Setiap kali tubuh terasa meriang, pegal, atau “masuk angin”, banyak masyarakat Indonesia langsung mengambil langkah yang sudah diwariskan secara turun-temurun yaitu kerokan. Sebuah koin, minyak kayu putih, dan dengan digarukkan ke punggung menjadi kombinasi yang diyakini mampu mengeluarkan angin dari dalam tubuh. Semakin merah hasil kerokan, maka dianggap sebagai indikator yang menunjukkan semakin parah pada Tingkat amsuk angin tersebut. Namun, apakah benar seperti itu?
Secara medis, warna merah atau kebiruan pada bekas kerokan bukanlah indikator tingkat keparahan masuk angin, melainkan reaksi akibat pecahnya pembuluh darah kapiler kecil di bawah permukaan kulit. Fenomena ini dikenal sebagai subcutaneous capillary rupture, yaitu perdarahan mikro akibat tekanan dan gesekan kuat saat proses kerokan. Maka, semakin keras gesekan dan semakin sensitif kulit seseorang, akan makin merah hasil kerokannya.
Namun begitu, mengapa tubuh sering terasa lebih ringan setelah dikerok? Penjelasannya bisa ditelusuri melalui efek relaksasi dan stimulasi saraf. Saat kulit dirangsang oleh tekanan kerokan, tubuh melepaskan hormon yang bernama endorfin, zat kimia alami yang berfungsi meredakan nyeri dan menciptakan perasaan nyaman. Sensasi hangat dan ringan tersebut bukan karena “angin keluar”, melainkan karena respon tubuh terhadap stimulasi tersebut.
Kisah nyata datang dari seorang ibu dari daerah Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah yang mengerok anaknya saat mengalami demam. Alih-alih membaik, beberapa hari kemudian muncul ruam, demam lebih tinggi, dan anak akhirnya harus dirawat karena infeksi virus. Dokter menyatakan bahwa kerokan tidak disarankan untuk anak-anak yang sedang mengalami infeksi aktif, karena bisa menambah beban tubuh dan meningkatkan risiko komplikasi.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan saat kita melihat tren kerokan ekstrem di media sosial. Beredar video viral tentang kerokan menggunakan benda tajam, logam berat, bahkan tutup botol, dikombinasikan dengan balsam panas secara berlebihan. Sebagian mengklaim bahwa hasil yang makin merah menandakan keberhasilan terapi. Padahal, praktik semacam itu bisa memicu infeksi kulit, luka terbuka, atau bahkan keracunan kontak bagi kulit sensitif.
Dalam perspektif ilmiah, penelitian terbaru dari Journal of Traditional and Complementary Medicine (2022) menyatakan bahwa teknik kerokan (gua sha) dapat meningkatkan mikrosirkulasi dan memperbaiki imunitas tubuh secara sementara, khususnya pada individu sehat. Namun, teknik ini tidak disarankan pada pasien dengan gangguan pembekuan darah, demam tinggi, atau anak kecil, karena risikonya bisa lebih besar daripada manfaatnya.
Penelitian terbaru yang mendukung lainnya juga disampaikan dalam American Journal of Chinese Medicine, yang menegaskan bahwa kerokan hanyalah pendekatan komplementer, bukan pengganti diagnosis dan pengobatan medis. Efek nyaman bersifat jangka pendek, dan kerokan bukanlah solusi untuk penyakit infeksi seperti influenza, demam berdarah, atau bahkan Covid-19 yang sempat marak beberapa tahun lalu.
Bagaimana Menyikapi Fenomena Kerokan?
Pertama, kerokan boleh dilakukan secara bijak, terbatas pada kondisi kelelahan otot, pegal, atau tidak enak badan ringan bukan untuk mengatasi infeksi atau demam tinggi. Kedua, hindari kerokan pada anak-anak, lansia, atau orang dengan penyakit kronis, karena kulit mereka lebih rentan terhadap trauma. Ketiga, gunakan alat yang bersih, hindari bahan tajam atau logam kasar yang bisa melukai.
Langkah edukatif perlu digalakkan melalui media, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Masyarakat perlu diedukasi bahwa kerokan bukan obat segala penyakit. Jika gejala berat seperti demam tinggi, batuk parah, nyeri dada, atau sesak napas muncul kerokan sebaiknya dihentikan, dan pasien segera dibawa ke layanan kesehatan. Kerokan adalah bagian dari budaya kesehatan masyarakat Indonesia yang kaya. Namun, di era ilmu pengetahuan dan teknologi medis yang berkembang pesat, kita perlu bijak dalam menerapkan tradisi. Jangan sampai warisan budaya justru menjadi bumerang karena salah kaprah dan kurangnya pemahaman medis.
Kesehatan merupakan hak setiap warga negara Indonesia. Maka dari itu, menjaga tradisi dengan tetap berpijak pada ilmu pengetahuan adalah cara terbaik agar budaya dan keselamatan bisa berjalan beriringan. Akan tetapi perlu diperhatikan dari segi kesehatan supaya kerokan yang diharapkan bisa menjadi penyembuh keluhan kesehatan, malah akan membuat penyakit semakin parah.
Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)
RS PKU Muhammadiyah Surakarta Semarakkan Ramadan lewat Kegiatan Sosial dan Keagamaan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta menyemarakkan bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan direksi, civitas rumah sakit, serta masyarakat sekitar. Salah...
UMS Lantik 30 Dokter Baru, Siap Layani Pasien dengan Senyum dan Sabar
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Program Profesi Dokter (PPD) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar upacara pelantikan dan pengambilan sumpah profesi dokter ke-57, Rabu (4/3/2026), di Hotel...
Menyibak Tren Olahraga, Antara FOMO dan Investasi Kesehatan Jangka Panjang
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Fenomena olahraga yang viral di media sosial kian marak di kalangan generasi muda. Mulai dari gym, fun run, thrill run, hingga olahraga paddle, linimasa...
Padukan Sains dan Spiritualitas, FK UMS Cetak Dokter Profesional dan Berintegritas
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menjadi dokter bukan sekadar mengenakan jas putih, tetapi tentang kesiapan ilmu, mental, dan integritas. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menunjukkan bagaimana proses...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Dosen Spesialis Medikal Bedah Unimus Luncurkan Buku Ajar untuk Kendalikan Kekambuhan Hipertensi
SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Inovasi intervensi non-farmakologis kembali lahir dari dunia akademis. Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Prima Trisna Aji, resmi meluncurkan buku ajar berjudul...
Virus Nipah Viral, Perlukah Masyarakat Indonesia Khawatir?
Belakangan ini, virus Nipah kembali menjadi perbincangan publik. Berbagai pemberitaan dan unggahan di media sosial menyebut virus ini sebagai penyakit berbahaya dengan tingkat kematian tinggi....
Ketika Influencer Menjadi Dokter Dadakan
Di beranda ponsel kita, influencer dengan kulit bening dan badan ideal menawarkan “jalan pintas” seperti: kapsul penurun berat badan yang “aman karena herbal”, gummy peningkat...
RS PKU Muhammadiyah Surakarta Raih Dua Penghargaan dari BPJS Kesehatan Cabang Surakarta
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-RS PKU Muhammadiyah Surakarta kembali meraih prestasi dengan memperoleh dua penghargaan dari BPJS Kesehatan Cabang Surakarta dalam Pertemuan Penguatan Komitmen Mutu Layanan dan Kerja...
Hari Kusta Sedunia, FK UMS Ajak Warga Ubah Stigma Menuju Empati
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi dengan kasus penyakit kusta dengan total 12.798 kasus baru terutama pada daerah-daerah tropis. Menjawab hal tersebut, Fakultas Kedokteran (FK)...
Dinkes Solo-SD Muhammadiyah 20 Sidorejo Sinergi Bangun Fondasi Generasi Emas 2045
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Kesehatan merupakan aset paling berharga bagi sebuah bangsa, terutama dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045. Menyadari hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solo...
UMS Perkuat Panularan Peduli TBC dan Berketahanan Iklim dengan Energi Bersih
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan terobosan baru dalam upaya pencegahan Tuberkulosis (TBC) dan adaptasi iklim dengan memasang sistem panel surya di Rusunawa I Begalon...






