
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Rabu (23/10/2024), kawasan hijau di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang diambil dari nama rektor pertama UMS, Mohamad Djazman, menjadi saksi dialektika kritis.
Hari itu mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMS menggelar diskusi santai bertajuk “Kekerasan di Dunia Pendidikan”. Dengan suasana rindang dan sejuk dari pepohonan sekitar, diskusi yang diinisiasi Bidang Pengembangan Intelektual dan Keislaman HMP PAI FAI UMS itu berlangsung interaktif dan mendalam.
Kekerasan di dunia pendidikan dianggap sebagai salah satu tantangan terbesar bagi kualitas pendidikan Indonesia, baik di lingkungan formal seperti sekolah maupun di ruang-ruang pendidikan informal. Diskusi yang berlangsung sore hari itu menghadirkan tiga pemantik yakni M. Fadlan, Hanif Syairafi Wiratama dan Fauzan Addinul Jihad.
Kegiatan ini diikuti antusias oleh mahasiswa PAI dan FAI yang ingin menggali lebih dalam penyebab, dampak, dan solusi konkret untuk mengatasi kekerasan dalam pendidikan. Ketua Umum HMP PAI UMS Salim Ahmad Ghuzie, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah menciptakan ruang dialog kritis dan santai bagi mahasiswa.
Dengan suasana informal namun tetap akademis, diharapkan peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru tetapi juga tergerak untuk berkontribusi aktif dalam mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan. “Diskusi santai ini bukan sekadar ajang bertukar pikiran, tapi juga menjadi wadah untuk menggali solusi dan langkah konkret agar kita, sebagai calon pendidik, bisa menjadi bagian dari perubahan,” ungkapnya.
Pemantik dan Isu Utama Diskusi
Diskusi dibagi menjadi tiga sesi utama, masing-masing dipandu oleh pemantik yang memberikan perspektif berbeda mengenai kekerasan di dunia pendidikan. M. Fadlan, pemantik pertama, memulai dengan display data tentang peningkatan kasus kekerasan di sekolah, baik fisik maupun psikis.
“Kekerasan cenderung naik tinggi, baik secara fisik maupun psikis, dan paling dominan terjadi di tingkat SMP/MTs (SLTP). Anak-anak di usia ini berada dalam fase kritis pencarian jati diri, sehingga rentan menjadi pelaku atau korban kekerasan,” jelas Fadlan.
Pada sesi kedua, Hanif Syairafi Wiratama membahas bagaimana trauma keluarga dan lingkungan bisa memengaruhi perilaku kekerasan. Ia menyampaikan bahwa anak yang menjadi korban kekerasan kerap tumbuh menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari, sehingga kekerasan dalam pendidikan bisa menjadi “mata rantai kemaksiatan.”
“Banyak anak membawa trauma dari keluarga yang tidak harmonis, seperti broken home, dan belum mendapatkan penanganan yang tepat. Ironisnya, pembentukan satgas anti-kekerasan acapkali terlambat, sehingga kasus kekerasan telanjur berulang,” ungkap Hanif.
Fauzan Addinul Jihad, pemantik ketiga, memaparkan analogi peran guru sebagai pemahat karakter siswa. Menurutnya, peran guru tidak hanya sekadar menyampaikan materi tetapi juga membentuk akhlak dan karakter siswa.
“Jika guru diibaratkan sebagai pemahat, mereka memahat karakter siswa setiap hari. Tapi bedanya, patung bisa di-refund jika rusak, sedangkan pengetahuan dan karakter yang buruk sulit diperbaiki setelah tertanam,” tegas Fauzan.
Diskusi Interaktif dan Perspektif Peserta
Diskusi berlanjut dengan sesi interaktif, di mana para peserta aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait isu kekerasan di dunia pendidikan. Salah satu peserta, Tammam Sholahudin, menekankan pentingnya perbaikan diri sebagai langkah awal dalam memutus mata rantai kekerasan.
“Pendidikan harus menjadi jembatan menuju kemajuan umat manusia, bukan justru tempat menyebarnya keburukan. Mari kita mulai perubahan dari hal-hal kecil, seperti menata sandal di rak, shalat tepat waktu, dan mengerjakan tugas dengan tertib. Dengan menata hal kecil, kita bisa mengubah sesuatu yang lebih besar,” ujarnya.
Peserta lain mengingatkan tentang teladan Nabi Muhammad SAW dan para salafus shalih dalam dunia pendidikan. “Kita perlu kembali kepada teladan Nabi dan para salafus shalih, bagaimana mereka ditempa dengan ilmu dan menyikapi ilmu tersebut dengan hikmah. Pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tapi tentang membentuk pribadi yang mulia,” ungkapnya.
Seorang peserta juga menyoroti sistem pendidikan modern yang kerap disamakan dengan pasar, di mana tugas-tugas hanya menjadi formalitas untuk memenuhi tuntutan. “Pendidikan kita jangan seperti market, supply and demand. Guru memenuhi tugas dari sekolah, dan sekolah memenuhi target kementerian. Kita harus menanamkan makna dalam pendidikan agar benar-benar menghasilkan pribadi yang baik dan kompeten,” jelasnya.
Kesimpulan dan Harapan
Diskusi berakhir pada pukul 17.30 WIB dengan beberapa poin kesimpulan. Para pemantik dan peserta sepakat bahwa kekerasan dalam pendidikan bukan hanya masalah struktural tetapi juga masalah kultural yang membutuhkan perbaikan menyeluruh, mulai dari internalisasi nilai baik dalam diri, lingkungan keluarga, sekolah, hingga sistem pendidikan nasional.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya peran guru dalam menciptakan ruang pendidikan yang aman dan bermakna bagi siswa. Selain itu, dibutuhkan langkah proaktif, seperti pembentukan satgas anti-kekerasan yang efektif dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran anti-kekerasan sejak dini.
Panitia berharap diskusi santai ini bisa terus berlanjut sebagai forum terbuka bagi mahasiswa untuk berdialog tentang isu-isu aktual dengan pendekatan akademis dan solutif. “Kita berharap tidak hanya mendapatkan ilmu dari diskusi ini, tetapi juga muncul semangat untuk melakukan perubahan di lingkungan kita masing-masing,” ujar moderator mengakhiri kegiatan.
UMS Kembangkan Model Ekonomi Sirkular Desa Lewat Inovasi Pengelolaan Sampah di Boyolali
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat hilirisasi inovasi melalui Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Binaan (P2DB). Program tersebut difokuskan...
63 Tahun SD Muhammadiyah 11 Mangkuyudan: Merawat Akhlak, Menjawab Tantangan Era Digital
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Enam puluh tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah lembaga pendidikan untuk terus bertahan, tumbuh, dan bergerak mengikuti perubahan zaman. Di...
UMS Apresiasi Mahasiswa dari 41 Negara Lewat International Student Award 2026
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan apresiasi kepada mahasiswa internasional melalui International Student Award 2026 bertajuk Recognizing Outstanding Achievement, Contribution, and Excellence di...
Pengurus Lazismu Pakistan Ikuti Penguatan Tata Kelola Bersama UMS
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat jejaring internasional melalui pengembangan tata kelola lembaga filantropi Muhammadiyah. Kali ini, Wakil Dekan III Fakultas Agama...
Disertasi Doktor UMS Tawarkan Model Bi-Rahmah sebagai Solusi Pencegahan Bullying
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melahirkan riset yang berorientasi pada penyelesaian persoalan pendidikan. Siti Rahmawati resmi meraih gelar Doktor Pendidikan Agama Islam...
Pustakawan UMS Presentasikan Inovasi IMAM di University Malaya Malaysia
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – UPT Perpustakaan dan Layanan Digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengikuti studi banding ke Malaysia yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI)...
Pengabdian Masyarakat, Program Studi Profesi Psikolog UMS Tingkatkan Literasi Kesehatan Mental Siswa SMP
KARTASURA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan psikoedukasi bertema kesehatan mental bagi siswa baru...
Program Profesi Psikolog UMS Sampaikan Psikoedukasi di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura
KARTASURA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan psikoedukasi bertema “Membangun Muhjitos Team yang...
Mahasiswa UMS Gagas Gerakan Udara Bersih untuk Pelajar lewat GerakDampak Academy
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Abi Umaroh, mahasiswa Magister Ilmu Hukum (MIH) Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP)...
UMS Nilai Penguatan Literasi Harus Jadi Prioritas Pembangunan Nasional
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2026 dinilai berpotensi menghambat upaya peningkatan budaya literasi di Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan...
Mahasiswa Geografi UMS Gagas Program Mengajar Desa di Karanganyar
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Mahasiswa Program Studi Geografi Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggagas program Pengabdian Mengajar Desa di Desa Segorogunung, Kabupaten Karanganyar. Kegiatan yang...
Mahasiswa UMS Bentuk Lembaga Ibu Sigap, Dorong Desa Blimbing Mandiri Cegah Stunting
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Pengembangan Prestasi dan Riset Mahasiswa (PRISMA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membentuk Lembaga Ibu Sigap di...






