Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

Diskusi Santai di Taman Djazman UMS: Mengurai Kekerasan di Dunia Pendidikan

Tammam Sholahudin, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 24 Oktober 2024 10:51 WIB
Diskusi Santai di Taman Djazman UMS: Mengurai Kekerasan di Dunia Pendidikan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Rabu (23/10/2024), kawasan hijau di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang diambil dari nama rektor pertama UMS, Mohamad Djazman, menjadi saksi dialektika kritis. (Humas)

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Rabu (23/10/2024), kawasan hijau di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang diambil dari nama rektor pertama UMS, Mohamad Djazman, menjadi saksi dialektika kritis.

Hari itu mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMS menggelar diskusi santai bertajuk “Kekerasan di Dunia Pendidikan”. Dengan suasana rindang dan sejuk dari pepohonan sekitar, diskusi yang diinisiasi Bidang Pengembangan Intelektual dan Keislaman HMP PAI FAI UMS itu berlangsung interaktif dan mendalam.

Kekerasan di dunia pendidikan dianggap sebagai salah satu tantangan terbesar bagi kualitas pendidikan Indonesia, baik di lingkungan formal seperti sekolah maupun di ruang-ruang pendidikan informal. Diskusi yang berlangsung sore hari itu menghadirkan tiga pemantik yakni M. Fadlan, Hanif Syairafi Wiratama dan Fauzan Addinul Jihad.

Kegiatan ini diikuti antusias oleh mahasiswa PAI dan FAI yang ingin menggali lebih dalam penyebab, dampak, dan solusi konkret untuk mengatasi kekerasan dalam pendidikan. Ketua Umum HMP PAI UMS Salim Ahmad Ghuzie, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah menciptakan ruang dialog kritis dan santai bagi mahasiswa.

Dengan suasana informal namun tetap akademis, diharapkan peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru tetapi juga tergerak untuk berkontribusi aktif dalam mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan. “Diskusi santai ini bukan sekadar ajang bertukar pikiran, tapi juga menjadi wadah untuk menggali solusi dan langkah konkret agar kita, sebagai calon pendidik, bisa menjadi bagian dari perubahan,” ungkapnya.

Pemantik dan Isu Utama Diskusi

Diskusi dibagi menjadi tiga sesi utama, masing-masing dipandu oleh pemantik yang memberikan perspektif berbeda mengenai kekerasan di dunia pendidikan. M. Fadlan, pemantik pertama, memulai dengan display data tentang peningkatan kasus kekerasan di sekolah, baik fisik maupun psikis.

“Kekerasan cenderung naik tinggi, baik secara fisik maupun psikis, dan paling dominan terjadi di tingkat SMP/MTs (SLTP). Anak-anak di usia ini berada dalam fase kritis pencarian jati diri, sehingga rentan menjadi pelaku atau korban kekerasan,” jelas Fadlan.

Pada sesi kedua, Hanif Syairafi Wiratama membahas bagaimana trauma keluarga dan lingkungan bisa memengaruhi perilaku kekerasan. Ia menyampaikan bahwa anak yang menjadi korban kekerasan kerap tumbuh menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari, sehingga kekerasan dalam pendidikan bisa menjadi “mata rantai kemaksiatan.”

“Banyak anak membawa trauma dari keluarga yang tidak harmonis, seperti broken home, dan belum mendapatkan penanganan yang tepat. Ironisnya, pembentukan satgas anti-kekerasan acapkali terlambat, sehingga kasus kekerasan telanjur berulang,” ungkap Hanif.

Fauzan Addinul Jihad, pemantik ketiga, memaparkan analogi peran guru sebagai pemahat karakter siswa. Menurutnya, peran guru tidak hanya sekadar menyampaikan materi tetapi juga membentuk akhlak dan karakter siswa.

“Jika guru diibaratkan sebagai pemahat, mereka memahat karakter siswa setiap hari. Tapi bedanya, patung bisa di-refund jika rusak, sedangkan pengetahuan dan karakter yang buruk sulit diperbaiki setelah tertanam,” tegas Fauzan.

Diskusi Interaktif dan Perspektif Peserta

Diskusi berlanjut dengan sesi interaktif, di mana para peserta aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait isu kekerasan di dunia pendidikan. Salah satu peserta, Tammam Sholahudin, menekankan pentingnya perbaikan diri sebagai langkah awal dalam memutus mata rantai kekerasan.

“Pendidikan harus menjadi jembatan menuju kemajuan umat manusia, bukan justru tempat menyebarnya keburukan. Mari kita mulai perubahan dari hal-hal kecil, seperti menata sandal di rak, shalat tepat waktu, dan mengerjakan tugas dengan tertib. Dengan menata hal kecil, kita bisa mengubah sesuatu yang lebih besar,” ujarnya.

Peserta lain mengingatkan tentang teladan Nabi Muhammad SAW dan para salafus shalih dalam dunia pendidikan. “Kita perlu kembali kepada teladan Nabi dan para salafus shalih, bagaimana mereka ditempa dengan ilmu dan menyikapi ilmu tersebut dengan hikmah. Pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tapi tentang membentuk pribadi yang mulia,” ungkapnya.

Seorang peserta juga menyoroti sistem pendidikan modern yang kerap disamakan dengan pasar, di mana tugas-tugas hanya menjadi formalitas untuk memenuhi tuntutan. “Pendidikan kita jangan seperti market, supply and demand. Guru memenuhi tugas dari sekolah, dan sekolah memenuhi target kementerian. Kita harus menanamkan makna dalam pendidikan agar benar-benar menghasilkan pribadi yang baik dan kompeten,” jelasnya.

Kesimpulan dan Harapan

Diskusi berakhir pada pukul 17.30 WIB dengan beberapa poin kesimpulan. Para pemantik dan peserta sepakat bahwa kekerasan dalam pendidikan bukan hanya masalah struktural tetapi juga masalah kultural yang membutuhkan perbaikan menyeluruh, mulai dari internalisasi nilai baik dalam diri, lingkungan keluarga, sekolah, hingga sistem pendidikan nasional.

Kegiatan ini juga menekankan pentingnya peran guru dalam menciptakan ruang pendidikan yang aman dan bermakna bagi siswa. Selain itu, dibutuhkan langkah proaktif, seperti pembentukan satgas anti-kekerasan yang efektif dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran anti-kekerasan sejak dini.

Panitia berharap diskusi santai ini bisa terus berlanjut sebagai forum terbuka bagi mahasiswa untuk berdialog tentang isu-isu aktual dengan pendekatan akademis dan solutif. “Kita berharap tidak hanya mendapatkan ilmu dari diskusi ini, tetapi juga muncul semangat untuk melakukan perubahan di lingkungan kita masing-masing,” ujar moderator mengakhiri kegiatan.

Berita Terbaru

Olah Jelantah Jadi Bernilai, Program UMS Bantu UMKM Rumah Tangga di Wonogiri

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar sosialisasi program pemberdayaan masyarakat bertajuk Model Integratif Pemberdayaan Ekonomi Sirkular dan Ketahanan...

Bahas Isu Lingkungan dan SDGs, UMS Libatkan IMM dan Ormawa Kampus

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – SDGs Center Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar rapat koordinasi bersama Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-UMS dan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) lainnya untuk...

Lolos Pendanaan Nasional, Tim PPK Ormawa UMS Dapat Pembekalan Khusus

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Pembekalan Internal Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) bagi tim...

Kaji Tren AI dalam Perawatan Ibu Hamil, Dosen UMS Sabet Penghargaan Nasional

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Adam Fauzi Akbar meraih penghargaan Best E-Poster kategori Systematic Review/Original Article dalam ajang The...

Bangun PAUD Ramah Anak, UMS Perkuat Pendidikan Anti-Perundungan Sejak Dini

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar program penguatan karakter anti-perundungan berbasis digital storybook bagi guru Pendidikan Anak Usia...

Mahasiswa UMS Belajar Filsafat Matematika dari Dosen Cavite State University

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan akademisi dari Filipina dalam program Visiting Lecturer...

LEPRIMA 2026, FK UMS Dorong Peningkatan Kualitas Hidup Penyandang Kusta

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Flora Ramona Sigit Prakoeswa menjadi narasumber dalam kegiatan Leprosy Prevention and Integrated Management Approach...

Enam Tim P2MW Didanai, UMS Catat Prestasi Nasional di Belmawa 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mencatat capaian membanggakan pada program pendanaan Belmawa 2026. UMS menempati peringkat pertama nasional Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW)...

FK UMS dan Wamenkes RI Bahas Percepatan Eliminasi Kusta

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Flora Ramona Sigit Prakoeswa menghadiri diskusi bersama Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia II Benjamin...

UMS Prioritaskan Distribusi Daging Kurban untuk Pegawai Outsourcing

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar penyembelihan hewan kurban di Lapangan Timur Masjid Hj. Sudalmiyah Rais Kampus 2 UMS, Kamis (28/5/2026). Kegiatan tersebut...

FEB UMS Jajaki Kolaborasi Akademik dengan Nagoya University Jepang

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS) menjajaki kerja sama internasional dengan Nagoya University, Jepang, melalui kunjungan akademik sebagai upaya...

Rakernas IV IKA UMS Perkuat Jejaring Alumni di Seluruh Indonesia

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Ikatan Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (IKA UMS) bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) UMS menggelar rangkaian agenda tahunan...