Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Umum

Ketidakstabilan Harga Sayur Mayur: Ironi di Pasar Pahing

Khayya Meilina Eka Hastuti, Editor: Sholahuddin
Kamis, 20 November 2025 09:37 WIB
Ketidakstabilan Harga Sayur Mayur: Ironi di Pasar Pahing
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sri Wahyuni (kiri), bersama suaminya (kanan) menunggu pembeli di lapak (los) menjual sayur-mayur di Pasar Pahing, Gondangrejo, Karanganyar, Senin (10/11/2025). [Khayya].

KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Di antara los-losan kayu dan ruko yang berlokasi di timur perempatan Jalan Kalioso, Tuban, Gondangrejo, Karanganyar, dinamika harga sayuran menjadi arena pertaruhan harian. Senin (10/11/2025) pukul 10.00 WIB, suasana Pasar Pahing masih dipenuhi kesibukan: pedagang sayur-mayur yang masih menawarkan dagangannya.

Ada pedagang daging ayam dan sapi yang masih mengipasi lalat, pedagang camilan yang mengawasi pembeli yang sedang memilih makanan ringan yang dijajar di langit-langit ruko, dan juru parkir yang bercengkrama dengan penjual kelapa sambil memundurkan motor Vario yang di atas jok belakang ada bronjong berisi batok kelapa. Berbagai aroma bercampur karena pasar ini ada bermacam-macam pedagang, tetapi yang paling terasa adalah aroma ikan asin yang bersebelahan dengan los-losan sayur-mayur.

Di lapak sederhana berjajar keranjang sayur-mayur, Sri Wahyuni, mengenakan kemeja hitam, jilbab bermotif, dan celana biru muda, telah berjualan selama 23 tahun. Pagi itu, seorang ibu menghampirinya, membutuhkan kecambah dalam jumlah besar untuk 175 porsi soto. “Setengah kilo ini, Rp8.500,” kata Sri Wahyuni, menunjuk satu kantong plastik. “Aku mau buat soto. Rp8.000 saja ya, Bu. Aku belinya dua plastik,” tawar si pembeli. Sri—panggilan akrab Sri Wahyuni—menggeleng pelan. “Satu kilonya Rp17 ribu, Bu. Saestu,” jawabnya, bertahan di harga. Si pembeli lantas meminta semua kecambah yang tersisa di penampi. Tawar-menawar berlanjut, dari hitungan kiloan beralih ke borongan. Tangan si pembeli sempat menyodorkan uang Rp25.000. “Ngapunten, Bu, Rp27.000 harganya,” kata Sri, masih bertahan. Akhirnya, setelah tambahan uang Rp2.000, tiga bungkus kecambah itu berpindah tangan seharga total Rp26.000. Momen singkat ini menunjukkan bahwa di pasar, setiap potongan harga diperjuangkan, menegaskan betapa fluktuatifnya harga sayur-mayur adalah medan pertempuran harian.

Dampak naik turunnya harga sayuran ternyata menciptakan sebuah ironi di tingkat pedagang.  Sri Wahyuni menyampaikan bahwa ketika harga sayuran seperti bayam dan kangkung murah, kondisi yang sering diakibatkan oleh oversupply akibat panen raya, stok barang memang banyak. Namun, pembeli yang mengambil dalam jumlah besar justru sedikit. Sebaliknya, ketika harga mahal, yang menandakan barang langka atau sedikit, penjualan justru lebih laris dan menguntungkan. Ia mengungkapkan sebuah ironi bahwa saat barang mahal, persaingan lebih kecil sehingga perputaran barang lebih cepat dan keuntungan yang didapat cenderung banyak.

Meskipun merasakan potensi keuntungan saat harga melonjak, Sri menyatakan rasa sedih yang mendalam atas nasib petani. Ia memahami bahwa harga pupuk dan biaya tenaga kerja yang mahal membuat petani merugi saat hasil panen harus dijual dengan harga rendah akibat oversupply. Ia menambahkan, perubahan harga paling cepat terasa dampaknya adalah pada petani, karena bakul bahkan sudah mendatangi sawah saat harga sedang tinggi. Risiko juga datang dari cuaca.

Ia lantas menceritakan suka dukanya sebagai bakul yang sepenuhnya bergantung pada alam, yang mendapatkan pasokan sayurannya dari wilayah Tawangmangu, Karanganyar dan Boyolali. Bagi Sri Wahyuni, kesenangan menjual adalah saat harga murah saat kulakan dan bisa menjual dengan harga mahal. Namun, tantangan terbesarnya adalah saat harga mahal semua dan barang tidak laku. Tak jauh dari Sri Wahyuni, suaminya yang sedari tadi menemani sambil mendengarkan lagu dari gawainya, menggeser piring sarapannya. “Sudah sarapan belum, Mbak,” tawarnya. Sebuah momen hangat yang kontras dengan “pertempuran” harga yang baru saja terjadi.

Pandangan serupa datang dari Ibu Awi, yang berjualan di kios permanen berukuran 2,5 x 2,5 meter. Saat ditemui, wanita berkacamata yang mengenakan kaos kuning dan celana hitam itu mengamini ironi tersebut. “Barang mahal malah cepat habis, karena pesaing tidak punya stok,” katanya. Menurutnya, dampak fluktuasi harga paling berat dirasakan oleh penjual, bukan konsumen. Penjual harus menanggung risiko modal jika harga tiba-tiba anjlok.

Risiko Cuaca

Ia lantas mencontohkan risiko akibat cuaca. Saat musim hujan, pasokan sayur yang ia ambil dari Kopeng dan Cepogo menjadi cepat busuk. Kualitas barang sangat terpengaruh dan tidak bisa bertahan lebih dari satu hari, sehingga kerugian pun tak terhindarkan. Karena risiko itulah, ia juga menjual sembako, bumbu, dan rempah sebagai penyangga bisnis di kiosnya. Apalagi ia harus membayar sewa kiosnya yang tidak sedikit.

Sayuran yang dijual di Pasar Pahing. [Khayya].

Di tengah fluktuasi harga yang dipicu oleh cuaca, muncul pula faktor ekonomi politik. Ibu Awi menyinggung isu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ibu Awi berpendapat bahwa program ini telah memicu kenaikan harga di pasar karena permintaan sayur-mayur meningkat tajam sehingga barang menjadi mahal. Meskipun secara pribadi ia bersyukur ada program MBG karena menjadi salah satu yang terdampak positif dari fenomena harga tinggi, Ibu Awi menyayangkan tidak semua pedagang merasakan dampak yang sama, memotret dilema antara keuntungan pribadi dan kondisi pasar yang tidak merata.

Matahari semakin meninggi di atas Pasar Pahing. Bagi para pedagang di Pasar Pahing, stabilitas harga adalah harapan yang sulit dicapai karena sepenuhnya bergantung pada alam dan sistem pasokan. Baik Ibu Sri Wahyuni di lapak sederhananya maupun Ibu Awi di kios permanennya, keduanya adalah pejuang harian yang berharap pada kestabilan. Di akhir wawancara, Ibu Awi pun menyampaikan harapannya, “Ini komoditas utama, harapan saya cuaca bisa bersahabat, harga stabil, dan rezeki bisa memberi senyum bagi semua pihak, dari petani hingga pembeli,” tutup Ibu Awi.

Share:

Berita Terbaru

PDM Boyolali Lantik Pengurus BikersMu, Perkuat Dakwah lewat Komunitas Otomotif

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali resmi melantik Pengurus BikersMu Chapter Boyolali periode 2026–2028 pada Selasa (16/6/2026). Pelantikan yang digelar di Dukuh Kemel,...

Muhammadiyah Pandang Malam Satu Suro sebagai Budaya, Tauhid Tetap Utama

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Muhammadiyah memandang tradisi Malam Satu Suro sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa yang lahir dari proses sosial dan sejarah. Namun, tradisi tersebut...

Pertamax Naik ke Rp16.250, Pengamat UMS Soroti Beban Kelas Menengah

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Isu yang ramai dibicarakan mulai dari ancaman inflasi...

Muhammadiyah Investasikan Rp800 Miliar untuk Bangun Pabrik Infus

MALANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, melakukan groundbreaking (peletakan batu pertama) pabrik infus milik Persyarikatan, PT Suryavena Farma Indonesia, Kamis (11/6/2026), di...

Akademisi UMS Ingatkan Pentingnya Kepastian Teknis dalam Ekspor Satu Pintu

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Akbar Pratama Kartika menilai kebijakan ekspor satu pintu yang melibatkan Badan Usaha...

Indonesia Open 2026 Banyak Beri Pelajaran soal Teknologi dan Analisis Olahraga

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Perhelatan Indonesia Open 2026 yang menghadirkan atlet-atlet bulu tangkis terbaik dunia dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempelajari perkembangan pembinaan olahraga...

Jurus Mahasiswa UMS Tenangkan Sapi Sebelum Penyembelihan Kurban

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Penyembelihan hewan kurban di Lapangan Timur Masjid Hj. Sudalmiyah Rais Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (28/5/2026), menjadi pengalaman berharga bagi...

UMS Dampingi Anak Migran Indonesia di Sabah, Ajarkan Kelola Uang Saku dan Dasar Komputer

SABAH, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM KI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan penguatan literasi keuangan dan pelatihan dasar komputer bagi siswa...

PCA Gatak Gelar Pengajian Safari Dakwah dan Pelepasan Calon Jemaah Haji

GATAK, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Siang yang cerah, usai Salat Jumat, Jumat (08/05/2026), gedung Tirta Wirejo, Wironanggan dipadati  jemaah pengajian Safari Dakwah dan jemaah calon haji Kecamatan Gatak, Sukoharjo tahun...

Padukan Syiar dan Tadabur Alam, Santri Pondok KHAD MTs Muhammadiyah Surakarta Rihlah ke Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pondok Putra KH Ahmad Dahlan (KHAD) MTs Muhammadiyah Surakarta melaksanakan kegiatan Rihlah dan Tadabur Alam di Kabupaten Gunungkidul, Sabtu–Minggu (9–10/5/2026). Kegiatan ini...

Melaju Bersama Dakwah, BikersMu Surakarta Gelar Touring ke Pacitan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Lebih dari 50 warga Muhammadiyah dan simpatisan yang tergabung dalam komunitas BikersMu Surakarta menggelar touring ke Pantai Buyutan dan Pantai Kasap, Pacitan,...

Atlet Panahan Kota Solo Ikuti Lomba Degradasi untuk Porprov Jateng

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Para atlet panahan Kota Solo, Minggu (3/5/2026) melaksanakan kegiatan lomba degradasi. Degradasi akan dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama bulan Mei dan tahap kedua bulan...