
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Masih dalam momentum Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober, selama ini lekat dengan narasi tentang Pancasila, peristiwa 1965, serta upaya mempertahankan ideologi negara. Namun, di balik ritual peringatan tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana sebuah bangsa membangun ingatan sejarahnya, dan bagaimana Pancasila kemudian ditempatkan sebagai bagian dari identitas kebangsaan Indonesia?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena sejarah nasional tidak hanya berbicara mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga mengenai bagaimana suatu peristiwa dipilih atau diabaikan, diberi makna pentingnya atau dilupakan, dan kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dipa Nugraha, melihat Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum untuk berkaca pada proses terbentuknya nasionalisme Indonesia. Menurutnya, konsep mengenai Pancasila sebagai sesuatu yang “sakti” tidak dapat dilepaskan dari konteks politik dan historiografi yang berkembang, terutama pada masa Orde Baru.
“Kalau kesaktian Pancasila, sebenarnya esensi dari kesaktian Pancasila itu apa sih? Karena sebetulnya konstruksi dari konsep kesaktian yang melekat pada Pancasila itu merupakan konstruk sejarah yang terkait dengan Orde Baru,” jelasnya, Jumat (2/10/2026).
Dipa menjelaskan narasi yang berkembang dalam konstruk historiografi Orde Baru mengenai peristiwa 30 September 1965 selanjutnya menempatkan Pancasila sebagai bagian penting eksistensi negara Indonesia yang dinarasikan hendak diruntuhkan oleh mereka yang berada di balik G30S. Nah karena di balik G30S adalah tindak makar PKI (Partai Komunis Indonesia), maka kegagalan PKI dalam G30S menjustifikasi dari status saktinya Pancasila.
Dalam konstruksi tersebut, Pancasila kemudian diposisikan berhadapan dengan ideologi milik PKI, yaitu komunisme. Ini juga merupakan sesuatu yang selaras dengan suasana waktu itu yang memang diwarnai oleh Perang Dingin dan kampanye Barat akan bahaya merah.
Narasi itu, menurut Dipa, turut membentuk semacam satu kesadaran kolektif masyarakat mengenai siapa yang dianggap menjadi bagian dari kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dan siapa atau pihak mana yang ditempatkan sebagai ancaman terhadapnya. Ia menilai bahwa perayaan Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya dapat dibaca sebagai peringatan terhadap sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembentukan ingatan kolektif masyarakat sekaligus menjadi ritual nasionalisme yang mendapatkan definisi baru pada masa Orde Baru sebagai satu bentuk nasionalisme yang berseberangan dengan komunisme.
“Kalau kita bicara esensinya, itu kan butuh diciptakan,” ujarnya. Menurut Dipa, hal serupa dapat dilihat dalam cara masyarakat memahami sejumlah peristiwa sejarah lainnya. Ia mencontohkan peringatan Sumpah Pemuda yang menurutnya juga mengalami proses konstruksi dalam historiografi dan politik kebangsaan pada masa Orde Lama di bawah kekuasaan Soekarno yang saat itu kepayahan menghadapi gerakan separatisme. Yang terjadi kemudian adalah pendefinisian ulang peristiwa Kerapatan Besar Pemuda 1928 yang sebelumnya diperingati terkait dengan main pertama publik lagu Indonesia Raya, Hari Indonesia Raya, menjadi hari yang penting sebab ada peristiwa ‘sumpah’ oleh para pemuda Nusantara meskipun sebetulnya yang terjadi dahulu itu lebih merupakan tiga poin dalam satu kesepakatan arah gerakan.
Baginya, persoalan konstruk kesejarahan tersebut tidak berarti peristiwa sejarahnya tidak penting. Justru, masyarakat perlu memahami bahwa sebuah peristiwa sejarah dapat memiliki makna yang berkembang dan berubah ketika ditempatkan dalam konteks politik serta kebutuhan masyarakat pada periode tertentu; satu proses perekayasaan sosial oleh rezim yang berkuasa dalam tindak mengenang dan melupakan.
Pembahasan mengenai Hari Kesaktian Pancasila kemudian membawa Dipa pada persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana bangsa Indonesia terbentuk. Menurutnya, nasionalisme bukan sesuatu yang secara otomatis melekat pada seseorang sejak lahir. Identitas sebagai bangsa Indonesia sesungguhnya terbentuk melalui proses sejarah yang panjang.
“Nasionalisme itu sesuatu yang konstruktif. Bukan by nature. Apakah iya Anda lahir tiba-tiba jadi orang Indonesia? Tidak, kan?” katanya. Ia menjelaskan, pada awal abad ke-20, identitas masyarakat di Nusantara masih sangat dipengaruhi oleh identitas lokal dan kelompok etnis. Gagasan mengenai Indonesia sebagai sebuah bangsa kemudian berkembang melalui berbagai proses intelektual, politik, dan organisasi.
Karena itu, Dipa membedakan antara kebangkitan nasional secara umum dengan kebangkitan nasional Indonesia secara lebih spesifik sebagaimana ia paparkan di dalam bukunya yang baru saja terbit, Lahirnya Bangsa, Bahasa, dan Sastra Indonesia. Menurutnya, kebangkitan nasional dalam pengertian luas dapat ditarik jauh ke belakang, termasuk pada tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, dan Abdul Rivai. Sementara itu, kebangkitan nasional Indonesia secara spesifik berkaitan dengan munculnya gagasan tentang Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki cita-cita hidup bersama melalui politisasi kata Indonesia oleh Suwardi Suryaningrat, Baginda Abdullah, Moh. Hatta, Achmad Soebardjo, dkk.
Tidak Tiba-Tiba Terjadi
Ia menyebut perkembangan gagasan tersebut dapat ditelusuri sejak awal abad ke-20, termasuk melalui kemunculan organisasi dan media yang membawa gagasan mengenai Indonesia. “Banyak rentetan yang sebetulnya tidak tiba-tiba terjadi. Begitu pula dengan Pancasila. Itu semua bukan sesuatu yang tiba-tiba,” ujarnya. Dalam pandangan Dipa, salah satu hal penting dari Pancasila justru terletak pada proses perumusannya yang melibatkan perbedaan pandangan di antara para tokoh bangsa. Ini melahirkan satu bentuk Gentlemen’s Agreement.
Ringkasnya, ia menyebut Pancasila sebagai hasil dari proses kompromi di tengah keragaman gagasan mengenai dasar negara. Masih menurutnya, Pancasila dapat dipahami sebagai salah satu titik temu dari perbedaan yang ada di antara kelompok-kelompok yang terlibat dalam pembentukan negara Indonesia.
“Pancasila itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Itu sesuatu, kalau boleh mengutipkan itu satu tesis dari McGill Unuversity, yaitu gentleman agreement dari perbedaan yang ada,” tuturnya. Bagi Dipa, proses tersebut penting untuk dipahami karena Indonesia dibangun di atas realitas masyarakat yang sangat beragam. Perbedaan suku, budaya, wilayah, dan latar belakang sosial membutuhkan sebuah gagasan bersama yang memungkinkan masyarakat melihat dirinya sebagai bagian dari satu bangsa.
Dengan cara itu, memperingati Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang mengingat masa lalu, tetapi juga tentang memahami bagaimana sebuah bangsa membangun identitas bersama dan terus merawat kesepakatan yang memungkinkan keberagaman Indonesia terus hidup dan lestari dalam satu negara.
BEM FKIP UMS Gelar Aksi September Hitam, Soroti HAM dan Kesejahteraan Guru
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar aksi simbolik bertajuk “September Hitam: Merawat Ingatan, Menumbuhkan Kesadaran”...
FeBites, Cookies Hati Ayam Karya Mahasiswa UMS untuk Cegah Anemia
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih medali perak dalam ajang 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia melalui inovasi pangan...
Prodi Pendidikan Biologi UMS Ajak Siswa Madrasah Belajar di Laboratorium
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Sebanyak delapan siswa Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah Limpung, Kabupaten Batang, mengikuti praktikum di Laboratorium Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (23/9/2026). Kegiatan...
Miranda Aisyah, Lulusan FKG UMS yang Aktif di Kancah Internasional
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Miranda Aisyah Putri, menutup masa studinya dengan beragam pengalaman di bidang akademik, kompetisi internasional,...
Perkuat Tata Kelola, UMS Rotasi 32 Pejabat dan Tendik
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melakukan penataan kepegawaian yang melibatkan 32 pejabat struktural dan tenaga kependidikan di lingkungan kampus. Penataan tersebut mencakup rotasi, mutasi,...
KINDO.fun, Inovasi Digital Mahasiswa UMS untuk Deteksi Dini Perkembangan Anak
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan KINDO.fun, platform digital interaktif untuk melakukan skrining risiko keterlambatan perkembangan anak. Inovasi bertajuk “Kindo: An Interactive Digital...
Hari Jadi ke-68 UMS, Turnamen Sepak Bola Perkuat Sinergi Antarunit
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Semangat kebersamaan dan sportivitas mewarnai rangkaian Hari Jadi ke-68 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui turnamen sepak bola antarunit di lingkungan UMS. Kegiatan tersebut...
Dari Yaman ke UMS, Asem Lanjutkan S2 Fisioterapi untuk Mengabdi di Negaranya
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Perjalanan pendidikan Asem Abdullah Ahmad Abdo dari Yaman ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tidak berhenti setelah dirinya menyelesaikan studi S1 Program Studi Fisioterapi. Mahasiswa...
UMS Lepas 2.259 Wisudawan, Rektor Tekankan Integritas dan Kemanfaatan
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mewisuda 2.259 lulusan Program Sarjana, Magister, dan Doktor dalam Sidang Terbuka Senat Upacara Wisuda Periode I Tahun Akademik 2026/2027...
Mahasiswa PGSD UMS Diajak Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMP PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengajak mahasiswa memperkuat...
Mahasiswa Tanzania Pilih UMS untuk Dalami Administrasi Rumah Sakit
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyambut 30 mahasiswa internasional baru melalui Program Penyambutan dan Orientasi Mahasiswa Internasional 2026. Para mahasiswa dari berbagai negara tersebut...
Workshop Hibah Nasional UMS-BIM University Dorong Dosen Muda Aktif Meneliti
DENPASAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat sinergi riset bersama BIM University melalui Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional untuk Dosen Muda dan Vokasi 2026 di...






