Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

Pakar Hukum UMS: Efisiensi Anggaran Bikin Hemat atau Malah Merugikan Masyarakat?

Fika Annisa S., Editor: Sholahuddin
Sabtu, 22 Februari 2025 11:47 WIB
Pakar Hukum UMS: Efisiensi Anggaran Bikin Hemat atau Malah Merugikan Masyarakat?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prof. Aidul Fitriciada Azhari saat menyampaikan pendapat soal kebijakan efisiensi anggaran negara. (Humas).

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Memasuki 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kebijakan efisiensi anggaran menjadi sorotan tajam di tengah dinamika politik dan ekonomi nasional di Indonesia. Salah satu kebijakan utama yang diterapkan adalah efisiensi dalam bidang anggaran negara yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025.

Efisiensi anggaran ini bertujuan meningkatkan keefektivan pengelolaan keuangan negara. Namun, kebijakan ini menuai kritik karena dianggap kontradiktif dan berpotensi berdampak negatif bagi pelayanan publik.  Menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintahan saat ini memiliki sejumlah pertentangan.

“Di satu sisi, niatnya baik untuk mengurangi pemborosan. Namun, di sisi lain, jumlah kabinet yang sangat besar justru menunjukkan ketidakefisienan. Undang-Undang Kementerian Negara memang mengizinkan hingga 46 kementerian, tetapi jumlah menteri dan pejabat setingkat menteri saat ini melebihi 100. Jelas berlawanan dengan prinsip efisiensi itu sendiri,” jelasnya, Jumat (21/2/2025).  Selain itu, kebijakan efisiensi juga berdampak pada sektor pelayanan publik yang vital, seperti pendidikan dan kesehatan. Pemerintah diketahui memangkas anggaran dua sektor ini secara signifikan sehingga mengundang reaksi keras masyarakat, terutama kalangan mahasiswa.

“Di dalam Undang-Undang Dasar jelas disebutkan bahwa anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN atau APBD. Pemotongan ini bukan hanya bertentangan dengan konstitusi, tetapi juga dengan tujuan negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan umum,” tambahnya.  Pemerintah beralasan bahwa efisiensi anggaran dilakukan untuk mengalokasikan dana ke proyek-proyek strategis, salah satunya pendirian Danantara, sebuah holding company untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun, Guru Besar UMS itu mengingatkan bahwa model seperti ini pernah bermasalah di negara lain, seperti skandal 1 Malaysia Development Berhad (1MDB) di Malaysia.

“Pertanyaannya, bagaimana independensi dan efektivitas Danantara ini? Apakah akan benar-benar memperkuat BUMN, atau justru membuka celah baru bagi korupsi di lingkungan politik yang belum bersih?” ungkapnya.  Selain dampak terhadap pendidikan dan kesehatan, kebijakan efisiensi juga menyebabkan pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor, terutama tenaga honorer dan pekerja di industri yang bergantung pada anggaran negara.  “Banyak hotel dan sektor jasa lainnya yang terdampak karena pemangkasan perjalanan dinas dan proyek pemerintah. Ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di daerah yang sangat bergantung pada dana APBN dan APBD,” katanya.

Memunculkan Pertanyaan Publik

Di sisi lain, alokasi anggaran untuk sektor pertahanan, kepolisian, dan intelijen tidak ada pemotongan yang signifikan. Hal ini memunculkan pertanyaan publik mengenai prioritas pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara.  “Jika efisiensi benar-benar diterapkan, seharusnya dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada sektor yang langsung berdampak pada masyarakat,” tegasnya.  Tidak hanya itu, lanjutnya, kondisi ini turut menuai kritik dari mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang diwujudkan dalam gerakan demonstrasi dengan tagar #IndonesiaGelap. Menurutnya, pemilihan kata tersebut mencerminkan kekhawatiran mahasiswa terhadap masa depan yang suram.

“Ketika pendidikan dan kesehatan tidak terjamin, ekonomi melemah, serta sistem politik masih korup, mereka merasa bahwa masa depan mereka tidak jelas. Ini adalah sinyal kuat bagi pemerintah untuk lebih bijak dalam menjalankan kebijakan efisiensi,” tekannya.  Dengan semakin meningkatnya kritik terhadap kebijakan ini, pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi konkret yang tidak hanya berbasis efisiensi angka, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Berita Terbaru

Campus Visit MA Al Karim, FAI UMS Tekankan Peran Santri

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menerima kunjungan akademik dari Madrasah Aliyah (MA) Al Karim, Kamis (1/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang...

UMS Jajaki Kolaborasi LinkedIn untuk Petakan Alumni Global

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjajaki kolaborasi dengan LinkedIn untuk memperkuat ekosistem karier, pemetaan alumni, kemitraan industri, dan reputasi internasional. Penjajakan ini diarahkan pada...

UMS Jajaki Kerja Sama ITPC Hamburg, Buka Karier ke Jerman

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjajaki kerja sama dengan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Hamburg untuk membuka peluang mobilitas lulusan tenaga kesehatan ke Jerman....

Profesor UMS Waston Masuk 25 Besar Dunia Bidang Pendidikan Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Waston, tercatat menempati peringkat ke-25 dunia dalam kategori Education and Islamic Studies berdasarkan Top 1000 Scholar...

Pura Mangkunegaran Jadi Ruang Archfest 2026, Arsitek dan Mahasiswa Kolaborasi

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Ikatan Alumni Teknik Arsitektur (IATA), Program Studi S1 Arsitektur, dan Program Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersinergi dalam penyelenggaraan Archfest 2026....

Warga Alasombo Belajar Akses JKN dan Bansos Bersama Kesmas UMS

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa PBL-1 Kelompok 9 Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar sosialisasi dan konsultasi layanan kesehatan serta bantuan sosial bagi...

Alumnus FAI UMS Raih World Rank 4 Education and Islamic Studies

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Konsistensi dalam penelitian dan publikasi mengantarkan alumnus Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mahmudulhassan atau Hasan, meraih World Rank 4 in...

Hadapi Ancaman Siber, UMS Perkuat Sistem Keamanan Informasi

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat tata kelola keamanan informasi melalui penerapan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) atau Information Security Management System (ISMS). Langkah...

Mahasiswa UMS Ciptakan Sabun Telang-Sereh, Berdayakan Warga

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pendidikan Pancasila Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan inovasi sabun cuci piring berbahan bunga telang dan sereh. Inovasi...

IIEF 2026, FAI UMS Kenalkan Pendidikan Islam Berbasis VR

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan layanan konsultasi pendidikan, informasi beasiswa, dan pengalaman teknologi Virtual Reality (VR) dalam International Islamic...

Akreditasi Unggul Perkuat Mutu S3 Pendidikan Bahasa Indonesia UMS

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Doktor (PBIPD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih Akreditasi Unggul dari Lembaga...

Hari Kesaktian Pancasila: Memahami Sejarah Pancasila dan Identitas Kebangsaan Indonesia

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Masih dalam momentum Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober, selama ini lekat dengan narasi tentang Pancasila, peristiwa 1965, serta upaya mempertahankan ideologi negara....