Tuesday, 18 May 2021
HOTLINE: (0271) 653 025 / 081234 567 890
Adaptasi Eskalasi Kurikulum (Tantangan Bagi Sekolah Muhammadiyah)

Adaptasi Eskalasi Kurikulum (Tantangan Bagi Sekolah Muhammadiyah)

Oleh : Hendro Susilo

(Pendidik di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat)

 

Menarik bagi saya membaca ulasan artikel berjudul “Membangun Birokrasi yang Lincah” di harian Kompas,edisi Selasa (19/1/21) yang di tulis oleh Eko Prasojo. Kita tahu, berbagai perubahan disruptif saat ini tengah terjadi. Eko Prasojo mengungkapkan ada empat (4) perubahan besar yang sedang terjadi. Pertama, krisis pandemi Covid-19, kedua pesatnya digitalisasi dan konvergensi teknologi dalam berbagai bidang kehidupan, ketiga pergeseran generasi tua ke generasi milenial (gen Y dan gen Z), keempat menguatnya fleksibilitas dan mobilitas masyarakat secara virtual.

Dalam artikel tersebut, Eko Prasojo menyoroti  meningkatnya fenomena fleksibilitas global. Hal ini dibuktikan dengan hasil survey Robert Walters di tahun 2019 yang menunjukkan perubahan fundamental profil pasar tenaga kerja. Sebanyak 81% para profesional menyukai untuk memulai dan mengakhiri pekerjaan secara fleksibel, sebanyak 52% profesionalitas setuju bahwa fleksibiltas akan meningkatkan komitmen  dalam pekerjaan dan sebanyak 40% pencari kerja akan menolak menerima pekerjaan jika tidak memenuhi kebutuhan bekerja secara fleksibel.

Terkait generasi milenial, terdapat studi dari Harvard Business Review di tahun 2019, bahwa motivasi bekerja kaum milenial mengalami perubahan yang mendasar. Dimana, fleksibilitas waktu dan tempat bekerja menempati urutan pertama (68%) diikuti untuk akses mengikuti pelatihan dan pengembangan (48%) dan hanya (38%) yang memiliki motivasi gaji dan benefit serta (35%)  yang menginginkan kesempatan interpreuneurship dengan inovasi.

Menguatnya fenomena fleksibilitas, dibaca dan dimaknai oleh Eko Prasojo agar sektor pelayanan publik melakukan transformasi birokrasi. Dimana, DNA budaya dan struktur dasar birokrasi di Indonesia sangat kaku, tradisional birokratis, dan rule based harus segera berbenah agar memiliki tatanan baru birokrasi yang selalu menyesuaikan dengan berbagai perubahan lingkungan strategis, perubahan harapan masyarakat, dan kebutuhan pasar yang sehat dan kuat.

Lantas, apa kaitan artikel Eko Prasojo tersebut dengan judul artikel yang saya tulis diatas? Ketika saya mencermati, timbul pertanyaan dalam benak saya bagaimana halnya dengan bidang pendidikan?, bagaimana sisi pengelolaan birokrasi pendidikan dan pengelolaan lulusan (siswa) yang notabene mereka adalah generasi milenial yang memiliki ciri dan karakteristik tertentu ? Apa yang harus di baca oleh pengelola pendidikan mengenai peningkatan fenomena fleksibilitas dikalangan milenial? Bagaimana strategi antisipasi perubahan besar yang sedang terjadi (disruptif) di berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan di dalamnya ?

Kompleksitas perubahan yang terjadi di dunia pendidikan, memerlukan strategi multidimensi untuk mengurainya. Fokus lembaga (dalam hal ini sekolah), bagaimana membangun relevansi dan menjawab kebutuhan masyarakat. Salah satu usaha untuk me-reform pendidikan menurut Robert Marzano bisa dilakukan melalui desain kurikulum. Maka dari itu, tulisan ini mencoba untuk menelaah strategi desain kurikulum untuk antisipasi perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat.

Strategi adaptasi kurikulum beragam, pengembangan kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa di sekolah tentunya. Beberapa strategi yang dapat dilakukan terhadap pengembangan kurikulum standar/ reguler antara lain duplikasi (meniru atau menggandakan), modifikasi (menambah untuk disesuaikan), substitusi (mengganti), omisi (menghilangkan) dan eskalasi (dinaikkan tingkat kualifikasi). Tujuan dari pengembangan kurikulum ini tentunya untuk menghadirkan kurikulum sekolah yang sesuai dengan karakter siswa, terhindarnya siswa dari munculnya underachievement dan jaminan ketercapaian KD.

Terkait fenomena perubahan yang terjadi (disruptif), sekolah bisa menggunakan salah satu strategi model eskalasi kurikulum. Eskalasi merupakan sebuah proses adaptasi kurikulum dengan memberikan penekanan pada proses pendalaman suatu materi baik secara vertikal maupun secara horizontal. Secara vertikal,berarti materi kurikulum ditambah kompleksitasnya dan tingkat kesukaran dinaikkan.Sedangkan secara horizontal pengalaman belajar yang diperkaya. Bisa juga sekolah melakukan pengayaan (enrichment) sebagai bentuk layanan memperkaya materi melalui kegiatan-kegiatan penelitian atau kegiatan di luar kelas yang bersifat out of box. Tujuan Eskalasi ini agar peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat tertentu dapat berkembang optimal dan sosial psikologisnya berkembang secara natural.

Pengembangan kurikulum ini bisa dilakukan dengan pendekatan rakayasa isi (content design) seperti eskalasi contohnya atau bisa juga dengan pendekatan rakayasa struktur (structure design) seperti sistem kredit /paket. Rekayasa isi bisa dilakukan dengan eskalasi kurikulum agar tuntutan level penguasaan profesional pendidikan bukan hanya mencapai tingkat kompetensi, tetapi bisa mencapai tingkat lebih tinggi dari sekedar kompetensi yakni proficient (cakap) dan expert (ahli).

Dalam hal pengembangan kurikulum, sekolah perlu memperhatikan beberapa prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum antara lain berpusat pada potensi, kebutuhan dan kepentingan siswa, beragam dan terpadu, tanggap terhadap kemajuan dan perubahan ilmu pengetahuan (IPTEK), relevan dengan kebutuhan kehidupan dan menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat.

Dengan beberapa prinsip tersebut, maka sekolah bisa fokus pada pengembangan kurikulum agar memiliki ke-khas-an (diferensiasi kurikulum) dengan fokus tingkat kecepatan belajar, dimana tingkat pengulangan yang minimal, penguasaan kurikulum nasional dalam waktu singkat, materi lebih abstrak serta mendalam, berorientasi pada kebutuhan siswa, belajar berkelanjutan dan mandiri serta mengupayakan ada interaksi siswa dengan pakar di bidang ilmu pengetahuan tertentu.

Dengan adanya perubahan disruptif dan fenomena peningkatan fleksibilitas, sekolah Swasta seperti Sekolah Muhammadiyah harus menyesuaikan diri dan menjawab tantangan perubahan zaman dengan memilih jalan berani melakukan adaptasi kurikulum agar memiliki kurikulum berdiferensiasi yang kelak bisa menjadi keunggulan. Sekolah swasta harus mampu membaca tanda-tanda dan kecenderungan perubahan yang sedang terjadi di masyarakat.

Sangatlah rugi, bila sekolah swasta mengelola kurikulum pendidikan hanya sesuai standar reguler kurikulum nasional. Bila ini terjadi, maka bersiap saja sekolah swasta akan kehilangan “aset” dan kepercayaan masyarakat. Sekolah swasta harus mampu membangun dan menjawab ekspektasi masyarakat terhadap sekolah swasta yang diangap memiliki ke-khusus-an sendiri oleh masyarakat.

Sekolah swasta harus mampu membangun layanan baru yang mendekati need siswa. Sekolah harus melakukan lompatan-lompatan yang cepat dan bergerak secara deret ukur, supaya dapat menciptakan berbagai inovasi dan produktivitas yang lebih baik. Membuka kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan saling berbagi hasil (outcome) dan dampak (impact) pendidikan terhadap masyarakat. Dengan demikian, eksistensi sekolah swasta bisa terjaga, salah satu ikhtiarnya dengan pengembangan kurikulum standar dengan kurikulum yang mengkontekstualisasikan kebutuhan siswa, personalisasi kurikulum ataupun

Mendesain kurikulum khas sesuai tujuan sekolah masing-masing dengan meng-analisis kurikulum yang komprehensif disesuaikan minat siswa.

Ditulis oleh :

INFORMASI TERKAIT

All
/ 7 Mei 2021

Pendidikan Al-Ashr : Platform Pendidikan Berkemajuan

  Oleh : Hendro Susilo*)     MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Setiap bulan Mei tiba, kita temukan banyak flyer pendidikan di grup Sosmed, berita yang memuat pendapat pakar pendidikan , ataupun muncul tulisan-tulisan refleksi...
/ 2 Mei 2021

PERINGATI HARDIKNAS, RUMAH BELAJAR PENA ADAKAN ANANDA MENTARI

Surakarta- Dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional, yang jatuh setiap tanggal 2 Mei,  Rumah Belajar Nasyiatul Aisyiyah bekerja sama dengan Radio Mentari FM dan Lazismu Surakarta mengadakan kegiatan Ananda Mentari,...
/ 25 April 2021

Pendidikan Progresif Berpendekatan Profetik di Sekolah Muhammadiyah

Oleh : Hendro Susilo*)   MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kottabarat bekerjasama dengan SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat mengadakan diskusi hasil riset bertemakan pendidikan progresif dan profetik, Kamis (08/04/2021). Dalam...
/ 22 April 2021

WARUNGMU REBORN, PROGRAM KETAHANAN EKONOMI DI TENGAH PANDEMI

Surakarta- Lazismu Kota Surakarta bersama Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Surakarta melaunching warungmu milik keluarga Bapak Hartono, Ahad (10/04). Warungmu yang berlokasi di Banyuanyar Surakarta tersebut merupakan program produktif bagi keluarga...
/ 8 April 2021

SAMBUT RAMADHAN, LAZISMU PANEN BERSAMA TANI BANGKIT

Surakarta- Panen padi tahun ini dikeluhkan oleh para petani. Hal tersebut dikarenakan harga yang didapatkan sangat rendah, dan pupuk bersubsidi langka. “ adanya pengurangan jatah dari pemerintah, sehingga petani kalang...

Diskusi

Galeri Video

GALERI FOTO