Seiring berjalannya waktu, tubuh manusia akan mengalami penurunan fungsi tubuh terutama di atas umur 40 tahun. Pada umur tersebut, tubuh manusia akan mengalami proses degeneratif dan akan membuat banyak penyakit akan muncul. Salah satu tanda yang muncul adalah tingginya kolesterol jahat di dalam tubuh manusia yang bisa menyebabkan komplikasi penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung. Salah satu kisah nyata yang terjadi, seorang pasien yang selama ini tidak menyadari terkena serangan jantung karena kadar kolesterol yang tinggi pada tubuhnya.
Hari itu, pasien pria 47 tahun, datang ke layanan kesehatan setelah merasakan nyeri dada dan kelelahan yang tidak biasa. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar kolesterol total di atas 280 mg/dL. Ia terkejut karena merasa tubuhnya baik-baik saja. Ia tidak tahu bahwa selama ini pembuluh darahnya diam – diam menyempit, membawa ancaman stroke dan serangan jantung yang bisa datang kapan saja. Inilah yang disebut “silent killer”: penyakit yang mematikan namun sering tidak disadari gejalanya.
Kolesterol tinggi masih dianggap remeh oleh sebagian besar anggota masyarakat di Indonesia. Banyak yang mengira bahwa hanya orang tua atau mereka yang obesitas saja yang perlu khawatir. Padahal, kolesterol tinggi bisa menyerang siapa saja, termasuk pada usia produktif. Sayangnya, tanpa gejala nyata, penyakit ini kerap tidak terdeteksi hingga muncul komplikasi yang sangat serius.
Gaya Hidup Pemicu Masalah
Pola makan tinggi lemak jenuh dan trans, minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan stres berkepanjangan menjadi faktor utama naiknya kadar kolesterol jahat pada tubuh manusia. Ironisnya, makanan tinggi kolesterol seperti gorengan, daging olahan, dan makanan cepat saji justru semakin mudah ditemukan dan digemari oleh masyarakat perkotaan maupun perdesaan. Rasa yang enak gurih serta harganya yang murah menjadi makanan gorengan menjadi menu wajib di negara Indonesia.
Lebih parah lagi, kesadaran untuk melakukan cek kesehatan secara rutin masih rendah. Banyak orang baru mengetahui kadar kolesterolnya setelah terkena stroke ringan, serangan jantung, atau merasa sangat lelah. Padahal, dengan pemeriksaan profil lipid secara berkala, risiko ini bisa dicegah lebih awal sebelum menjurus ke komplikasi penyakit.
Dampaknya Tidak Main-Main
Kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah akan membentuk plak yang menyumbat aliran darah ke jantung dan otak. Jika dibiarkan, maka kondisi ini dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, stroke, hingga kematian mendadak. Berdasarkan data WHO tahun 2023, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia, dan kolesterol tinggi menjadi salah satu faktor risiko utamanya.
Di Indonesia, berdasarkan penelitian terbaru Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) tahun 2023, menunjukkan bahwa sekitar 28% penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami kolesterol tinggi, namun hanya sebagian kecil yang mendapatkan penanganan memadai. Artinya, jutaan orang hidup dengan bom waktu dalam tubuh mereka tanpa menyadarinya.
Perlu Gerakan Deteksi dan Edukasi Dini
Menghadapi ancaman ini, pemerintah, fasilitas kesehatan, dan institusi pendidikan harus bersinergi mengedukasi masyarakat tentang bahaya kolesterol tinggi. Kampanye kesehatan tidak cukup hanya dilakukan saat Hari Jantung Sedunia atau Hari Kesehatan Nasional. Perlu gerakan masif dan berkelanjutan dari perkotaan hingga di pelosok predesaan.
Layanan skrining kolesterol gratis di Puskesmas, pelatihan kader kesehatan, hingga integrasi edukasi gizi seimbang di sekolah dan pesantren merupakan langkah yang layak diperluas. Termasuk juga pemanfaatan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan informasi yang benar, ringan, dan mudah dipahami.
Langkah awal bisa dimulai dari rumah, antara lain: membatasi konsumsi makanan berlemak, memperbanyak sayur dan buah, berolahraga rutin, dan berhenti merokok. Selanjutnya, jangan menunggu sakit untuk sadar baru sibuk mencari fasilitas rumah sakit. Pemeriksaan kolesterol setahun sekali bisa menjadi investasi untuk masa depan untuk tubuh menjadi sehat.
Kolesterol tinggi memang tidak terlihat, namun diam-diam, ia bisa merenggut nyawa. Kini saatnya masyarakat Indonesia tidak lagi abai. Karena mencegah selalu lebih murah dan lebih mudah daripada mengobati. Kita mulai dari langkah kecil untuk memutus rantai setan kolesterol tersebut dengan memulai gerakan hidup sehat (germas).
Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)
RS PKU Muhammadiyah Surakarta Semarakkan Ramadan lewat Kegiatan Sosial dan Keagamaan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta menyemarakkan bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan direksi, civitas rumah sakit, serta masyarakat sekitar. Salah...
UMS Lantik 30 Dokter Baru, Siap Layani Pasien dengan Senyum dan Sabar
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Program Profesi Dokter (PPD) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar upacara pelantikan dan pengambilan sumpah profesi dokter ke-57, Rabu (4/3/2026), di Hotel...
Menyibak Tren Olahraga, Antara FOMO dan Investasi Kesehatan Jangka Panjang
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Fenomena olahraga yang viral di media sosial kian marak di kalangan generasi muda. Mulai dari gym, fun run, thrill run, hingga olahraga paddle, linimasa...
Padukan Sains dan Spiritualitas, FK UMS Cetak Dokter Profesional dan Berintegritas
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menjadi dokter bukan sekadar mengenakan jas putih, tetapi tentang kesiapan ilmu, mental, dan integritas. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menunjukkan bagaimana proses...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Dosen Spesialis Medikal Bedah Unimus Luncurkan Buku Ajar untuk Kendalikan Kekambuhan Hipertensi
SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Inovasi intervensi non-farmakologis kembali lahir dari dunia akademis. Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Prima Trisna Aji, resmi meluncurkan buku ajar berjudul...
Virus Nipah Viral, Perlukah Masyarakat Indonesia Khawatir?
Belakangan ini, virus Nipah kembali menjadi perbincangan publik. Berbagai pemberitaan dan unggahan di media sosial menyebut virus ini sebagai penyakit berbahaya dengan tingkat kematian tinggi....
Ketika Influencer Menjadi Dokter Dadakan
Di beranda ponsel kita, influencer dengan kulit bening dan badan ideal menawarkan “jalan pintas” seperti: kapsul penurun berat badan yang “aman karena herbal”, gummy peningkat...
RS PKU Muhammadiyah Surakarta Raih Dua Penghargaan dari BPJS Kesehatan Cabang Surakarta
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-RS PKU Muhammadiyah Surakarta kembali meraih prestasi dengan memperoleh dua penghargaan dari BPJS Kesehatan Cabang Surakarta dalam Pertemuan Penguatan Komitmen Mutu Layanan dan Kerja...
Hari Kusta Sedunia, FK UMS Ajak Warga Ubah Stigma Menuju Empati
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi dengan kasus penyakit kusta dengan total 12.798 kasus baru terutama pada daerah-daerah tropis. Menjawab hal tersebut, Fakultas Kedokteran (FK)...
Dinkes Solo-SD Muhammadiyah 20 Sidorejo Sinergi Bangun Fondasi Generasi Emas 2045
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Kesehatan merupakan aset paling berharga bagi sebuah bangsa, terutama dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045. Menyadari hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solo...
UMS Perkuat Panularan Peduli TBC dan Berketahanan Iklim dengan Energi Bersih
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan terobosan baru dalam upaya pencegahan Tuberkulosis (TBC) dan adaptasi iklim dengan memasang sistem panel surya di Rusunawa I Begalon...






