadi 360 hari. Hal ini ditegaskan Rasulullah dalam sabdanya:
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ { مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا }
“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idulfitri, maka seakan ia berpuasa setahun secara sempurna. Dan barangsiapa berbuat satu kebaikan maka ia akan mendapat sepuluh pahala yang semisal.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Bagaimana jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan? Apakah tetap boleh melaksanakan puasa Syawal terlebih dahulu? “Puasa qadha adalah kewajiban, sedangkan puasa Syawal bersifat sunah. Jika ingin meraih pahala puasa Syawal secara sempurna, sebaiknya qadha diselesaikan terlebih dahulu, baru setelahnya menjalankan puasa Syawal,” jelas dosen Hukum Ekonomi Syariah UMS itu.
Urutan Pertama
Imron menegaskan urutan yang harus didahulukan bergantung pada pemahaman ulama terhadap hukum Islam. Pertama, puasa qadha harus didahulukan karena hukumnya wajib. Kedua, puasa Syawal bisa didahulukan karena waktunya lebih terbatas, hanya ada di bulan Syawal, sementara qadha bisa dilakukan hingga sebelum Ramadan berikutnya.
“Dalam fikih, ada konsep muwassa’ dan mudyayyaq. Puasa qadha bersifat muwassa’ karena waktunya panjang. Sementara puasa Syawal bersifat mudyayyaq karena hanya ada di bulan Syawal. Ini alasan mengapa sebagian ulama membolehkan mendahulukan puasa Syawal,” sambungnya. Terkadang ada kondisi di mana seseorang memiliki utang puasa lebih dari 30 hari, misalnya karena sakit berkepanjangan, sedang hamil dan atau menyusui. Jika ia mendahulukan puasa qadha, maka waktu untuk menjalankan puasa Syawal bisa habis.
Dalam situasi terdesak seperti ini, Imron menyarankan para muslimah untuk melihat mana yang lebih mudah dilakukan. “Kalau memang jumlah qadha-nya sangat banyak dan dikhawatirkan tidak sempat puasa Syawal, maka ada kelonggaran untuk mendahulukan puasa Syawal. Namun, jika seseorang lebih tenang dengan menyelesaikan kewajibannya dulu, maka qadha lebih utama,” kata dia.
Pada akhirnya, keputusan mendahulukan puasa Syawal atau puasa qadha kembali kepada kesanggupan dan kondisi masing-masing individu. Niat yang ikhlas dan usaha yang maksimal dalam menjalankan ibadah adalah yang terpenting. “Islam itu memberikan kemudahan. Tidak ada paksaan dalam ibadah. Jadi, pilihlah yang paling memungkinkan dan nyaman bagi diri sendiri, asal tetap berusaha melaksanakan keduanya,” pesan Imron mengakhiri.
Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...
Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...
Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan kesabaran (ṣabr) sebagai salah satu nilai fundamental dalam Al-Qur’an sangat penting untuk pengembangan karakter manusia, terutama dalam konteks pendidikan. Pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak ...
Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?
Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...
Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z
Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....
Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an
Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...
Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer
Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...
Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an
Daftar Isi Apa Itu Ilmu Tafsir? Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era Digital Ragam Pendekatan Tafsir Tafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju...
Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender
Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...
Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...
Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...
Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...






