
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM. Di antara los-losan kayu dan ruko yang berlokasi di timur perempatan Jalan Kalioso, Tuban, Gondangrejo, Karanganyar, dinamika harga sayuran menjadi arena pertaruhan harian. Senin (10/11/2025) pukul 10.00 WIB, suasana Pasar Pahing masih dipenuhi kesibukan: pedagang sayur-mayur yang masih menawarkan dagangannya.
Ada pedagang daging ayam dan sapi yang masih mengipasi lalat, pedagang camilan yang mengawasi pembeli yang sedang memilih makanan ringan yang dijajar di langit-langit ruko, dan juru parkir yang bercengkrama dengan penjual kelapa sambil memundurkan motor Vario yang di atas jok belakang ada bronjong berisi batok kelapa. Berbagai aroma bercampur karena pasar ini ada bermacam-macam pedagang, tetapi yang paling terasa adalah aroma ikan asin yang bersebelahan dengan los-losan sayur-mayur.
Di lapak sederhana berjajar keranjang sayur-mayur, Sri Wahyuni, mengenakan kemeja hitam, jilbab bermotif, dan celana biru muda, telah berjualan selama 23 tahun. Pagi itu, seorang ibu menghampirinya, membutuhkan kecambah dalam jumlah besar untuk 175 porsi soto. “Setengah kilo ini, Rp8.500,” kata Sri Wahyuni, menunjuk satu kantong plastik. “Aku mau buat soto. Rp8.000 saja ya, Bu. Aku belinya dua plastik,” tawar si pembeli. Sri—panggilan akrab Sri Wahyuni—menggeleng pelan. “Satu kilonya Rp17 ribu, Bu. Saestu,” jawabnya, bertahan di harga. Si pembeli lantas meminta semua kecambah yang tersisa di penampi. Tawar-menawar berlanjut, dari hitungan kiloan beralih ke borongan. Tangan si pembeli sempat menyodorkan uang Rp25.000. “Ngapunten, Bu, Rp27.000 harganya,” kata Sri, masih bertahan. Akhirnya, setelah tambahan uang Rp2.000, tiga bungkus kecambah itu berpindah tangan seharga total Rp26.000. Momen singkat ini menunjukkan bahwa di pasar, setiap potongan harga diperjuangkan, menegaskan betapa fluktuatifnya harga sayur-mayur adalah medan pertempuran harian.
Dampak naik turunnya harga sayuran ternyata menciptakan sebuah ironi di tingkat pedagang. Sri Wahyuni menyampaikan bahwa ketika harga sayuran seperti bayam dan kangkung murah, kondisi yang sering diakibatkan oleh oversupply akibat panen raya, stok barang memang banyak. Namun, pembeli yang mengambil dalam jumlah besar justru sedikit. Sebaliknya, ketika harga mahal, yang menandakan barang langka atau sedikit, penjualan justru lebih laris dan menguntungkan. Ia mengungkapkan sebuah ironi bahwa saat barang mahal, persaingan lebih kecil sehingga perputaran barang lebih cepat dan keuntungan yang didapat cenderung banyak.
Meskipun merasakan potensi keuntungan saat harga melonjak, Sri menyatakan rasa sedih yang mendalam atas nasib petani. Ia memahami bahwa harga pupuk dan biaya tenaga kerja yang mahal membuat petani merugi saat hasil panen harus dijual dengan harga rendah akibat oversupply. Ia menambahkan, perubahan harga paling cepat terasa dampaknya adalah pada petani, karena bakul bahkan sudah mendatangi sawah saat harga sedang tinggi. Risiko juga datang dari cuaca.
Ia lantas menceritakan suka dukanya sebagai bakul yang sepenuhnya bergantung pada alam, yang mendapatkan pasokan sayurannya dari wilayah Tawangmangu, Karanganyar dan Boyolali. Bagi Sri Wahyuni, kesenangan menjual adalah saat harga murah saat kulakan dan bisa menjual dengan harga mahal. Namun, tantangan terbesarnya adalah saat harga mahal semua dan barang tidak laku. Tak jauh dari Sri Wahyuni, suaminya yang sedari tadi menemani sambil mendengarkan lagu dari gawainya, menggeser piring sarapannya. “Sudah sarapan belum, Mbak,” tawarnya. Sebuah momen hangat yang kontras dengan “pertempuran” harga yang baru saja terjadi.
Pandangan serupa datang dari Ibu Awi, yang berjualan di kios permanen berukuran 2,5 x 2,5 meter. Saat ditemui, wanita berkacamata yang mengenakan kaos kuning dan celana hitam itu mengamini ironi tersebut. “Barang mahal malah cepat habis, karena pesaing tidak punya stok,” katanya. Menurutnya, dampak fluktuasi harga paling berat dirasakan oleh penjual, bukan konsumen. Penjual harus menanggung risiko modal jika harga tiba-tiba anjlok.
Risiko Cuaca
Ia lantas mencontohkan risiko akibat cuaca. Saat musim hujan, pasokan sayur yang ia ambil dari Kopeng dan Cepogo menjadi cepat busuk. Kualitas barang sangat terpengaruh dan tidak bisa bertahan lebih dari satu hari, sehingga kerugian pun tak terhindarkan. Karena risiko itulah, ia juga menjual sembako, bumbu, dan rempah sebagai penyangga bisnis di kiosnya. Apalagi ia harus membayar sewa kiosnya yang tidak sedikit.

Sayuran yang dijual di Pasar Pahing. [Khayya].
Matahari semakin meninggi di atas Pasar Pahing. Bagi para pedagang di Pasar Pahing, stabilitas harga adalah harapan yang sulit dicapai karena sepenuhnya bergantung pada alam dan sistem pasokan. Baik Ibu Sri Wahyuni di lapak sederhananya maupun Ibu Awi di kios permanennya, keduanya adalah pejuang harian yang berharap pada kestabilan. Di akhir wawancara, Ibu Awi pun menyampaikan harapannya, “Ini komoditas utama, harapan saya cuaca bisa bersahabat, harga stabil, dan rezeki bisa memberi senyum bagi semua pihak, dari petani hingga pembeli,” tutup Ibu Awi.
Pemkot Solo-Transid Kolaborasi Aktifkan Perpustakaan Kampung dan Taman Cerdas
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pemerintah Kota Solo menjalin kerja sama dengan komunitas Transid untuk mengoptimalkan perpustakaan kampung dan taman cerdas sebagai ruang literasi warga. Kolaborasi tersebut ditandai...
Loyalitas Jadi Kunci Memajukan Pendidikan Muhammadiyah
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Loyalitas dan pembiasaan perilaku positif menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan dan mencerahkan. Komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui kedisiplinan, penguatan...
Baru 3 Tahun, Abqory Berhasil Selesaikan Lintasan Edu Fun Run UMS
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Seorang pelari berusia tiga tahun mencuri perhatian dalam gelaran Edu Fun Run Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Minggu...
Kritik Tajam dari Boyolali: Agama Cuma Jadi Identitas, Tidak Ada Politik Nilai dalam Bernegara
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Keprihatinan terhadap kondisi demokrasi, politik hukum, ekonomi hingga kesejahteraan masyarakat mendorong sejumlah elemen masyarakat di Boyolali menggelar diskusi perdana bernama Forum Harapan. Diskusi mengusung...
Pelari dari Jawa Barat Tempuh 5K, Edu Fun Run FKIP UMS Dinilai Kondusif
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyemarakkan Hari Jadi ke-68 melalui Edu Fun Run FKIP UMS 2026 bertema “Move for...
Pelajar Didorong Jadi Agen Pengawasan Kawasan Tanpa Rokok
SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Abi Umaroh, menggagas Youth Clean Air Movement for Tobacco Control (YCAM-TC) 2026 untuk melibatkan pelajar...
Ketika Usia Bertambah, Jangan Biarkan Makna Hidup Berkurang
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti berkarya dan mengabdi. Masa pensiun justru dapat menjadi fase baru untuk memperbanyak syukur, menjaga kesehatan, memperluas kebermanfaatan,...
Silaturahmi Pensiunan Muhammadiyah Solo, Rawat Persaudaraan dan Semangat Pengabdian
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Puluhan purnatugas pendidik dan tenaga kependidikan Perguruan Muhammadiyah Kota Surakarta berkumpul dalam agenda Silaturahmi dan Pengajian Pensiunan Perguruan Muhammadiyah Kota Surakarta, Sabtu (29/8/2026)....
BikersMu Jepara Konsolidasi, Dorong Komunitas Bikers Berkontribusi bagi Warga
JEPARA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Sebanyak 33 peserta mengikuti silaturahmi dan konsolidasi awal untuk menyongsong pembentukan kepengurusan BikersMu Chapter Jepara. Kegiatan tersebut berlangsung di Pantai Bandengan, Tirta...
Ironi Solo sebagai Kota Cerdas Pangan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pemerintah Kota (Pemkot) Solo telah mendeklarasikan Kota Solo sebagai Kota Cerdas Pangan sejak 2020. Pemkot Solo telah menandatangani Pakta Milan (Milan Urban Food Policy...
Pakar UMS: Desil Tak Bisa Jadi Satu-satunya Dasar Batasi Pertalite
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Wacana pembatasan pembelian Pertalite berdasarkan desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) mendapat perhatian dari pakar Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan...
Touring ke Pacitan, Bikersmu Solo Perkuat Ukhuwah dan Nilai Keagamaan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Komunitas Bikersmu Solo menggelar touring sekaligus camping ke Pacitan selama dua hari satu malam, 15-16 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 peserta...






