Tuesday, 1 December 2020
HOTLINE: (0271) 653 025 / 081234 567 890
KURIKULUM INTEGRATIF-HOLISTIK (Studi pada Kurikulum ISMUBA SMA/SMK Muhammadiyah)

KURIKULUM INTEGRATIF-HOLISTIK (Studi pada Kurikulum ISMUBA SMA/SMK Muhammadiyah)

Oleh : Hendro Susilo

(Guru SMA Muh PK Kottabarat)

 

Rabu, 28 Oktober 2020, saya mengikuti kegiatan seminar bertema Pendidikan Islam, Demokrasi dan Multikulturalisme yang diadakan oleh sekolah pascasarjana UMS. Saya mencermati beberapa isu terkait Pendidikan Islam yang disampaikan oleh narasumber (Noorhaidi Hasan). Dalam salah satu penyampaian tentang realitas pendidikan Islam, beberapa hal yang saya catat antara lain Pendidikan Islam dinilai masih jauh dari cita-cita dan filosofi dasarnya. Umumnya masih mengembangkan corak pendidikan normatif yang mengandalkan hafalan dan resitasi, kurang berhasil memupuk rasa ingin tahu (budaya ijtihad), dan gagal menciptakan manusia inklusif yang memiliki karakter toleran,pluralis, demokratis, dan multikultural.

Mendengar hal tersebut, saya mencoba mencermati tentang realitas pendidikan islam. Benarkah praktek pendidikan Islam jauh dari cita-cita dan filosofi pendidikan Islam? Untuk menjawabnya sudah tentu perlu riset dan kajian yang mendalam. Kita tidak bisa pula menyamaratakan, ada sebagian lembaga yang berhasil dan ada juga sebagian lembaga yang masih jauh dari praktek pendidikan islam yang baik. Berdasarkan latar belakang tersebut, saya mencoba untuk mendeskripsikan praktek pendidikan Islam di sekolah Muhammadiyah melalui pintu kurikulum ismuba.

Tulisan ini mencoba menelisik terkait kurikulum Ismuba pada SMA/SMK Muhammadiyah. Mengapa kurikulum yang ditelaah? Sebab, dalam kurikulum terdapat aspek filsafat pendidikan islam dan upaya sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Dari pintu kurikulum inilah kita bisa melihat desain pendidikan islam di sebuah lembaga, terutama sekolah Muhammadiyah. Apakah kurikulum yang digunakan dan praktek pengembangannya dalam KBM bisa diterapkan ? inilah yang menjadi tantangan bagi guru-guru di Muhammadiyah untuk melakukan praktik pendidikan Islam yang berkualitas.

Mengambil sumber tulisan Prof. Dr Tobroni di majalah Suara Muhammadiyah (SM 07/99), beliau menuliskan otokritik bahwasannya ruang lingkup materi AIK selama ini berkisar pada al-Qur’an-Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Bahasa Arab dan Kemuhammadiyahan. Materi ini selain memiliki kelebihan, juga memiliki kekurangan. Kelebihannya lebih bersifat akademis, sedangkan kelemahannya kurang dalam memfungsikan agama sebagai landasan moral,motivasional,dan spiritual dalam memecahkan problem kehidupan. Kurikulum AIK sebaiknya mengedepankan aspek humanistik dan integralistik dengan cara mengintegrasikan AIK dengan kehidupan manusia dalam berbagai dimensinya.

Model tawaran humanistik-integratif ini menjadikan pendidikan AIK harus menjadi ruh/spirit dan visi bagi mata pelajaran lain. Pendidikan AIK bukan semata-mata berdiri sendiri secara terpisah sebagai mata pelajaran sendiri. Model humanistik-integratif memerlukan sebuah model pembelajaran, peran guru, peran siswa dan evaluasi pembelajaran.

Model pembelajaran humanistik-integratif cenderung menggunakan model pendidikan yang berpusat pada siswa. Sebaliknya, bila pendidikan AIK yang berisi ilmu-ilmu agama dan berorientasi pada padat isi yang berpusat pada materi dan guru, cenderung  akan menerapkan model pendidikan yang berpusat pada materi dan guru. Kemungkinannya akan bersifat normatif dan doktriner.

Dalam pendidikan yang berpusat pada siswa, peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting dan memiliki peran strategis. Guru perlu menampilkan peran sebagai role model dan pemimpin kelas. Sedangkan peran siswa bukan sebagai peserta didik, melainkan sebagai aktor dan mitra guru di dalam kelas.

Pendapat Prof. Dr Tobroni diatas sebenarnya sudah senafas dengan kurikulum ismuba untuk SMA/SMK yang dikeluarkan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah. Ketika saya membaca buku kurikulum terbitan tahun 2017 dalam hal landasan kurikulum dan standar proses, menghendaki pendekatan integratif-holistik dalam pembelajaran AIK. Pengembangan kurikulum yang dilakukan meliputi konsep dan prinsip pembelajaran,penilaian pendidikan ismuba, standar kompetensi lulusan, standar isi, struktur kurikulum dan beban belajar.

Salah satu visi pendidikan Muhammadiyah adalah berkembangnya fungsi pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah mencakup sekolah, madrasah dan pondok pesantren yang berbasis Al-Islam Kemuhammadiyahan, holistik integratif, bertata kelola baik, serta berdaya saing dan berkeunggulan. Pun, tercatat dalam salah satu misi pendidikan Muhammadiyah adalah menyelenggarakan pendidikan dasar dan menengah yang holistik dan integratif, yakni mengembangkan potensi akal,hati,dan keterampilan yang seimbang.

Menarik perhatian saya, dalam standar proses ismuba di buku kurikulum, ada kalimat “selama ini,proses pendidikan ismuba dilaksanakan secara terpisah dari mata pelajaran maupun program dan kegiatan yang lain, sehingga belum dapat mencapai hasil yang maksimal. Dalam sistem pendidikan integratif-holistik , keberadaan ismuba merupakan mata pelajaran berdiri sendiri, akan tetapi dalam proses pendidikannya terintegrasi dalam mata pelajaran lain dan bahkan keseluruhan program sekolah.”Ini merupakan sebuah refleksi yang mendalam terkait strategi membangun keunggulan ismuba.

Dalam praktek pembelajaran, di buku kurikulum diungkap terkait prinsip-prinsip pembelajaran yang menegakkan lima (5) pilar belajar. Kelima pilar prinsip tersebut antara lain belajar untuk beriman & bertakwa kepada Allah SWT, belajar untuk memahami dan menghayati, belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, serta belajar untuk membangun dan menemukan jati diri,perilaku yang baik melalui proses pembelajaran,pembiasaan, dan keteladanan.

Melihat desain kurikulum ismuba di tingkat SMA/SMK,proses pendidikan yang berpusat pada siswa menjadi arus utama pemikiran dalam kurikulum. Artinya, peran guru sebagai pemimpin pembelajaran yang menghadirkan pembelajaran yang menantang bagi siswa sangat diharapkan. Bila prinsip belajar ini dipahami dan dilaksanakan guru ismuba di sekolah, maka “kritik” pendidikan islam yang masih mengandalkan hafalan,kurang memupuk rasa ingin tahu (kurang menantang), kurang menumbuhkan karakter toleran seperti yang disampaikan Noorhaidi Hasan, InsyaaAllah tidak terjadi d sekolah Muhammadiyah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh : Mohammad Isnan

INFORMASI TERKAIT

All

Diskusi

Galeri Video

GALERI FOTO