Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kesehatan

Makin Merah Kerokan, Makin Parah Masuk Angin? Antara Mitos, Fakta, dan Bahaya Tersembunyi

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Rabu, 23 Juli 2025 20:22 WIB
Makin Merah Kerokan, Makin Parah Masuk Angin? Antara Mitos, Fakta, dan Bahaya Tersembunyi
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Setiap kali tubuh terasa meriang, pegal, atau “masuk angin”, banyak masyarakat Indonesia langsung mengambil langkah yang sudah diwariskan secara turun-temurun yaitu kerokan. Sebuah koin, minyak kayu putih, dan dengan digarukkan ke punggung menjadi kombinasi yang diyakini mampu mengeluarkan angin dari dalam tubuh. Semakin merah hasil kerokan, maka dianggap sebagai indikator yang menunjukkan semakin parah pada Tingkat amsuk angin tersebut. Namun, apakah benar seperti itu?

Secara medis, warna merah atau kebiruan pada bekas kerokan bukanlah indikator tingkat keparahan masuk angin, melainkan reaksi akibat pecahnya pembuluh darah kapiler kecil di bawah permukaan kulit. Fenomena ini dikenal sebagai subcutaneous capillary rupture, yaitu perdarahan mikro akibat tekanan dan gesekan kuat saat proses kerokan. Maka, semakin keras gesekan dan semakin sensitif kulit seseorang, akan makin merah hasil kerokannya.

Namun begitu, mengapa tubuh sering terasa lebih ringan setelah dikerok? Penjelasannya bisa ditelusuri melalui efek relaksasi dan stimulasi saraf. Saat kulit dirangsang oleh tekanan kerokan, tubuh melepaskan hormon yang bernama endorfin, zat kimia alami yang berfungsi meredakan nyeri dan menciptakan perasaan nyaman. Sensasi hangat dan ringan tersebut bukan karena “angin keluar”, melainkan karena respon tubuh terhadap stimulasi tersebut.

Kisah nyata datang dari seorang ibu dari daerah Jumapolo, Karanganyar, Jawa Tengah yang mengerok anaknya saat mengalami demam. Alih-alih membaik, beberapa hari kemudian muncul ruam, demam lebih tinggi, dan anak akhirnya harus dirawat karena infeksi virus. Dokter menyatakan bahwa kerokan tidak disarankan untuk anak-anak yang sedang mengalami infeksi aktif, karena bisa menambah beban tubuh dan meningkatkan risiko komplikasi.

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan saat kita melihat tren kerokan ekstrem di media sosial. Beredar video viral tentang kerokan menggunakan benda tajam, logam berat, bahkan tutup botol, dikombinasikan dengan balsam panas secara berlebihan. Sebagian mengklaim bahwa hasil yang makin merah menandakan keberhasilan terapi. Padahal, praktik semacam itu bisa memicu infeksi kulit, luka terbuka, atau bahkan keracunan kontak bagi kulit sensitif.

Dalam perspektif ilmiah, penelitian terbaru dari Journal of Traditional and Complementary Medicine (2022) menyatakan bahwa teknik kerokan (gua sha) dapat meningkatkan mikrosirkulasi dan memperbaiki imunitas tubuh secara sementara, khususnya pada individu sehat. Namun, teknik ini tidak disarankan pada pasien dengan gangguan pembekuan darah, demam tinggi, atau anak kecil, karena risikonya bisa lebih besar daripada manfaatnya.

Penelitian terbaru yang mendukung lainnya juga disampaikan dalam American Journal of Chinese Medicine, yang menegaskan bahwa kerokan hanyalah pendekatan komplementer, bukan pengganti diagnosis dan pengobatan medis. Efek nyaman bersifat jangka pendek, dan kerokan bukanlah solusi untuk penyakit infeksi seperti influenza, demam berdarah, atau bahkan Covid-19 yang sempat marak beberapa tahun lalu.

Bagaimana Menyikapi Fenomena Kerokan?

Pertama, kerokan boleh dilakukan secara bijak, terbatas pada kondisi kelelahan otot, pegal, atau tidak enak badan ringan bukan untuk mengatasi infeksi atau demam tinggi. Kedua, hindari kerokan pada anak-anak, lansia, atau orang dengan penyakit kronis, karena kulit mereka lebih rentan terhadap trauma. Ketiga, gunakan alat yang bersih, hindari bahan tajam atau logam kasar yang bisa melukai.

Langkah edukatif perlu digalakkan melalui media, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Masyarakat perlu diedukasi bahwa kerokan bukan obat segala penyakit. Jika gejala berat seperti demam tinggi, batuk parah, nyeri dada, atau sesak napas muncul kerokan sebaiknya dihentikan, dan pasien segera dibawa ke layanan kesehatan. Kerokan adalah bagian dari budaya kesehatan masyarakat Indonesia yang kaya. Namun,  di era ilmu pengetahuan dan teknologi medis yang berkembang pesat, kita perlu bijak dalam menerapkan tradisi. Jangan sampai warisan budaya justru menjadi bumerang karena salah kaprah dan kurangnya pemahaman medis.

Kesehatan merupakan hak setiap warga negara Indonesia. Maka dari itu, menjaga tradisi dengan tetap berpijak pada ilmu pengetahuan adalah cara terbaik agar budaya dan keselamatan bisa berjalan beriringan. Akan tetapi perlu diperhatikan dari segi kesehatan supaya kerokan yang diharapkan bisa menjadi penyembuh keluhan kesehatan, malah akan membuat penyakit semakin parah.

Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Tiga Kali Beruntun Raih Platinum, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Jadi Role Model P2HIV/AIDS Nasional

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — RS PKU Muhammadiyah Surakarta meraih penghargaan kategori Platinum dari Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia dalam Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS (P2HIV/AIDS) di tempat...

Teliti Risiko Jatuh Pasien Diabetes, Dosen UMS Raih Penghargaan di IPTRS Bangkok

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dosen Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Rosella Komala Sari, meraih penghargaan Outstanding Oral Presentation dalam International Physiotherapy Research Symposium...

Startup Karya Alumni UMS Ini Ingin Ubah Cara Ahli Gizi Indonesia Bekerja

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – NutriAI Pro, platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk profesi ahli gizi, resmi diluncurkan melalui webinar bertajuk “Resolusi Gizi Berbasis...

MDMC dan Aisyiyah Joyotakan Bersinergi, Bawa Layanan Kesehatan ke Permukiman Pascabanjir

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Sepekan setelah banjir melanda wilayah Solo dan sekitarnya pada 15/4/2026, sejumlah lembaga Muhammadiyah bersinergi memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak. Pemeriksaan kesehatan...

Hari Kartini, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Edukasi Ibu soal Perawatan Bayi

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – RS PKU Muhammadiyah Surakarta menggelar edukasi kesehatan interaktif “Smart Mom: Panduan Aman Perawatan Bayi 0–1 Tahun” bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Sabtu...

Hangatnya Syawalan Istri Pegawai RS PKU Muhammadiyah Surakarta

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana hangat dan penuh keakraban terasa di Aula RS PKU Muhammadiyah Surakarta pada Selasa, (14/4/2026). Dalam momentum Syawal, sebanyak 32 istri dokter dan pejabat...

RS PKU Muhammadiyah Surakarta Gelar Sosialisasi Anti Fraud Pelayanan Kesehatan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan BPJS Kesehatan Cabang Surakarta menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Anti Fraud dalam Pelayanan Kesehatan,...

Komunitas Grup Sehat dan Semangat RS PKU Muhammadiyah Surakarta Rayakan HUT Kelima

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Komunitas Grup Sehat dan Semangat (GSS) RS PKU Muhammadiyah Surakarta menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal serta...

Lewat Workshop, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Tingkatkan Mutu dan Keselamatan Pasien

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta menyelenggarakan Workshop Implementasi Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), Rabu–Kamis, (1-2/4/2026) di Aula RS. Kegiatan ini dibuka Direktur RS PKU...

RS PKU Muhammadiyah Surakarta Semarakkan Ramadan lewat Kegiatan Sosial dan Keagamaan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta menyemarakkan bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan direksi, civitas rumah sakit, serta masyarakat sekitar. Salah...

UMS Lantik 30 Dokter Baru, Siap Layani Pasien dengan Senyum dan Sabar

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Program Profesi Dokter (PPD) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar upacara pelantikan dan pengambilan sumpah profesi dokter ke-57, Rabu (4/3/2026), di Hotel...

Menyibak Tren Olahraga, Antara FOMO dan Investasi Kesehatan Jangka Panjang

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Fenomena olahraga yang viral di media sosial kian marak di kalangan generasi muda. Mulai dari gym, fun run, thrill run, hingga olahraga paddle, linimasa...