MENDIGITALISASI EKOSISTEM ZISKA DI LAZISMU

Di tengah arus globalisasi dan perubahan teknologi yang begitu pesat yang terjadi pada era post modern kita hari ini. Sesungguhnya ada anomali yang sangat menguntungkan bagi lembaga zakat di Indonesia berkaitan dengan perkembangan teknologi. Jendela dunia berbagi yang dikampanyekan oleh Lazismu, sebagai lembaga zakat nasional yang ada di Persyarikatan Muhammadiyah mendorong untuk lebih peka memanfaatkan arus besar tersebut untuk berinovasi dan mengembangkan layanan muzaki-nya (pembayaran ZISKA) dengan digitalisasi.

Meningkatknya kelompok kelas menengah muslim di Indonesia, sejatinya memicu semangat dari para amil Lazismu untuk semakin bergairah meningkatkan kemampuan mengkampanyekan dan menghimpun dana dari mereka untuk ditasarufkan pada progam-progam pemeberdayaan agar mereka aktif terlibat untuk berdonasi. Kelompok kelas muslim menengah saat ini tercatat memiliki potensi dana zakat, infaq, dan sodaqoh yang sangat besar. Sekjen Bimas Islam Kemenag RI Tarmizi Tohor pernah menyebutkan, berdasarkan penelitian data terdahulu potensi zakat nasional mencapai Rp217 trilliun, namun yang baru terkumpul hanya 0,2% atau Rp6 triliiun per tahun.

Belum optimalnya peghimpunan dana ZISKA yang bisa dihimpun oleh lembaga zakat seperti Lazismu menjadikan seluruh stakeholder-nya untuk berbenah. Salah satu langkah nyata yang dilakukan oleh Lazismu dalam meningkatkan jumlah penghimpunan  adalah dengan mempermudah pembayaran zakat. Selain sudah menggunakan layanan transfer melalui rekening bank syariah, layanan jemput donasi bagi mereka yang tidak ada waktu untuk pergi ke bank atau ke kantor Lazismu. Kini pembayaran ZISKA semakin mudah dengan layanan Go-pay.