
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Bentang alam Indonesia secara kasatmata masih tampak hijau. Namun, di balik kehijauan tersebut, terjadi perubahan mendasar pada struktur dan fungsi ekosistem hutan, dari hutan hujan tropis alami menuju hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit. Pergeseran ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah kehijauan yang terlihat itu benar-benar mencerminkan keberlanjutan lingkungan?
Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Aziz Akbar Mukasyaf, akademisi dan peneliti di bidang geografi lingkungan, kehutanan, dan ekologi spasial menyebut secara ekologi Indonesia seharusnya didominasi hutan hujan tropis. Namun, realitas di lapangan memperlihatkan perubahan besar pada struktur vegetasi dan fungsi ekosistemnya.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia berada di wilayah khatulistiwa sehingga secara alami memiliki ekosistem hutan hujan tropis dari Sumatra hingga Papua. Namun, di Pulau Jawa, hutan tropis alami telah lama berkurang sejak masa kolonial dan digantikan hutan tanaman seperti jati. Saat ini hutan alami lebih banyak tersisa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, meskipun tekanan alih fungsi lahan terus berlangsung.
Aziz memperkirakan hutan alam Indonesia telah menyusut lebih dari 50 persen. Ia menilai penurunan deforestasi yang sering disampaikan tidak selalu berarti hutan kembali ke fungsi ekologisnya. Dalam banyak kasus, kawasan bekas hutan alam berubah menjadi hutan komersial, hutan tanaman industri, atau kebun sawit.
Penurunan Fungsi Hutan
“Secara administratif tutupan lahannya tetap tercatat sebagai ‘bervegetasi’, tetapi secara ekologis terjadi penurunan fungsi yang signifikan,” ujarnya saat diwawancarai kontributor Muhammadiyahsolo.com, Ahad (8/2/2026). Salah satu persoalan utama terletak pada perbedaan definisi reforestasi. Dalam konteks global dan ekologi, reforestasi dimaknai sebagai upaya pemulihan hutan menuju kondisi yang mendekati hutan alam, baik dari sisi struktur vegetasi, komposisi spesies, maupun fungsi ekosistem. Reforestasi semacam ini menekankan penggunaan spesies asli dan mendorong proses suksesi alami agar hutan kembali berfungsi sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, serta habitat keanekaragaman hayati.
Sebaliknya, di Indonesia, istilah reforestasi sering dimaknai sebagai ‘menanam kembali’ lahan gundul tanpa mempertimbangkan kesesuaian jenis tanaman dengan ekosistem setempat. Dalam praktiknya, penanaman tersebut kerap menggunakan tanaman komersial bernilai ekonomi tinggi, seperti kelapa sawit atau tanaman industri lainnya, yang bukan merupakan spesies khas daerah tersebut. “Dalam perspektif ilmu ekologi, menanam tanaman komersial di bekas hutan alam tidak bisa disebut sebagai reforestasi. Itu adalah perubahan fungsi lahan dari ekosistem alami menjadi sistem produksi,” jelas Aziz.
Menurutnya, perubahan hutan menjadi sawit sering dipersepsikan sebagai penghijauan. Ia menegaskan bahwa secara biologis sawit berbeda dengan pohon. “Sawit bukan pohon secara anatomi. Sawit itu monokotil, tidak berkambium, akarnya serabut di permukaan, sedangkan pohon memiliki akar tunjang dan mampu menyimpan air,” jelasnya.
Ia menilai penyamaan definisi sawit sebagai pohon berpotensi berdampak pada kebijakan. Jika kebun sawit disamakan dengan hutan, maka konversi hutan alam dapat dianggap sebagai kawasan hutan, padahal secara ekologi berbeda dan merupakan perubahan fungsi lahan dari ekosistem alami menjadi sistem produksi.
Hutan alami bersifat heterogen dengan banyak spesies, sementara kebun sawit homogen. Aziz menjelaskan hutan heterogen lebih tangguh terhadap hama, penyakit, dan perubahan iklim, sedangkan ekosistem homogen lebih rentan. Hilangnya satu spesies dalam rantai makanan dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. “Dalam sistem homogen, ketika satu komponen terganggu, dampaknya bisa meluas dengan cepat. Ini berbeda dengan hutan alam yang memiliki mekanisme penyangga alami,” ujarnya.
Aziz menegaskan bahwa pengelolaan hutan Indonesia perlu memandang hutan tidak semata sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai sistem penopang kehidupan. Hutan berfungsi sebagai penyedia oksigen, penyimpan karbon, pengatur tata air, pelindung tanah, serta ruang hidup bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat lokal. Ia mendorong agar evaluasi kebijakan kehutanan tidak hanya berfokus pada angka tutupan lahan, tetapi juga pada kualitas ekosistem dan keberlanjutan fungsi ekologisnya. Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan menuntut kejujuran dalam mendefinisikan hutan dan keberanian untuk menempatkan kepentingan ekologi sejajar dengan kepentingan ekonomi.
“Yang perlu ditanyakan bukan hanya seberapa luas lahan yang hijau, tetapi hijau dalam bentuk apa dan untuk fungsi apa. Jika yang bertambah adalah sawit sementara hutan alam terus menyusut, maka keberlanjutan lingkungan Indonesia patut dipertanyakan,” pungkasnya
UMS Hidupkan Business Center Mendungan Lewat 58 Mart
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meresmikan Shelter Kuliner Sehat 58 Mart di kawasan Business Center UMS Mendungan, Jumat (30/10/2026). Fasilitas ini menghadirkan 10 tenant...
SoulMed Diluncurkan, RS UMS Dukung Medical Wellness Tourism Solo
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surakarta (RS UMS) A.R. Fachrudin mendukung pengembangan ekosistem kesehatan digital melalui partisipasi dalam peluncuran awal aplikasi SoulMed. Kegiatan yang...
Panahan Solo Raih Dua Emas Pertama di Porprov Jateng 2026
KENDAL, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tim panahan Kota Solo meraih dua medali emas pada hari pertama pertandingan cabang olahraga panahan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII/2026 Semarang...
Dosen UMS Dampingi Atlet Indonesia Raih Emas Asian Para Games
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Dosen Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Azlan Khoirur Rozikin, turut berkontribusi dalam keberhasilan atlet Indonesia meraih...
Sambut Milad ke-61 Kokam, Pemuda Muhammadiyah Solo Putar Film Kedung Kopi
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Surakarta bersama Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) menggelar refleksi Milad ke-61 Kokam bertajuk “Jejak Darah di Kedung...
Tiga AUM Muhammadiyah di Bolon Ajak Warga Berdoa Memohon Hujan
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tiga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yakni MIM Digdaya Bolon, SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan, dan TK Aisyiyah Bolon, bersama warga menggelar Salat Istiska...
Sekolah Muhammadiyah Karanggede Dukung Silaturahmi Akbar FGM
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Jajaran kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kecamatan Karanggede menyatakan dukungan terhadap Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) yang dijadwalkan berlangsung pada 7 November...
UMS Beri Penghargaan bagi Penggerak Muhammadiyah se-Solo Raya
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan penghargaan kepada pimpinan daerah, cabang, ranting, serta dosen dan tenaga kependidikan yang berkontribusi dalam pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah. Apresiasi...
Ribuan Anggota Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Hari Jadi ke-68 UMS
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat komitmen dalam membangun generasi berlandaskan nilai-nilai Islam melalui Tablig Akbar dalam rangka Hari Jadi ke-68 UMS. Kegiatan yang menghadirkan...
Wali Kota Solo Siapkan Program Air Bersih Gratis PDAM untuk Rumah Ibadah
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Wali Kota Solo, Respati Ardi menyiapkan program air bersih gratis dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Toya Wening atau PDAM bagi seluruh rumah...
Tiba-tiba Ingat Seseorang, Benarkah Dia Juga Memikirkan Kita?
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pernah tiba-tiba teringat seseorang, lalu tidak lama kemudian orang tersebut menghubungi atau muncul di hadapan kita? Sebagian orang menganggap pengalaman itu sebagai tanda...
Grup Band Mess in Balance Tuntaskan “Sacred of Ignin Tour” di Lima Kota
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Band rock asal Kota Solo, Mess in Balance (MIB), telah menuntaskan rangkaian tur bertajuk “Sacred of Ignis Tour” di lima kota, yakni Jakarta, Depok,...






